​Jangan Berhenti, Kawan!

9 Jul

#Benkyou 14
Saatnya menari………………..eh, saatnya mengetik maksudnya.

Teman-teman dimanapun kalian berada, apa kabar semua? Semoga senantiasa sehat dan bahagia selalu. Hari minggu kali ini, kawasan Jakarta Selatan, seharian berasa romantis karena diguyur hujan dari tadi dini hari sampai sore ini. Hujannya sih sebenarnya hanya sampai siang saja, namun sampai menjelang petang ini, rintik hujan masih menghiasi di sudut sana sini.

Hmmmp, mungkin enak kalau tiba-tiba ada yang datang bawain mie ayam pangsit hangat kali ya. Hehe, ngarep.

Sebetulnya seminggu ini, saya sudah kepengen nulis dari beberapa hari yang lalu. Entah kenapa, saat lagi sibuk (emang sibuk ngapain ya?), ide serta keinginan menulis itu tiba-tiba datang. Namun apa karena saya sudah berniat untuk menulis di akhir pekan saja, maka keinginan untuk menulis itu pun saya tunda. Masih ada prioritas lain yang perlu dikerjakan. Haha, shukudai (PR) mana shukudai?

Nah, karena saya mengendapkan ide itu terlalu lama, eh, malah terkadang terlanjur menjadi kerak yang ketika saya ingin menuliskan ide itu kembali, saya harus mencongkelnya dari alam bawah sadar dengan bersusah payah mengingatnya kembali. Padahal saya sudah beberapa kali diberikan saran untuk mencatat setiap ide yang ada. Memang dasarnya saya yang pemalas. Hadeh.

baiklah, saya mulai dari informasi standar dulu, yang biasa saya pakai dalam menulis tulisan mingguan. Mungkin akan terdengar membosankan, tapi biarlah. Biarlah hujan menyiram segala kegalauan anak muda di hari minggu, eh, malah menjadi kemana-mana. Fokus! Fokusss!

Hari minggu ini adalah minggu ke 13 alias sudah 3 bulan lebih satu minggu kami berada di tempat pelatihan ini. Kalau teman-teman berkesempatan untuk main ke tempat ini, maka percakapan sehari-hari dengan menggunakan bahasa jepang bukan merupakan hal aneh lagi di sini. Kalau awal-awal dulu masih agak sungkan dalam berbicara dengan kosakata bahasa Jepang. Maka lain lagi dengan hari ini.

Secara pembelajaran. Hadeh, bahasa apa lagi ini. Pokoknya begitulah. Semua peserta pelatihan telah melewati buku jilid pertama. Horaiiiiii! Artinya, kosakata dan tatabahasa untuk percakapan ringan sehari-hari insya allah sudah bisa. 

Semisal, yang paling dasar, memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa jepang. Maka akan terdengar lancar, selancar mobil roda empat masuk jalan tol yang baru jadi. Mulus!

Lalu, bertanya kabar, bertanya mau kemana, bertanya harga barang, makan menggunakan apa, jenis-jenis kata sifat, perubahan kata kerja menjadi berbagai jenis yang kemudian digunakan untuk menunjukan kalimat sederhana untuk meminta tolong, mempersilahkan, dan lain sebagainya.

Saya yakin, seyakin-yakinnya, teman-teman yang ada di sini telah berjuang sekuat tenaga untuk menghafal kosakata, menghafal tata bahasa, mempraktekannya dengan teman sekamar maupun sekelas, serta menulis karangan yang kesemuanya itu akan meningkatkan kemampuan berbahasa jepang.

Sepertinya hanya terdengar hal yang menyenangkan saja ya? Tidak selalu.

Dalam sebuah obrolan ringan dengan beberapa teman disaat waktu senggang, saya mengambil kesimpulan bahwa mempelajari bahasa jepang itu lebih sulit dibandingkan dengan bahasa inggris. Mengapa demikian?

Bagi sebagian teman yang pernah belajar bahasa inggris, yang terkadang menjadi kesulitan adalah cara pelafalan kata yang dari tulisan aslinya berbeda. Contoh saja arti kata satu dalam bahasa inggris, “one”, maka ketika diucapkan akan terdengar seperti “wan”, bukan one yang betul-betul dieja o-n-e. Itu baru contoh sederhana saja, walaupun memang ketika semakin dipelajari juga akan ketemu dengan bagian yang susahnya juga sih.

Nah, bagaimana dengan bahasa jepang? Kalau bahasa Jepang, cara pelafalannya sama persis dengan apa yang tertulis. Misalnya, arti kata “saya” dalam bahasa Jepang adalah “watashi”, maka pengucapannya pun akan tetap sama. Tidak lantas berubah menjadi “watas”, “wats”, dan lain sebagaianya. 

Lalu, susahnya di bagian mana? Banyak menurut saya. Tata bahasa inggris sangat berkebalikan dengan tata bahasa jepang. 

Contoh kalimat sederhana saja. Saya pergi ke bioskop. Maka dalam bahasa inggris kita akan menemukan arti “ I go to the theatre “. Cukup. Kalau diartikan satu-satu maka akan ketemu. I, saya, go, pergi, theatre, bioskop. Secara arti perkata bisa dicari dan diartikan. Nah, kalau diartikan ke dalam bahasa Jepang, kita tidak bisa menyusunnya secara teratur dan urut seperti bahasa Inggris. Akan menjadi hal yang kurang tepat ketika mengartikannya menjadi “watashi iku eigakan”. Akan aneh terdengarnya. 

Lalu jadinya bagaimana? Kalau kita belajar secara runtut menggunakan buku Minna no Nihonggo jilid satu, maka kalimatnya akan menjadi “watashi wa eigakan e ikimasu”. Kalau teman-teman mencari arti kata “pergi” di kamus, tidak akan menemukan kata “ikimasu”, yang ada adalah kata “iku”. Karena “iku”” adalah bentuk kamus dari kata “ikimasu”. Ribet ya? 

Begitulah kira-kira. Kalau diartikan apa adanya, maka akan terdengar seperti ini, “watashi wa eigakan he ikimasu”, “saya bioskop pergi”, nah loh, malah jadi aneh ya?

Hal-hal seperti itulah kira-kira yang menjadikan teman-teman yang baru memulai belajar bahasa Jepang akan merasa kesulitan. Belum lagi huruf kanjinya. Hmmmp, taihen da to omoimasu. Akan menjadi merepotkan kalau tidak benar-benar dipelajari dengan serius dan hati-hati. Karena menulis huruf kanji itu selain ada tatacara penulisannya, cara bacanya juga berbeda-beda. Kalau huruf kanjinya sendirian tanpa ada yang menemani, maka cara bacanya akan berbeda lagi kalau dia ada yang menemani, apalagi kalau yang menemaninya ramai-ramai. 

Kita ambil contoh kanji yang sederhana, kanji hari (日), kalau dia sendirian, bisa di baca “Hi” yang artinya hari. Nah, kalau ketemu kanji “sekarang”, atau dalam bahasa jepangnya “ima” (今), yang kemudian menjadi (今日), maka tidak lantas dibaca “ima-hi”, tapi dibacanya “kyou”, yang artinya “hari ini”. berbeda lagi kalau bertemu kanji “terang” atau “akarui” (明), yang kemudian menjadi (明日), cara bacanya tidak menjadi “akarui-hi”, tapi berubah menjadi “ashita” yang artinya besok. Dan jumlah huruf kanji itu ada banyaaaaaaaaaaaak teman-teman. Yang kata sensei saya, yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari itu ada sekitar 2000-an huruf kanji yang masing-masing cara bacanya bisa berbeda-beda.

Dengan demikian, apakah lantas kita bisa pesimis kapan saja? Saya kira tidak demikian. Kalau susah, ya, saya akui itu susah, namun tidak mustahil untuk bisa dipelajari dan dikuasai. Nyatanya, setiap tahun selalu ada perawat Indonesia yang lulus ujian keperawatan negara di Jepang, yang untuk bisa lulus tes itu, minimal harus mempunyai kemampuan setara N2 dengan huruf kanjinya minimal 1100 kanji.

Kalau pas lagi merasa susah, bolehlah sesekali merasa galau. Merasa kok saya susah banget menghafal kosakata, kok saya susah banget memahami tata bahasa, kok saya susah menghafal kanji dan sebagainya. Saya pun terkadang merasa demikian.

Satu pesan dari sensei saya yang selalu saya ingat dan saya gigit kuat-kuat pesan itu,

Jangan Berhenti !!!!

Terkadang kita merasa sakit dan terkadang jatuh dalam lubang keputus asaan karena nilai kita kok rendah. Kok yang lain pada sudah bisa dan saya walaupun sudah berusaha keras, belum saja bisa. Hingga akhirnya kita ingin berhenti saja belajarnya. Ingin kelar dari kelas, dan yang paling mengkhawatirkan, ingin pulang saja. Tidak ikut pelatihan lagi.

Justru hal itulah yang perlu kita perbaiki. Kita harus memahami satu hal terlebih dahulu. Kapasitas setiap orang itu berbeda-beda. Itu jelas. Ada yang memang bisa cepat dalam menghafal, dan ada yang cukup membutuhkan waktu lebih untuk bisa menghafal. Ada yang bisa memahami suat persoalan dalam sekali baca, dan ada yang perlu berulang kali harus membaca baru paham. Itu terjadi karena setiap manusia punya keunikannya tersendiri. Kita saja sudah beda satu dengan yang lain. begitupun dengan kemampuan kita. Pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Namun, kalau kita behenti. Selesai sudah. Apa yang kita perjuangkan akan menjadi sia-sia.

Kapasitas kita dengan yang lain memang berbeda, namun, perjuangan kita yang tahu hanya diri kita sendiri. Kalau kita hanya berpangku tangan dan menerima nasib apa adanya. 

Maka, kelak, saat usia kita bertambah lagi, kita sendiri yang menyesalinya sendiri. Maka, masih ada waktu untuk belajar, masih ada waktu untuk berjuang. Waktu yang disediakan telah diukur dan dipertimbangkan agar kita bisa mencapai target kita.

Maka, sekali lagi, kita kobarkan api semangat untuk pantang menyerah. Janganlah kita mendahului masa depan dengan menyerah terlebih dulu. Jalan memang terjal, namun, di ujung jalan itu ada tanah harapan yang telah dijanjikan.

Mari, sekali lagi, kita kobarkan api semangat dalam diri kita.

Ganbatte Kudasai!!!!

Srengseng Sawah, 28 Febuari 2016

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: