​Duta Budaya Kampung Halaman

9 Jul

#Benkyou 23

Malam kesekian dari hari-hari yang kami jalani di sepanjang pelatihan di sini. Mulai dari awal masuk, yang awalnya belum saling kenal. Kemudian berangsur-angsur saling mengenal. 

Belajar bersama, dengan teman-teman serta para sensei yang luar biasa, yang diselingi dengan lebatnya buah rambutan yang berlimpah di lingkungan P4TK. Kelak, kami akan merindukan hal itu.

Waktu pelatihan segera usai. Ya, kurang dari sebulan lagi akan usai. Terlepas dari banyaknya tugas serta persiapan ujian yang sudah antri di depan mata, akhir pekan adalah waktu yang pas untuk rehat sejenak, flashback sekaligus menyusun rencana kegiatan untuk seminggu ke depan.

Terkait dengan persiapan, teman-teman sudah mulai mempersiapkannya. Bagi yang belum punya koper, sudah mulai membeli koper. Beberapa juga sudah mulai menyusun draf barang-barang apa saja yang akan dibawa dan yang tidak perlu dibawa. Dan sebagainya.

Dan yang tak kalah pentingnya, beberapa juga ada yang mempersiapkan untuk membawa budaya lokal masing-masing. 

Maksudnya bagaimana?

Indonesia ini luas, Kawan. Pulaunya terbentang dari Sabang sampai Merauke. Sebagaimana yang kita sudah sama-sama ketahui semenjak duduk di bangku SD. Bahasa daerah, tari daerah, budaya lokal, sangat-sangat beragam.

Sebagaimana beragamnya suku asal yang berbeda-beda, teman-teman di sini pun beragam daerah serta kota asalnya. Ibarat miniatur Indonesia, saya merasakannya sekali lagi di sini setelah dulu saat masih bekerja di Batam.

Ketika kami sampai di Jepang nanti, kami tidak hanya akan menjadi tenaga kerja profesional saja. kami juga akan berperan sebagai duta budaya Indonesia. Yang tentu akan memperkenalkan budaya Indonesia di tempat kerja kami masing-masing nanti.

Nah, sekarang pertanyaannya. Apakah kita sudah siap untuk memperkenalkan budaya Indonesia saat sudah sampai di sana nanti?

Boleh jadi hal ini menarik untuk kita bicarakan.

Beberapa waktu yang lalu, saat ada pelajaran speech(スピーチ) atau pidato di kelas, saya membawakan tema tentang daerah saya. Yaitu tentang kota Kudus. 

Pidato saya mulai dengan bertanya kepada sensei yang asli orang Jepang, apakah pernah mendengar nama kota Kudus sebelumnya? Seperti yang saya duga, belum. Beberapa teman pun ada yang belum mengetahui apa itu Kudus, di mana letaknya, apakah ada yang khas dari kota yang satu ini?

Kurang lebih saya bercerita seperti ini.

Kota kudus itu letaknya di Jawa tengah. Terletak sekitar 60 Km di sebelah timur kota Semarang, yang merupakan ibu kota Jawa Tengah. Kalau dari Jakarta, bisa ditempuh dengan menggunakan bus dengan lama perjalanan sekitar 12 jam. Bisa juga ditempuh dengan pesawat maupun kereta api, namun harus turun di Semarang, lalu berganti kendaraan. Dari Semarang masih butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Kota Kudus.

Lalu, saya bercerita tentang toleransi beragama yang ada di Kudus. Bahwa di Kudus sejak kurang lebih 500 tahun lalu, tidak diperbolehkan untuk menyembelih sapi. Mengapa demikian?

Banyak cerita yang turun-temurun yang disampaikan oleh para orang tua, juga banyak tertulis di berbagai media. Sunan kudus yang merupakan imam atau pemimpin umat islam yang ada di Kudus kala itu, pernah di tolong oleh Pemangku yang merupakan pemimpin umat hindu. Perlu diketahui, bahwa kala itu, umat islam dan umat hindu hidup secara berdampingan. Untuk membalas jasa serta menghormati umat hindu yang ada di Kudus, maka Sunan kudus meminta kepada umat islam di Kudus agar tidak menyembelih sapi serta menggantinya dengan kerbau. karena bagi umat hindu, sapi adalah hewan yang dimuliakan.

Jadi, ketika hari raya kurban, sebagai ganti sapi, akan terlihat kerbau-kerbau yang menjadi hewan kurban. Dan salah satu makanan khas yang berasal dari Kudus adalah soto kerbau! Ada  yang pernah mencobanya?

Sebagai wujud dari toleransi, menaranya terlihat seperti bangunan yang digunakan beribadah umat hindu, yaitu candi dan pura. Desain menara serta masjid yang menggabungkan kebudayaan hindu dan kebudayaan islam tersebut terlihat sangat elok. 

Lalu, saya akhiri pidato saya dengan menjelaskan salah satu jajanan khas Kudus. Yaitu jenang kudus. Yang paling terkenal adalah yang bermerek Mubarok. Ini adalah makanan ringan yang mirip dengan dodol Garut, namun berbeda cita rasanya. 

Kualitasnya sudah teruji dengan sudah bukti, pemiliknya yang sekarang adalah cucu dari pendiri perusahaan ini, atau dengan kata lain memasuki generasi ketiga! 

Bagi yang anggota keluarganya pernah pergi haji, maka jajanan khas Kudus ini akan menjadi makanan ringan selama di pesawat yang menuju ke Mekah.

Kurang lebih seperti itu.

Setelah selesai bercerita, lalu ada sesi tanya jawab. Disitulah saya mendapat apresiasi karena telah membawa budaya lokal sebagai bahan pidato saya.

Kelihatannya saya hanya membawakan hal yang sederhana, namun, itu adalah suatu bentuk pengenalan budaya lokal kepada orang asing. Itung-itung sebagai latihan. Dan budaya Indonesia itu banyaaaak sekali sebetulnya. Hanya saja, mungkin kurang sebarkan lebih luas lagi. Sehingga, ketika ada orang asing yang ditanya tentang Indonesia, yang mereka ketahui adalah Bali. Jakarta pun kurang begitu terkenal, apalagi kota-kota kecil yang tersebar di seantero tanah air?

Maka itulah kesempatan kita.

Ketika kita sampai di Jepang nanti, selain identitas, kita pasti akan ditanya, minimal oleh rekan kerja kita, tentang daerah asal kita. Apakah ada yang menarik di sana? Yang khas dari sana apa saja? adakah budaya yang berbeda dengan budaya di Jepang? Dan sebagainya.

Dan di kelas kami, masih ada satu project lagi terkait dengan pembelajaran bahasa Jepang. Dan saat ini, saya sedang mempersiapkan materinya dengan tema “Furusato no matsuri”, yang artinya perayaan budaya di kampung halaman.

Dengan demikian, saya bisa semakin menggali informasi dan lebih mengenal daerah asal saya, serta bisa memperkenalkannya kepada orang-orang yang berada di negara yang berbeda.

Oleh karena itulah, mempelajari budaya asing itu perlu, agar kita tidak tekaget-kaget saat sudah sampai di negara tujuan kita tersebut. Namun, mempelajari budaya lokal juga tidak kalah pentingnya. Karena dari budaya lokal lah pemahaman, pemikiran, kearifan, serta kebijaksanaan hidup kita berasal.

Indonesia itu kaya akan budayanya, Kawan.

Srengseng Sawah, 30 April 2016, 21.31 pm

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: