Akirameruna! Jangan Menyerah!

10 Jan

#Benkyou 7

Tidak dapat dipungkiri, keadaan seseorang pasti akan mengalami pasang serta surut. Kadang merasa senang, kadang merasa sedih. Kadang merasa gembira, bisa juga bisa galau. Bermacam-macam perasaan itu pasti akan dirasakan oleh kita semua.

Nah, ketika rasa galau melanda, bisa juga dilihat dari beberapa sisi. Ketika diri sendiri yang merasakannya, termasuk saya juga pernah merasakannya, pasti rasanya akan menjadi tidak karuan. Makan kurang enak, tidur tidak bisa nyenyak, mengerjakan sesuatu menjadi tidak fokus, dan berbagai macam rasa lainnya.

Namun, kali ini, karena rasa galau lah tulisan ini tercipta, hehe. Entah nantinya kesannya akan menjadi puitis atau malah jadi amburadul, mari kita teruskan saja.

Baiklah, minggu ini merupakan minggu keenam kami di sini. Sebentar, sebentar, kok bisa saya hafal ya? Entahlah. Semenjak masa kuliah dulu, minggu demi minggu itu secara tidak sadar saya jadi senang menghitungnya. Ya gak senang-senang amat sih, karena dengan menghitung jumlah minggu yang sudah dilalui, maka dengan jelas akan nampak bahwa waktu yang tersedia untuk belajar juga tinggal sedikit.

Boleh jadi, salah satu hal yang menjadikan saya terbiasa menghitung jumlah waktu yang ada adalah karena adanya rasa takut. Bisa takut akan kegagalan, takut tertinggal dengan yang lain, dan takut menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Bagi yang pernah menonton film animasi produksi Pixar yang berjudul Inside Out, mungkin akan teringat salah tokoh yang mewakili tentang rasa takut ini.

Selanjutnya, karena rasa takut ini ada, maka akan muncul pembandingnya, yaitu berani. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita akan membiarkan rasa takut itu menguasai diri kita dan menjadikan kita tidak bisa berbuat apa-apa? Atau malah sebaliknya, karena rasa takutlah kita mempunyai kesempatan untuk membangkitkan rasa berani yang lama bersemayam hingga menunggu masanya untuk dibangunkan.

Saya menjadi teringat dengan perkataan  salah seorang guru saya. Kira-kira begini, ketika kita menghadapi sesuatu yang berat, maka hanya akan tersedia dua pilihan. Yaitu kerjakan dengan sungguh-sungguh atau tinggalkan sama sekali!

Dan di minggu-minggu ini, kami yang ada di tempat pelatihan ini, secara bertahap mulai memasuki tahap yang sulit. Sulit dalam artian, bab yang diajarkan semakin bertambah, hafalan kosakata semakin banyak, jumlah huruf kanji yang harus dipahami semakin bertambah, bahan untuk dokkai (reading/bacaan) dan choukai (listening/mendengarkan) juga bertambah, tata bahasa yang semakin kompleks, beserta berbagai hal lainnya.

Di sini, masing-masing pribadi punya dua pilihan seperti yang saya sebutkan diatas. Maju terus atau berhenti sama sekali. Kalau maju terus, yang berarti belajar dengan maksimal, maka masih ada kemungkinannya untuk memahami berbagai pelajaran yang telah diajarkan. Namun, jika pilihan yang diambil adalah berhenti, yang berarti menjadi malas belajar, maka boleh jadi akan menjadi semakin tetinggal dengan teman-teman yang lain.

Untuk mengatasi hal ini, maka teman-teman yang ada di sini membentuk sebuah kelompok belajar yang dalam bahasa jepangnya disebut benkyoukai. Kelompok ini tidak hanya berfungsi untuk sekedar belajar kelompok saja, namun juga sebagai media diskusi agar para teman-teman di sini bisa menemukan cara belajarnya masing-masing.

Karena ketika di jepang nanti, saat sudah berada di tempat kerja masing-masing, maka akan menjadi sendiri-sendiri lagi. Kalau kita belum bisa menemukan cara belajar yang khusus untuk kita sendiri, maka nantinya proses pembelajaran pun akan menjadi kurang lancar.

Contoh, ada teman yang ketika menghafal kosakata bisa cepat. Namun, bagi beberapa yang lain tidak begitu cepat. Maka untuk teman yang ketika menghafal tidak bisa cepat, harus ditempuh dengan metode lain. Semisal dengan cara menulisnya secara berulang-ulang, kemudian baru diartikan. Memang cara ini ribet, dengan cara menulis berulang-ulang. Namun, ketika ada yang mempraktekkannya dan kemudian menjadi cocok, boleh jadi itulah pola yang harus dilakukan agar bisa menghafal kosakata dengan lancar. Caranya memang berbeda, ribet, membutuhkan waktu lebih lama karena harus menyalin ulang tulisan yang ada. Namun hasil yang didapat pun sepadan dengan kerja keras yang dilakukan. Yaitu hafalannya masuk dalam memori jangka panjang.

Saya juga memakai pola belajar seperti ini. Saya bukan termasuk orang yang mempunyai kelebihan sekali, dua kali baca bisa langsung hafal. Namun, saya baru bisa menghafalnya setelah menuliskannya secara berulang kali. Saya berfikir itu tidak apa, karena memang setiap orang mempunyai cara belajar yang berbeda-beda.

Begitupun dengan cara belajar pelajaran membaca, mendengarkan, kanji, dan sebagainya. Boleh jadi, ada yang mempunyai kelebihan bisa memahami pelajaran tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Namun, karena saya tidak mempunyai kelebihan itu, saya harus menggunakan cara belajar saya sendiri dan mengulanginya hingga paham. Bisa sampai 5 atau 7 kali. Kalau masih belum paham juga, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus mengulanginya hingga paham. Karena saya merasa yang bertanggung jawab atas diri saya ya saya sendiri. Kalau saya tidak paham sementara teman saya yang lain paham, berarti saya belajarnya tidak maksimal.

Tulisan ini hanya sekedar opini saya pribadi. Boleh jadi, setiap orang mempunyai cara belajar masing-masing yang lebih efektif. Saya pun terbuka atas masukan dari semuanya dengan cara belajarnya, siapa tahu saya bisa berguru untuk menemukan cara belajar yang lebih efektif.

Yang jelas, seberat apapun pelajaran yang kita hadapi, jangan menyerah!

Karena sudah terlalu banyak orang yang menyerah dan menyalahkan keadaan yang semestinya itu kesalahan serta kemalasan kita sendiri.

Akirameruna!

Srengseng sawah, 10 Januari 2015

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: