​Dari Jakarta Ke Osaka

9 Jul

#Bunka 1

Rasa malas. Ya, itulah salah satu hal yang membuat manusia selalu terhenti pada hal yang baru diketahuinya, hanya terpaku pada hal yang baru dimengerti. Di luar sana, masih ada banyak hal yang ada di luar batas pengetahuan kita. Perbedaan demi perbedaan yang menjadikan dunia ini kaya akan keberagaman, serta hal-hal yang menakjubkan lainnya.

Jakarta menuju Osaka, adalah rangkaian perjalanan sekaligus awal perjalanan baru bagi saya beserta teman-teman EPA angkatan 9 tahun ini. 

Tidak hanya menuju ke Osaka, ada juga yang menuju Aichi dan juga Tokyo. Karena tempat pelatihan kami dibedakan menjadi tiga. Hanya saja, dari 282 orang calon Kangoshi (Perawat) dan Kaigofukushishi (Perawat Lansia/Careworker), seluruh calon perawat akan melaksanakan pelatihan selama 6 bulan lagi di Osaka.

Sebenarnya, selama perjalanan, saya ingin membenamkan diri pada kursi yang berderet 3-3-3 di dalam pesawat ukuran jumbo, karena untuk penerbangan internasional. 

Kalau penerbangan domestik, deretannya hanya 3-3. Itu untuk kelas ekonomi. Kalau kelas bisnis sama VIP tentu saja beda, dan entah kapan saya bisa duduk di kelas bisnis itu, hehe. 

Saya berada di deretan D, jadi agak di tengah, sambil menikmati berbagai sajian di layar 10 inch di depan tempat saya duduk.

Awalnya, saya nonton Kungfu Panda 3 sambil nyemil keripik kentang yang kemudian berangsur-angsur menjadi agak mengantuk.

Namun, rasa kantuk saya tiba-tiba sirna tatkala di bangku deretan saya, jarak dua bangku di sebelah kanan saya, ada mbak-mbak bule berambut pirang yang mulai menulis tatkala kami, para peserta EPA yang beragama muslim, sedang melakukan santap sahur.

Saat Itu, pukul 12 dini hari, sesuai dengan peta yang ada di layar, kami baru sampai di atas pulau Borneo yang terlihat anggun dari atas awan, si mbak bule itu mulai menulis di buku catatannya. 

Entah apa yang sedang dia tulis, saya tidak tahu.  Yang saya tahu, sudah 3 lembar dia menulis saat saya juga memutuskan untuk mulai ikut menulis. Sekenanya saja ada kertas kosong di buku bacaan saya, lalu saya mulai menulis. Saya hanya ingin kembali menuliskan pengalaman saya kali itu.

Waktu sahur kami sudah selesai. Lampu kabin yang asalnya terang, kemudian dipadamkan hingga keadaan menjadi temaram. Wah, bakalan susah untuk kembali menulis nih, pikir saya. namun, si mbak bule itu terus saja menulis dan gak peduli dengan pencahayaan yang redup itu. Penanya terus menari diatas lembaran demi lembaran yang entah sudah sampai di lembar keberapa. Dengan melihat hal itu, saya kembali memutuskan untuk menulis.

Apa saja saya tulis. Yang bisa saya tulis saya tulis. Apa yang saya rasakan saat itu saya tulis.

Kira-kira inilah sebagian yang saya tulis waktu itu.

Saya berangkat dari Bandara Soetta Jakarta pukul 21.55 WIB menggunakan pesawat JAL (Japan Air Lines) dengan nomor penerbangan 726 menuju Bandara Narita di Chiba. 

Saat masuk ke Bandara Soetta, kami harus menjalani pemeriksaan yang berlapis-lapis. Mulai dari cek in, memasukkan barang ke bagasi, boarding pass, lalu antri di bagian imigrasi, lalu kembali pemeriksaan dokumen dan x-ray lagi. 

Kami terbang di ketinggian 35.000 kaki atau kira-kira 10.668 meter diatas permukaan laut. Dengan kecepatan pesawat sekiar 565 mph atau sekitar 911 Km/jam. Suhu di luar pesawat saat itu -42 derajat Celcius. Lebih dari beku suhu luar pesawatnya ya.

Waktu sahur kami saat itu adalah pukul 12 malam sampai pukul 1 dini hari, karena begitu mendekati Jepang, waktu shubuh adalah pukul 3 dini hari. 

Saat itu, pemberian makan sahur adalah permintaan khusus pihak Jepang kepada maskapai karena sebagian dari kami adalah penumpang muslim yang hari itu akan melakukan puasa. 

Jadi, selain yang akan berpuasa, makanan akan diberikan saat sarapan pagi, sekitar pukul 6 waktu setempat. Pesawat kami landing di Bandara Narita, Chiba, pukul 7 waktu setempat atau pukul 5 di Indonesia.

Di Bandara Haneda, kami juga harus melewati pemeriksaan yang ketat. Berhubung kami adalah orang asing yang datang ke Negara Jepang. 

Namun, pemeriksaan kami menjadi lancar karena dipandu oleh pihak Jepang yang senantiasa menemani kami selama perjalanan.

Setelah itu, kami menuju ke Bandara Haneda di Tokyo dengan menggunakan Bus. 

Perjalanan kami memakan waktu sekitar 1 jam. Sepanjang perjalanan, kami melihat Tokyo Sky Tree dari kejauhan. Mungkin kapan-kapan bisa mampir kesana, hehe. Namun bukan sekarang. Teman-teman yang akan menjalani pelatihan di Tokyo boleh jadi akan segera bisa mengunjunginya.

Setelah sampai di Bandara Haneda, kami harus mulai cek in serta antri untuk menjalani berbagai pemeriksaan lagi. Dan, kami pun harus menunggu sampai pukul 12.30 waktu setempat untuk terbang ke Bandara Itami di Osaka. 

Perjalanan dari Bandara Haneda sampai Bandara Itami memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sampai di Itami, kami turun dan antri untuk mengambil koper. 

Setelah koper diambil, kami segera memasuki bus yang telah disediakan oleh pihak Jepang untuk mengantar kami ke HIDA KKC, yaitu tempat pelatihan kami. 

HIDA adalah The Overseas Human Resources and Industry Development Association yang dulunya bernama AOTS. KKC sendiri berarti Kansai Kenshuu Center. Tempat pelatihan ini bertempat di Osaka.

Kami sampai di KKC sekitar pukul 4 sore. Perjalanan yang harusnya sebentar, sekitar 30 menit, menjadi agak molor karena ada kecelakaan di jalur kami menuju KKC.

Alhamdulillah, kami akhirnya sampai di tempat ini setelah menempuh perjalanan sekitar 18 jam. cukup lama ternyata. sesampainya di tempat ini, kami disambut dengan ramah oleh para staf HIDA yang kemudian memberikan briefing singkat, dilanjutkan dengan buka puasa di kantin asrama yang megah menurut ukuran saya.

Dan sampai hari ini, kami baru berada di tempat selama 3 hari. walaupun begitu, ada berbagai hal yang menarik yang insya allah akan menjadi bahan tulisan saya setiap minggunya. Khususnya tentang keragaman budaya yang ada.

Dan mulai tulisan kali ini, hashtag awal tulisan ini pun saya rubah ke “Bunka” yang artinya Budaya. Saya berharap, tulisan acak adut saya ini bisa sedikit memberikan manfaat kepada sesama.

Baiklah, Perjalanan baru akan dimulai kembali.

Senri no michi mo ippo kara, perjalanan seribu mil pun dimulai dengan satu langkah.

Minna, Ganbarou!

Osaka, 19 Juni 2016, 01.00 waktu setempat, sebentar lagi shubuh

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: