​Meriahnya Malam Takbiran di Indonesia dan Heningnya Kota Osaka

9 Jul

#Bunka 4

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaa haillaahuwallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd….

Alhamdulillah, sudah genap 30 hari kita semua bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar. Bagi yang ada bolongnya, karena berbagai keadaan, jangan lupa dicatat dan diganti ya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Karena doa kita bersama, semoga bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan berikutnya…

Malam takbiran, bagaimana kabar takbiran di Indonesia malam ini? 

Beberapa saat yang lalu, via video call, saya menghubungi keluarga yang ada di Kudus. Dan pertama kali yang terlihat di layar HP adalah arak-arakan takbiran keliling yang ada di desa saya. Karena pas saya telepon, keluarga di sana sedang melihat takbir keliling yang diikuti oleh masyarakat desa saya, desa Undaan Kidul namanya.

Suara takbir yang saling sahut menyahut, wajah-wajah gembira para remaja dan anak-anak kecil yang berbaris, yang kadang susah untuk diatur barisannya, dan utamanya, suara beduk yang dipukul bertalu-talu. 

Ya, itulah Indonesia.

Lalu, soal berkumpul dan rasa kekeluargaan. Indonesia adalah jagonya!

Setiap tahun sekali, yaitu ketika hari raya idul fitri adalah momen yang paling ditunggu. Tanggal 1 Syawal adalah tanggal yang penting bagi warga muslim di Indonesia. Jadi, yang kerja di luar kota, sejauh apapun itu, baik yang luar pulau atau bahkan yang di luar negeri, bagaimanapun caranya, asalkan bisa diusahakan, maka mudik adalah suatu hal yang utama!

Karena mudik adalah budaya khas Indonesia yang tiada duanya!

Pulang ke kampung halaman, berkumpul dengan sanak saudara, sambil makan makanan ringan seadanya. Walaupun terkadang kaleng besar Khong guan isinya adalah rengginang, dan kaleng wafer Tango isinya adalah kerupuk udang, itu tidak jadi masalah utama. 

Istilahnya, makan gak makan tetep kumpul! Karena yang utama adalah berkumpul.

Setelah shalat idul fitri, sejenak berkumpul dengan bapak, ibu, dan saudara. Sungkem, lalu meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah di buat, baik yang sengaja maupun tidak disengaja. Tidak lupa juga meminta doa untuk segala urusan, baik urusan sekolah, pekerjaan, hingga semoga ibadahnya bisa selalu konsisten, lebih-lebih bisa ditingkatkan.

Ya, itulah Indonesia!

Lalu, bagaimana dengan yang di Osaka?

Hampir 3 minggu saya di sini, saya belum pernah mendengar suara adzan yang dikumandangkan di ruang publik. Adzan akan terdengar jika akan melakukan shalat berjamaah bersama dengan teman-teman asrama, dan juga saya mendengarnya hari minggu kemarin ketika akan melaksanakan shalat berjamaah di masjid Osaka.

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh para penulis yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri atau sekedar jalan-jalan di luar negeri. Mereka rindu suara adzan yang dikumandangkan. Hal itu yang saya rasakan sekarang.

Juga soal takbiran. Jalan-jalan di sini memang rapi, ramah dengan pengguna jalan, baik kendaraan bermotor maupun pengguna sepeda ontel. Namun, sepanjang jalan di kota Osaka malam ini tetap seperti biasanya, tidak ada terdengar suara takbiran, apalagi pawai takbir keliling seperti yang ada di Indonesia.

Apakah saya rindu? Soal itu jangan ditanya, itu jelas sekali jawabannya. Karena suasana malam ini, di berbagai sudut kota di Indonesia, adalah wujud rasa kebahagian bagi siapa saja yang bisa menikmatinya.

Kalau dalam sebuah lagu disebutkan bahwa kalau tidak pulang 3 kali puasa dan 3 kali lebaran adalah Bang Thoyib, maka secara resmi malam ini saya menyandang gelar itu, haha.

2 kali bulan puasa dan dan 2 kali lebaran di Batam, saat bekerja dulu. Di tahun ketiga saya bekerja alhamdulillah saya mendapatkan izin pulang. Dan tepat malam ini, juga besok, saya telah berhasil memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Grup Bang Thoyib diantara sekian banyak perantau yang dari Indonesia!

Hidup Bang Thoyib!

Malam ini, sebelum saya menulis catatan ini, kami yang ada di tempat pelatihan di Osaka ini, berkumpul, shalat berjamaah dan melakukan takbiran secara sederhana. 

Memang, tidak semeriah seperti yang ada di tanah air sana, namun, kegiatan sederhana ini insya allah cukup membuat kami merasa bahwa kebersamaan yang ada ketika bersama keluarga adalah suatu kekayaan yang tidak ternilai harganya.

Sambil mengumandangkan takbir, suara sesenggukan pun terdengar. Tidak sedikit yang sampai meneteskan air mata kerinduan kepada keluarga yang ada di tanah air sana.

Boleh jadi, itupun yang sedang dirasakan oleh para orang tua yang sekarang sedang ditinggal sementara oleh anak-anaknya yang sedang merantau. Entah itu merantau di dalam negeri, maupun yang di luar negeri, yang saat ini karena berbagai hal menjadikan belum bisa pulang ke kampung halaman.

Rasa rindu, kangen, dan ingin berkumpul dengan keluarga, adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. 

Berbicara tentang hal itu, saya jadi teringat sebuah sajak yang tertulis di sebuah buku karya J.S. Khairen yang berjudul “30 Paspor di Kelas Sang Profesor”. Berikut isinya,

*5 Terrafarma

Tak Usah kau risaukan, Ayah, aku berkelana bukan untuk dunia semata.

Jangan kau kusutkan keningmu, Ibu, Langkah kakiku adalah hangatnya peluk dan doamu.

Mungkin ini adalah akhir, dari pencarianku, terhadap diriku sendiri.

Di tanah ini, aku terdampar dan mematrikan janji di dalam hati, kepada sang Mahapasti.

Mungkin pula ini adalah awal dari semangat yang menggumpal.

Di tepian teluk ini, napasku beradu sendu dengan impian dan udara masa depan.

Dari kebasnya rasa cinta dan benci, aku mengerti.

Dari sebuah impian suci yang abadi, aku mengerti.

Dari percikan suara alam yang berteriak sunyi, aku mengerti.

Dari guratan firasat yang tak bertepi, aku mengerti.

Perjalananku, adalah perjalanan jauh ke dalam hati untuk hari esok yang yang lebih berarti.

**

Walaupun belum bisa shalat idul fitri dan berkumpul dengan keluarga besok, tenang, insyallah ada gantinya.

Untuk teman-teman yang ada di Osaka, insyallah besok akan dilaksanakan shalat id berjamaah bagi warga Indonesia yang bertempat di Sakai City Industrial Promotion Center, yang terletak di 183-5, Nagasone, Kita-Ku, Sakai, Osaka. Dekat dari stasiun Nakamozu, lalu jalan kaki sekitar 5 menit.

Dari tempat pelatihan kami lumayan dekat, tidak ada setengah jam. Semoga dengan berkumpul dengan sesama perantau dari Indonesia, sedikit banyak akan mengobati rasa kangen dengan tanah air.

Malam ini, sambil menyeruput secangkir teh hangat Tong Tji yang baunya khas Indonesia serta beberapa buah Takoyaki yang di beri oleh teman, 

Saya pribadi, mengucapkan selamat hari raya idul fitri kepada semuanya. Baik teman-teman yang ada di dalam negeri maupun yang sedang merantau di luar negeri.

Sekaligus saya meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam, karena saya yakin, ada banyak kesalahan yang saya lakukan baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

Semoga di hari raya idul fitri ini, semua kesalahan kita antar sesama manusia bisa terhapuskan serta menjadi bening kembali.

Salam hangat dari Osaka untuk seluruh warga Indonesia dimanapun Anda semua berada.

Sumiyoshi-Ku, Osaka-Shi, 5 Juli 2016, 1 Syawal 1437 H, 11.40 waktu setempat

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: