​Peran Kampus dan Keinginan ke Jepang

9 Jul

#Benkyou 21

Bulan april sudah memasuki separuh waktu kedua, dan pelatihan kami di sini sudah memasuki minggu ke 20 alias sudah genap lima bulan. Kurang lebih, empat atau lima minggu lagi, kami akan melaksanakan soubetsukai, atau dalam bahasa indonesianya, pesta perpisahan. 

Ternyata, masa pelatihan kami tinggal sebentar lagi, dan kami akan memasuki masa pelatihan kedua, yaitu pelatihan selama enam bulan lagi di Jepang. 

Informasi dari sensei di kelas kami, waktu keberangkatan dan kota yang akan menjadi tempat pelatihan kami sudah diputuskan. Namun, belum waktunya untuk disampaikan kepada kami.

Untuk tanggalnya, kami belum tahu, namun yang jelas, kami akan berangkat pada bulan juni tahun ini. kalau tempat, kemungkinan kalau tidak di Nagoya, Osaka, atau Tokyo. Entah, saya dan teman-teman nanti akan mendapatkan tempat di mana. Yang jelas, dimanapun itu, tujuan utama kami adalah belajar dengan semangat dan sungguh-sungguh!

Layaknya musim yang terus berganti. Setelah kami meninggalkan tempat ini, maka akan ada peserta EPA angkatan ke 10 yang akan menempati tempat pelatihan kami di bulan November nanti. Dan untuk menjadi salah satu kandidat yang bisa menempati asrama P4TK ini, serta mengikuti pelatihan bahasa jepang di sini, maka terlebih dahulu para kandidat, baik yang mendaftar sebagai Kangoshi atau Kaigofukushishi, akan mengikuti serangkaian tes, yang saya anggap tak ubahnya seperti mengikuti pertandingan marathon!

Bagaimana tidak!?, tes yang sudah dimulai pada bulan ini, akan terus berlanjut secara bertahap hingga pengumuman akhirnya, kalau mengacu sesuai dengan tahun lalu, maka pengumuman awal kandidat yang lolos proses matching pertama adalah tanggal 2 oktober. 

Dari bulan april hingga awal Oktober itulah masa-masa yang tidak akan terlupakan dengan mudah. Rasa deg-deg an yang kerap muncul setiap hasil tes diumumkan, mungkin tidak hanya saya yang merasakan.

Ketika hasil tes keluar, apakah saya lolos ke tahap berikutnya? Apakah saya terhenti sampai di sini saja? Boleh jadi, bayangan-bayangan seperti itu akan menghampiri setiap kandidat yang mengikuti tes ini.

Nah, sehubungan dengan tersebut, kali ini saya akan membahas tentang tes awal yang mesti dilakukan. Yap, itu adalah pemberkasan. Bagi saya pribadi, menyiapkan berkas yang tidak sedikit itu, selain harus teliti, butuh biaya, juga butuh waktu untuk mengurus hal-hal yang detail seperti yang dijelaskan di website resmi BNP2TKI. 

Berikut saya copykan link-nya, silahkan kalau mau dibaca.

http://www.bnp2tki.go.id/read/11178/PENGUMUMAN-PENDAFTARAN–PROGRAM-G-TO-G-Ke-JEPANG-UNTUK-PENEMPATAN-TAHUN-2017.html

Bagi yang baru pertama kali membaca, boleh jadi kesan pertama yang terlintas adalah betapa banyak dan ribetnya dokumen yang perlu dipersiapkan.

Dari sekian banyaknya dokumen yang dipersyaratkan, boleh jadi ada beberapa persyaratan pendaftaran yang perlu diperhatikan.

Pertama, paspor. Hal ini mutlak dibutuhkan, karena yang akan mendaftar program ini adalah mereka yang berkeinginan untuk bekerja di luar negeri. Tujuannya jelas, ke Jepang! Jadi, paspor adalah salah satu syarat wajib. 

Terkadang, dari beberapa obrolan dengan teman-teman, saya mendengarkan argumen yang kurang lebih seperti ini, “Kita kan belum tentu lolos tes, kok sudah disuruh buat paspor ya?, apa gak sebaiknya yang sudah lulus tes saja baru diminta buat paspor?”. 

Kalau dipikir-pikir, boleh jadi ada benarnya juga. Namun, saya mencoba berpikir positif saja. Toh, kalau kita memang berniat untuk mengikuti program ini, ya mau gak mau syaratnya harus dipenuhi. Begitu saja. Titik. Tidak perlu berpikir yang merepotkan. Lebih baik fokus untuk persiapan serta pendaftaran. Kalau memang kurang setuju, atau bahkan sampai komplain ke bagian admin bnp2tki, saya kira itu bukanlah suatu tindakan yang bijak. Karena program ini sudah berjalan sampai dengan angkatan ke sembilan. Dan tahun ini dibuka untuk pendaftaran angkatan ke sepuluh.

Yang kedua, ijazah serta transkrip nilai. Dokumen yang satu ini memang cukup hangat untuk diperbincangkan. Mengapa demikian? 

Ijazah dan transkrip nilai adalah suatu dokumen, atau kita sebut saja, catatan hitam diatas putih yang menyatakan mahasiswa atau mahasiswi keperawatan, baik diploma tiga atau S1, sudah menyelesaikan studinya. Ya, sudah menyelesaikan studinya.

Namun, kalau saya melihat sebagian besar kampus keperawatan yang ada, biasanya wisuda dilakukan pada bulan September, ada juga yang bulan agustus, namun jarang. Ini hanya pendapat pribadi saya saja, boleh jadi kurang tepat. 

Nah, terkait dengan hal ini, terkadang mahasiswa atau mahasiswi yang ingin mengikuti program ini, akan terkendala saat melakukan proses pendaftaran. Terkendala karena belum mempunyai ijazah serta transkrip nilai.

Padahal, tidak semua kampus keperawatan melakukan yudisium menjelang wisuda. Beberapa kampus bahkan ada yang sudah melakukan yudisium pada bulan mei, bahkan ada yang di bulan april. 

Karena pada akhir-akhir ini, kampus-kampus keperawatan, khususnya yang diploma tiga, ada yang sudah mulai memfasilitasi mahasiswanya untuk memiliki keahlian tambahan dengan mengikutsertakan mahasiswanya yang sudah di yudisium untuk mengikuti pelatihan keahlian selama tiga bulan. Semisal BTCLS disambung dengan praktik UGD, ada yang mengikuti pelatihan ICU, ada juga yang mengikuti pelatihan di kamar bedah serta hemodialisa.

Nah, saya kira itu kembali kepada kebijakan kampus dan satu faktor penting lagi, seberapa besar keinginan kampus untuk memiliki lulusan yang mampu bekerja di luar negeri! 

Setelah berbincang-bincang dengan teman-teman yang sama-sama mengikuti pelatihan di sini yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Saya rasa, kampus yang memiliki visi agar lulusannya mampu bersaing di tingkat internasional tidak lah sedikit. Saya harap, itu bukan hanya visi belaka. Namun, memang bisa diaplikasikan kepada para mahasiswanya. Apalagi kita semua sama-sama sudah tahu, bahwa Indonesia sudah memasuki era MEA di akhir 2015 kemarin. 

Kalau orang asing bisa bekerja di sini, kita juga harus bisa bersaing di era global. Dan mengikuti program ini adalah salah satunya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, adakah kampus keperawatan yang melaksanakan wisuda pada bulan mei atau juni? Jawabannya ada.

Di tempat pelatihan kami di sini, setidaknya ada dua kampus yang mahasiswanya mendominasi, boleh jadi ada yang kampus lain yang belum saya ketahui. Pertama, dari kampus keperawatan dari Medan, Sumatera Utara, yang satunya lagi dari Cirebon, Jawa Barat.

Kalau jumlah kami di sini ada sekitar 292 orang. maka teman-teman yang dari Medan, yang berasal dari kampus yang sama, dengan jenjang diploma tiga, ada sekitar 20 orang. Lalu, yang sudah berjenjang S1, ada sekitar 30 orang. Itu dari kampus yang sama.

Beberapa  kali saya berbincang dengan mereka, ada satu hal utama yang boleh jadi, bisa dijadikan contoh oleh kampus-kampus yang lain. Yaitu, pihak kampus mensupport penuh mahasiswanya untuk mengikuti program ini. jadi, kaitannya dengan ijazah serta transkrip, mereka bisa mendapatkannya dan menggunakannya untuk  mendaftar sebelum batas akhir masa pendaftaran, yaitu tanggal 31 mei.

Namun, sekali lagi, itu memang tergantung kampus masing-masing. Boleh jadi, ada kampus yang mendorong mahasiswanya bisa berkiprah ke luar negeri, dan mahasiswanya pun menyambut dengan baik. Namun, boleh jadi, ada juga kampus yang sangat bersemangat mendorong mahasiswanya untuk berkiprah di luar negeri, namun mahasiswanya enggan, atau malah tidak berminat.

Namun, ada kemungkinan satu lagi, yang semoga ini tidak terjadi. Yaitu, jika ada mahasiswanya yang memang betul-betul berminat untuk bisa berkiprah ke luar negeri, entah itu di Jepang, Timur tengah, atau yang lainnya, namun dari pihak kampus malah tidak menyambut keinginan itu dengan baik, serta tidak membantu, minimal dalam pengurusan ijazah serta transkrip nilai, maka keinginan mahasiswa tersebut tentu hanya akan menjadi keinginan yang bertepuk sebelah tangan.

Tentu saja hal itu berlaku bagi teman-teman yang ingin mendaftar sebagai Kaigofukushishi, atau careworker. Karena, bagi teman-teman yang ingin mendaftar sebagai Kangoshi, tentu harus sudah memiliki persyaratan tambahan, yaitu STR serta surat pengalaman kerja.

Boleh jadi, jika ada teman-teman yang masih berstatus sebagai mahasiswa dan membaca tulisan saya ini, bisa dijadikan topik diskusi dengan pihak dosen di kampus masing-masing. 

Saya hanya berharap, jika ada mahasiswa atau mahasiswi, di kampus manapun, dari Sabang sampai Merauke, yang memiliki cita-cita ingin berkiprah di luar negeri, semoga pihak kampus juga bisa mendukung secara maksimal. Semoga berkah untuk semua.

Boleh jadi dalam catatan saya kali ini ada tulisan yang kurang pas di hati pembaca, saya mohon maaf dari lubuk hati yang paling dalam. Selamat beristirahat bagi semua,

Oyasuminasai….

Srengseng sawah, 16 April 2016, 23.19 pm

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: