​Sebelas Perawat Indonesia Lulus Ujian Keperawatan di Jepang

9 Jul

#Benkyou 20

Bulan april, yang bagi orang Indonesia mungkin tidak terasa bedanya dari bulan-bulan lainnya. Panas dan hujan pun masih senantiasa turun bergantian. Entah itu di musim panas, juga di musim hujan. 

Baiklah, boleh jadi tulisan kali ini akan sedikit berbeda dari biasanya. Karena saya sedang tertarik dengan hasil ujian para perawat indonesia yang ada di Jepang. Judul di atas,adalah judul yang ada di sebuah media online pada tanggal 6 April tahun ini. Tadi saya iseng saja mengetik keyword “ujian keperawatan di Jepang”, eh, ternyata ada salah satu media yang membahasnya.

Namun, data yang di sampaikan hanya terbatas pada perawat Indonesia yang mendaftar sebagai perawat saja. Nah loh, jadi bingung ya?

Begini, pengiriman perawat ke Jepang dalam rangka Program G to G, atau lebih dikenal sebagai Program IJEPA itu memberikan kesempatan kepada perawat Indonesia untuk bisa berkarir di Jepang dengan dua pilihan. Pertama sebagai perawat yang dalam bahasa Jepangnya adalah Kangoshi, serta yang kedua adalah Careworker yang dalam bahasa Jepangnya disebut sebagai Kaigofukushishi.

Terus apa bedanya?

Semisal mendaftar sebagai perawat, tentu saja nanti setelah lolos tes akan ditempatkan di rumah sakit yang ikut kerja sama dalam program ini. Contohnya, tahun ini, dari sekian banyaknya rumah sakit yang ada di Jepang, mulai dari perfektur Okinawa sampai Hokaido, hanya 21 rumah sakit yang membuka lowongan dengan kuota 58 orang saja. Jadi, setiap rumah sakit ada yang hanya menerima 2 orang, 3 orang hingga maksimal 5 orang.

Itupun, sekali lagi, sesuai kebijakan rumah sakit. Walaupun mereka membuka lowongan untuk dua orang, bisa saja mereka hanya mengambil satu orang saja. Begitupun dengan rumah sakit lainnya, semisal ada yang membuka lowongan 5 orang, bisa saja setelah melalui proses matching, pihak rumah sakit memutuskan untuk menerima 3 orang saja. 

Seperti rumah sakit yang akan saya tempati, walaupun mereka membuka lowongan untuk dua orang, namun setelah proses matching pertama dan kedua selesai, diputuskan hanya menerima satu orang saja.  Pengennya sih ada temennya dari Indonesia, hiks.

Namun, ternyata, tidak hanya saya saja. Beberapa teman di berbagai perfektur juga ada yang sendirian. Jadi, walaupun sendirian, sendiriannya rame-rame. Hanya berbeda tempat saja.  Haha, saya jadi bingung maksudnya.

Lalu tentang Careworker atau kalau dalam bahasa orang Indonesia adalah perawat lansia. Boleh jadi, dalam banyak bayangan orang kita, rumah yang menampung lansia atau kalau di kita ada yang sebut panti wreda di Jepang   itu mirip yang ada di Indonesia. Saya memang belum pernah datang langsung kesana, tapi kami sering melihat video-video yang berhubungan dengan hal tersebut. Dan sama sekali berbeda. Secara fasilitas maupun keilmuan!

Kalau di Jepang, perawat lansia, atau kita sebut saja kaigofukushishi, adalah sebuah profesi tersendiri. Ada sekolahnya, ada jenjang karirnya.

Saya pernah mengupload sebuah video di tulisan saya tentang hal tersebut. Silahkan kalau ingin melihatnya. Di tulisan saya yang ke sembilan, masih dengan hastag #Benkyou. Atau silahkan melihatnya di Youtube, banyak video tentang hal tersebut. Namun, keywordnya tentu harus menggunakan bahasa Jepang. Kalau menggunakan bahasa Indonesia, cukup sulit untuk menemukannya.

Dan kebutuhan akan tenaga kerja sebagai Kaigofukushishi itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan Kangoshi. Hal itu tentu sangat berkaitan dengan banyaknya orang yang sudah lanjut usia di Jepang. Tahun ini, yang membuka lowongan untuk kaigofukushishi ada sekitar 121 instistusi penerima dengan kuota sekitar 260 orang lebih. Hampir lima kali lipat dari kangoshi!

Kembali lagi soal ujian keperawatan di Jepang. Jadi, data yang disajikan oleh media Online tersebut hanya menampilkan hasil dari ujian keperawatan untuk perawat (kangoshi) saja. Belum termasuk yang kaigofukushishi.

Lalu, jumlah kaigofukushishi asal Indonesia yang lulus tahun ini berapa? Dari sebuah artikel dari Jakarta Shimbun, yang dibahas di kelas kami saat pelajaran membaca beberapa hari yang lalu, ada 48 orang perawat Indonesia yang lulus ujian tahun ini dan mendapatkan lisensi sebagai kaigofukushishi. Atau dalam bahasa mudahnya, sudah diakui kemampuannya setara dengan orang jepang dalam bidang yang sama.

Horeeeeee, silahkan tepuk tangan!

Saya akan tulis hasilnya sebagai berikut.

Pertama, untuk ujian bagi Kangoshi. Perawat Indonesia, yang lulus ada 11 orang dengan prosentase 5,4%. Artinya, dari sekitar 200 perawat Indonesia yang ikut ujian, ada 11 orang yang berhasil lolos. Lalu, perawat dari Filipina, yang lulus ada 22 orang dengan prosentase 11,5%. Lalu, perawat dari Vietnam, yang lulus ada 14 orang dengan prosentase 41.2%.

Lalu, untuk hasil dari ujian Kaigofukushishi. Perawat Indonesia, yang lulus ada 48 orang dengan prosentase 58,5%. Perawat Filipina, yang lulus 34 orang dengan prosentase 43%. Sementara perawat asal Vietnam, belum ada yang lulus karena belum bisa mengikuti ujian. Karena, syarat untuk mengikuti ujian kaigofukushishi adalah setelah 3 tahun bekerja. Sedangkan perawat asal Vietnam yang bekerja sebagai kaigofukushishi baru mengikuti program EPA baru mulai tahun 2014 lalu. Jadi, tahun depan baru bisa mengikuti ujian negara.

Boleh jadi, ada yang bertanya, kok banyak kaigofukushishi nya? Iya, memang demikian adanya. Karena persyaratan mendaftar sebagai kaigofukushishi tidak perlu surat pengalaman kerja, dan STR pun belum punya tidak apa-apa.

Oleh karena itulah, persyaratan untuk mengikuti ujian nasional di Jepang pun berbeda. Harus menunggu 3 tahun dulu, karena 3 tahun tersebut dianggap sebagai persiapan serta pengalaman kerja yang harus dimiliki oleh teman-teman yang ingin mengikuti ujian kaigofukushishi.

Kalau untuk kangoshi, selama 3 tahun di sana, boleh mengikuti ujian selama 3 kali. Setiap bulan febuari dan diumumkan pada akhir maret.

Lalu, pertanyaan yang sangat sensitif pun kerap ditanyakan. Bagaimana soal gaji? Boleh jadi, kalau sama-sama sebelum lulus ujian negara, rata-rata gaji yang diterima oleh para calon kangoshi serta kaigofukushishi kurang lebih sama. Bahkan, di beberapa tempat tertentu, gaji kaigofukushishi bisa lebih tinggi di bandingkan dengan kangoshi. Begitupun sebaliknya.

Lalu, mengapa ada yang memilih kangoshi? Ada juga yang memilih sebagai kaigofukushishi? 

Kalau bicara soal ini, terlepas dari soal jumlah gaji, adalah minat atau passion. Kalau orangnya memang lebih menyukai merawat lansia, walaupun sudah memiliki memiliki pengalaman kerja lebih dari dua tahun, boleh jadi akan tetap mendaftar sebagai kaigofukushishi. Begitupun yang ingin mendaftar sebagai kangoshi. 

Pada akhirnya, setiap orang mempunyai pilihannya masing-masing. 

Dan bagi teman-teman yang masih dalam masa pelatihan, ternyata perjalanan kita masih panjang untuk mencapai hal tersebut. Oleh karena itulah, semangat belajar harus kita pertahankan. Kalau bisa, kita tingkatkan!

Srengseng sawah, 10 April 2016, 14.00 WIB

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: