​Bulan Puasa di Osaka

9 Jul

#Bunka 2

Osaka, adalah kota di mana saya tinggal kali ini. Sumiyoshi-Ku, adalah nama distriknya, atau semacam nama kecamatannya. Namanya kok kayak nama orang Jawa ya, hehe. Mbak Sumiyoshi? Atau mbak Sumi? Hehe.

Disinilah kali ini saya terdampar. Ketika di rumah beberapa waktu yang lalu, beberapa orang tetangga bertanya sekaligus memastikan, “Mas Uki benar mau ke Jepang? Kerja atau Kuliah? Berapa lama di sana?”, beserta pertanyaan-pertanyaan lainnya sehingga menjadi obrolan ringan dengan beberapa orang yang kebetulan saat itu ikut kumpul.

“Saya mau jalan-jalan kok”, jawab saya dengan bercanda. Dan suasana pun menjadi cair dan obrolan pun menjadi ringan. Jalan-jalan, ya, saya sering menjawab begitu ketika ditanya mengenai kepastian saya ketika hendak merantau ke luar negeri.

Boleh jadi jawaban saya dibilang bercanda. Namun, kalau dianggap serius pun bisa. Bukanlah hidup ini adalah sebuah perjalanan? *pasang tampang serius, hehe.

Ya, Osaka, adalah tempat pemberhentian saya berikutnya sebelum bulan Desember nanti pindah ke Hokkaido untuk memulai pekerjaan yang baru. 

Saya jadi teringat dulu, saat masih sekolah di dekat rumah, terkadang saya berfikir. Apakah bisa saya sampai ke luar negeri? 

Pertama kali keinginan itu muncul 8 tahun silam, saat membaca kisah Andrea Hirata serta Arai dalam kisah Sang Pemimpi yang kemudian berlanjut ke Edensor. Mereka yang dari pedalaman Belitong, dengan cita-citanya, akhirnya bisa mencapai Eropa dan bisa jalan-jalan sampai Afrika. Saat itu saya hanya bisa bermimpi.

Setelah menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah, saya kemudian ke Semarang untuk melanjutkan kuliah Keperawatan selama 3 tahun. Ketika di Semarang, saya bisa pergi ke Malang, Bandung, Jakarta, dan berbagai kota di Jawa Tengah karena ikut organisasi. Setelah itu, saya merantau Ke Batam untuk bekerja selama 3 tahun. Dan setelah melalui berbagai tes, akhirnya saya bisa sampai di Negeri Matahari Terbit ini. Alhamdulillah.

Osaka, sedari tadi pagi sampai sore ini diselimuti rinai hujan ringan. Banyak orang berlalu lalang dengan menenteng payungnya masing-masing. Di setiap ruas jalan, melihat pemandangan berupa orang memakai pakaian rapi, berjas, berdasi, berjalan cepat ataupun menaiki sepeda adalah hal yang wajar. Dan saya kira ini yang belum ada di kota besar di Indonesia.

Hal ini dikarenakan fasilitas publik di sini yang sudah ditata dengan rapi dan sangat ramah bagi pejalan kaki serta pengguna sepeda. Semenjak seminggu yang lalu saya tiba di sini, sangat jarang saya melihat sepeda motor lewat di jalan raya. Ada beberapa, paling satu atau dua, selebihnya, orang-orang lebih suka berjalan dan menggunakan transportasi publik yang murah, ramah, dan tepat waktu.

Guuzen, atau dalam bahasa Indonesianya, kebetulan, saya datang ke negeri baru ini pas bulan puasa. Jadi, puasa kali ini saya menjalaninya di dua negara yang berbeda.

Bulan Ramadhan selalu punya cerita bagi setiap orang, juga bagi saya. Ramadhan kali ini, saya bisa ikut berpuasa di Kudus bareng keluarga selama 3 hari. Lalu di Jakarta selama 7 hari, dan selebihnya hingga hari ini, saya berada di negara yang berbeda.

Perbedaan pasti ada, namun semangat menjalankan ibadah puasa, insya allah di mana pun akan tetap sama.

Kalau di Kudus dan Jakarta, perbedaan waktu yang ada tidak terlalu terasa. Paling hanya beberapa menit saja, lebih cepat di Kudus karena letaknya berada lebih timur daripada Jakarta. Jarak antara sahur dan berbuka ya berkisar antara 12 sampai 13 jam.

Minggu lalu, ketika kami tiba di sini. Waktu menunjukkan pukul 17.00 dan langit masih begitu terangnya. Ketika saya melihat jadwal waktu shalat di aplikasi HP, ternyata waktu maghrib di Osaka masih 2 jam 15 menit lagi, alias 19.15. Pantesan masih kelihatan terang banget, pikir saya. Kalau di Kudus, jam segitu mungkin sudah memasuki rakaat keempat jamaah tarawih kali ya?

Setelah berbuka, waktu isya’ juga masih cukup lama. Yaitu sekitar pukul 21,00. Dan yang paling membutuhkan waktu untuk beradaptasi adalah waktu sahur. Kalau di Kudus, imsak biasanya jam 4 lewat, karena waktu shubuhnya bisa mendekati 04.30.

Kalau di sini? Waktu shubuh adalah pukul 03.00!  Jadi, kami harus melakukan sahur sebelum jam itu. Perbedaan waktu inilah yang terkadang membuat beberapa teman, juga saya, beberapa kali melewatkan waktu sahur. Tahu-tahu sudah shubuh saja. Sahur pun terlewat. Ketika waktu menunjukkan pukul setengah 5 pagi, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Karena waktu terbit matahari di sini sekarang adalah pukul 04.43 waktu setempat. Jam segitu di Kudus ya masih gelap sodara-sodara.

Puasa. Bagi orang Jepang yang belum tahu tentang ibadah puasa, terkadang masih menganggap aneh terhadap ibadah umat islam yang satu ini. Yang mereka tahu, menahan makan dan minum dari terbitnya matahari hingga tenggelamnya matahari, bukankah itu membahayakan? Apa nanti tidak takut pingsan? Itu yang dikatakan sensei saya saat di kelas beberapa waktu yang lalu.

Karena memang waktu antara terbit dan tenggelamnya matahari di sini cukup lama, yaitu sekitar 16 sampai 17 jam. Namun, ketika sudah  mengerti, mereka menjadi paham. Kalau dibilang lama, malah lebih lama teman-teman yang beragama Hindu saat berpuasa ketika Nyepi? Sekitar 30 jam malahan. 

Walaupun berpuasa, namanya sabtu dan minggu adalah tetap waktu libur. Dan mumpung sudah sampai di Jepang, sayang kalau tidak mengunjungi tempat-tempat yang terkenal di sini. Kalau saya pribadi, tempat-tempat yang disebutkan dalam buku pelajaran Minna no Nihonggo adalah daftar tempat yang diusahakan harus dikunjungi.

Dan hingga sampai sore ini, saya baru mengunjungi Osaka Jou Kouen yang pernah dikunjungi Mira san sama Umeda tempat Karina san turun dari taksi. Shin Osaka Eki dan Dotonbori di Namba adalah bonusnya.

Maklum, sabtu ini adalah sabtu terakhir kami free. Selebihnya, mulai minggu depan, kami akan menjalani pelatihan full dari senin sampai sabtu. Liburnya hanya minggu saja. jadi, teman-teman pelatihan yang dari Indonesia, hampir semua keluar dari asrama hari ini untuk jalan-jalan.

Ya, sekalian melatih percakapan dengan orang asli Jepang sekaligus mencoba transportasi Jepang yang terkenal dengan ketepatan waktunya tersebut.

Baiklah, saya kira cukup untuk hari ini. Minggu depan baiknya menulis apa lagi ya? Ada saran?

Osaka, 25 Juni 2016. 19.00 waktu setempat, sebentar lagi waktu berbuka.

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: