​Rendang dan Opor Ayam Buatan Orang Jepang

9 Jul

#Bunka 5

Kamis malam, hari kedua di bulan Syawal. Berarti hari ini adalah hari kedua lebaran yang tentu saja, di Indonesia sana, suasana masih begitu meriahnya. 

Para orang tua dan anak-anaknya masih berkunjung dan bersilaturahim ke tempat sanak saudara. Yang muda mengunjungi yang lebih tua, para murid berkunjung ke tempat bapak ibu gurunya, dan aneka rupa makanan yang tersaji tidak lupa untuk sekedar dicicipi.

Kadang juga ada yang masih memburu rengginang di kaleng biskuit Khong Guan, eh, hehe.

Minggu ini adalah pengecualian. Karena kalau biasanya saya menulis hanya di akhir pekan saja, saya rasa tidak untuk minggu ini. Khawatir kalau saya posting di akhir pekan, gak dapat feelnya, gak dapet suasananya. Oleh karena itulah, #Bunka 5 saya tulis masih di dalam minggu ini.

Lebaran, adalah hari yang istimewa bagi segenap pemeluk islam yang ada di seluruh penjuru dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Boleh jadi, yang paling meriah adalah perayaan lebaran di Bumi Pertiwi, Tanah Air tercinta dengan budaya mudiknya!

Tidak tanggung-tanggung, perpindahan sebegitu banyaknya orang dalam waktu yang telah disepakati bersama, ada yang naik pesawat, kereta, bus, motor, hingga bersepeda ontel menempuh jarak ratusan kilometer demi bisa bertemu, berkumpul, melepas rindu dengan keluarga dan penduduk di kampung halaman tercinta.

Tidak hanya menjadi berita yang hangat di Indonesia, namun juga sempat menarik perhatian media luar negeri saat proses mudik itu terjadi.

Lebaran, entah mengapa bisa identik dengan yang namanya opor ayam, ketupat dan sejenisnya. Saya juga kurang tahu bagaimana awal mulanya. Yang jelas, setiap lebaran banyak dari ibu-ibu di seluruh penjuru nusantara, menghidangkan masakan jenis ini.

Lalu, bagaimana kami yang ada di luar negeri?

Saya akan sedikit bercerita mengenai hal ini.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pesan singkat dari penerjemah bahasa Indonesia yang sering datang ke tempat pelatihan kami. Namanya Pak Hariadi, dan beliau sering dipanggil dengan nama Pak Dhe.

“Mas Uki, nanti tanggal 7 Juli tolong adakan halal bihalal sederhana ya, antar sesama peserta EPA yang ada di KKC (Kansai Kenshuu Center). Bilang saja sama penanggung jawabnya, lalu pesan makanan khas Indonesia juga ya.” Begitu kira-kira pesan singkat yang saya terima 3 hari sebelum lebaran kemarin.

Keesokan harinya, setelah pelajaran usai, saya dan teman saya menemui penanggung jawab pelatihan saya di Jimusho (kantor) untuk menyampaikan hal tersebut, sekaligus meminta izin untuk bisa mengikuti shalat idul fitri secara berjamaah yang diadakan oleh pihak KJRI di Osaka.

Beberapa saat kami diskusi mengenai hal tersebut. Hasilnya kira-kira sebagai berikut,

Pada dasarnya, tanggal merah yang ada di Indonesia karena libur lebaran, tidak ada di Jepang. Tentu saja karena kalendernya berbeda. Tanggal 17 agustus pun kami tidak libur, praktis karena tanggal 17 agustus tidak memiliki arti secara khusus di Jepang, namun sangat memiliki arti di Indonesia bukan?

Nah, jadi saat tanggal 6 kemarin, sebenarnya kami tidak libur alias pelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya. Namun, pihak HIDA atau tempat pelatihan kami yang ada di Osaka ini, mendapatkan surat undangan resmi dari pihak KJRI Osaka, yang isinya bagi peserta muslim diundang untuk bisa menghadiri shalat idul fitri yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Juli yang bertempat di Gedung Sakai Industrial Promotion Center yang ada di dekat Stasiun Nakamozu. Kira perjalanan 30 menit dari tempat pelatihan kami.

Apakah semua peserta ikut? Tidak semua. Pertama, jelas, teman-teman yang nonmuslim tentu tidak ikut. Dan yang kedua, bagi teman-teman muslim, diberi pilihan. Boleh ikut, dan juga boleh tidak ikut untuk mengikuti pelajaran.

Dari pihak tempat pelatihan kami sebenarnya meminta kami untuk tidak ikut, dikarenakan ada pelajaran. Namun, mereka juga tidak melarang kami untuk ikut. Intinya, semua diserahkan kepada kami. Tidak ada paksaan.

Akhirnya, hampir 40 orang lebih mengajukan izin untuk tidak mengikuti pelajaran pagi, untuk mengikuti shalat idul fitri secara berjamaah. Dan alhamdulillah di tempat shalat idul fitri tersebut, berkumpul lebih dari 1000 orang Indonesia! Sugoiiiii!!! 

Mereka berasal dari daerah Osaka dan sekitarnya. Ada yang dari Wakayama, Okayama, Kobe, Kyoto dan banyak lainnya. Ada yang sudah berkeluarga, ada yang berstatus sebagai peserta magang di perusahaan Jepang, ada juga para perawat Indonesia yang sudah dan akan mulai bekerja, dan masih banyak lagi.

Setelah acara shalat dan khutbah selesai, para peserta bersalaman secara tertib kepada para pengurus dan khususnya dengan Bapak Konsulat Jendral RI yang ada di Osaka.

Setelah itu, kami pulang ke tempat pelatihan untuk mengikuti pelajaran siang.

Nah, kembali ke acara halal bihalal. Setelah berdiskusi, akhirnya dari lima menu yang kami ajukan, disetujui 3 menu. Rendang, opor ayam, dan mie goreng. Hanya saja, pesan dari penanggung jawab kami, karena yang memasak itu nanti orang Jepang, ya mohon dimaklumi kalau rasa dan bentuknya sedikit berbeda, hehe.

Lalu, setelah usai pelajaran tadi, pas jam makan malam, kami antri untuk melihat hasil kreasi orang Jepang terhadap menu masakan Indonesia.

Pertama, Rendang. Secara bentuk dan rupa, ya, mirip lah. Namun, kuahnya cukup banyak. Dan rasanya campur antara rasa rendang Indonesia dengan rasa jepang. 

Kedua, opor ayam. Secara bentuk, berbeda, namun rasanya, hemmmmmm, jadi kangen masakan ibu di rumah pokoknya. Mirip! Mungkin yang masak pernah studi banding ke dapur emak-emak yang lagi buat opor kali, hehe.

Dan untuk mie goreng, rasanya masih kalah sama indomie goreng yang terkenal itu.

Namun, secara keseluruhan, acara halal bihalal secara sederhana ini, dipadukan dengan masakan Indonesia yang lumayan mewakili budaya ibu pertiwi, cukup membuat kami tidak terlalu kesepian di hari raya ini.

Boleh jadi, para orang tua yang sempat bersedih hati karena ada anaknya yang belum bisa ikut mencicipi masakan di rumah, tidak perlu terlalu khawatir lagi. Kami di sini juga ikut merasakan masakan Indonesia, yang tentu saja dibuatin oleh para ibu-ibu di kantin yang kesemuanya orang Jepang asli.

Baiklah, masih dengan semangat membara setelah menyantap rendang dan opor ayam, mari kita mulai membuka buku kembali. Masih banyak hal yang perlu dipelajari untuk kegiatan di esok hari. 

Terakhir, masih dalam suasana lebaran, mohon maaf luar dan dan dalam, maaf lahir dan bathin. Semoga dengan momen yang luar biasa ini, badan, pikiran, dan semangat bisa kembali segar bugar kembali. 

Karena masih banyak hal yang belum kita ketahui untuk dipelajari.

Osaka, 7 Juli 2016, bertepatan dengan perayaan Tanabata, 21.20 waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: