​Asam Manis Rambutan, Kenangan Selama Pelatihan

9 Jul

#Benkyou 26

Apa kabar teman-teman semua? Bagaimana kabar di akhir pekan ini?

Sepertinya saya benar-benar telah melewatkan 2 pekan kemarin tanpa menulis. Hemmm.  Ternyata konsisten itu susah sodara-sodara. Walaupun sudah diniatkan untuk bisa menulis di tiap akhir pekan, ternyata masih saja kalah sama rasa malasnya. 

Baiklah, saatnya bernostalgia. Bukan dengan tembang kenangan, namun dengan pengalaman dan kenangan selama pelatihan. 

6 bulan telah terlewati. Pelatihan tahap pertama telah dianyatakan usai. Seminggu yang lalu, tepat di tanggal 25 Mei, kami dinyatakan telah lulus ujian tahap pertama. Mengapa saya sebut tahap pertama? Ya, karena masih ada pelatihan tahap kedua di Jepang nanti. 

Kami akan dibagi menjadi tiga bagian. Akan ada yang menjalani pelatihan di Osaka, Aichi, dan Tokyo.

6 bulan, kurang lebih selama 25 minggu kami di tempa di kawah candradimuka yang berada di lembah Srengseng Sawah, di tepi jurang yang dialiri sungai keramat, Sungai Ciliwung (biar lebih dramatis ceritanya, hehe). Hati-hati saat melintas, karena ada beberapa titik yang rawan longsor! 

Kalau Anda selamat dari jalan setapak yang menghubungkan jalan utama ke tempat pelatihan kami, Anda akan disambut oleh mamang penjual “Cilor” yang legendaris di kalangan peserta pelatihan, haha.

Kalau beruntung, dengan uang 5ribu, anda bisa mendapatkan tambahan Cilor dengan rasa pedas gila! 

Tempat pelatihan kami dijaga oleh Bapak-bapak security dengan tampang sangar, walaupun badan kekar dan kelihatan garang, jangan salah, mereka berhati lembut bak hello kitty. Tampang dan penampilan boleh sangar, namun ramahnya bukan main! Istilah bekennya, “Anda Sopan, Kami segan!”

Tempat pelatihan kami, dikelilingi oleh berbagai tumbuhan hijau yang sangat asri. Ketika Anda masuk, maka suasana riuh macet ibu kota langsung sirna. Kalau malam, suara serangga dan jangkrik menemani kami dalam menghafal kosakata dan memahami tata bahasa.

Pohon rambutan seperti menjadi pagar betis di tempat ini. Hampir di setiap sudut ada. Beruntungnya, saat kami masuk 6 bulan lalu, saat itu sedang lebat-lebatnya buah pohon ini tergantung di sana-sini. Kalau seperti itu kan, lama-lama kami menjadi tergoda. Awalnya kami kalem, beneran deh, hanya berani  melihat-lihat saja. Kok lama-lama, pohon itu seakan melambai-lambai, serta bilang. “Kesini, lihatlah, ambillah, makanlah……”, yaaa, akhirnya kami pun tergoda, haha. *Ngeles.

Rambutan yang ada di tempat pelatihan ini sungguh sangat “ngelotok”, kalau kata orang Jawa. Daging buahnya benar-benar lepas dari isinya. Jadi setelah makan terasa puas! Walaupun kulitnya masih agak hijau kekuningan, namun isinya? Sempurna! Maknyusss! Kalau kata Pak Bondan.

Selepas jam belajar, kadang ada yang sekedar jalan-jalan ke depan tempat pelatihan. Salah satu tempat favorit teman-teman adalah kafe roti bakar 88. Hayoooo, siapa yang sering ke sini? 

Di sana tersedia berbagai olahan indomie lengkap dengan cabe-cabeannya, level kepedasannya maksudnya. Jadi kalau kuat pedas, silahkan coba level tertinggi! Bukan hanya indomie saja, roti bakar dengan berbagai rasa bisa menjadi menu pilihan jika terkadang ingin nyemil di malam hari.

Kalau di lingkungan pelatihan sendiri? Dua warung kecil yang terletak di samping asrama mawar dan belakang asrama melati bisa jadi alternatif kalau lapar datang malam-malam.

Jadi, ketika waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, beberapa teman yang ingin rehat sejenak dari belajarnya, kadang mampir untuk menikmati indomie rebus atau goreng sesuai selera? Kalau saya? ya, ikut juga sih terkadang, hehe.

6 bulan pelatihan. Suka dan duka pun menyelimuti. Awalnya tidak saling kenal, lalu menjadi teman sekelas, beberapa kali ada perubahan kelas, ada yang saling suka, ada asmara di asrama, yang kemudian sebelum berangkat ada yang tunangan maupun nikahan, itu semua turut menghiasi perjalanan pelatihan kami selama di sini. 

Dan beberapa dari teman kami juga ada yang melangsungkan pernikahan pas masa pelatihan juga loh!

Duka nya apa ya? Saya jadi bingung sendiri. Kalau miskomunikasi dengan sensei itu disebut duka, maka pas awal-awal pelatihan, yang kami saat itu bahasa jepangnya masih pas-pasan, dan ketika ada sensei Jepang bicara, masih hanya bisa angguk-angguk saja. Ada yang mengerti, sebagian besar bingung.

Dan bahasa tubuh adalah salah satu solusinya. Jadi bisa dibayangkan waktu masih awal-awal pelatihan itu, yang satu ngomong apa, yang diomongi entah yang dipikirkan apa. Kalau tidak nyambung, maka ketika diminta untuk mengambilkan proyektor, maka speaker lah yang dibawa. Hasrat hati ingin menjelaskan, namun apa daya, bahasa Jepang yang ingin diucapkan terhenti di tenggorokan.

Itu saat masih awal. Kalau sekarang? Tentu sudah berbeda. Masa-masa itu sudah terlewati. Kalaupun masih ada yang agak susah ngomong, minimal bisa memahami apa yang disampaikan.

Saya jadi teringat beberapa bulan lalu. Ketika ada ujian wawancara. Ada teman yang ketika ujian wawancara menceritakan hobinya. Yaitu memasak nasi goreng. Nah! Ketika ingin menjelaskan cara pembuatannya, kosakata terbatas, dan akhirnya, bahasa Jepang dan bahasa tubuh pun dikombinasikan, haha. Saya kira, semua pernah mengalaminya. Saya pun juga!

Selama di sini, kami tidak hanya belajar saja, namun ada organisasi yang dibentuk. Jadi, selain belajar, kami juga mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengakrabkan sesama peserta pelatihan. Contoh kegiatan besarnya antara lain, Oshougatsu atau pesta perayaan tahun baru dan yang terakhir kemarin Soubetsukai atau pesta perpisahan. Program yang lain? ada, namun kalau saya tuliskan semua malah jadi kayak LPJ nantinya.

Nah, di dua acara ini, terlihatlah sisi lain dari peserta pelatihan yang ada. Beberapa ketika ada di kelas begitu terlihat kalem, namun saat pertunjukan, ada yang menampilkan tari daerah, tari modern, ada yang suaranya bak artis yang lagi ngehits, ada yang menampilkan drama parodi dengan alur yang luar biasa, ada yang menampilkan debus, paduan suara, serta satu hal yang menjadi primadona, ada yang sudah tenar di youtube dan ketika naik panggung, lalu membawakan lagu dangdut, hampir separuh dari peserta yang ada maju ke panggung dan berjoget! Gemparlah acara malam itu!

Lagu “Aku mah apa atuh” nya teteh Cita Citata telah berhasil membuat peserta menikmati alunan musik dan sensei-sensei Jepang yang hadir pun tidak luput ditarik ke atas panggung dan berjoget bersama.

6 bulan. Bisa dibilang lama, bisa dibilang sebentar. Apapun itu, masa pelatihan pertama telah terlewati. Dan tanggal 14 dan 15 bulan ini akan menjadi awal dari perjalanan kedua dari teman-teman pelatihan angkatan ke 9 ini.

Pre Departure Orientation (PDO) telah menunggu, Pesawat JAL telah menunggu, tinggal kita harus bisa mempersiapkan diri dengan baik dari sekarang. Berbagai buku dan barang bawaan harus kita pilah dan pilih sebijak mungkin. Karena itu akan sangat membantu kita di masa pelatihan kedua nanti.

Sampai bertemu di Jakarta lagi tanggal 11 nanti ya minasan. 

Mata Aimashou….

Kudus, 4 Juni 2016, 21.16 WIB

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: