Tahun Baru dan Cara Belajar Yang Baru  

2 Jan

#Benkyou 6

Dalam bahasa Jepang, libur yang berurutan disebut dengan nama Renkyuu(れんきゅう-連休). Seperti libur yang ada di minggu kemarin. Tanggal merahnya ada dua disusul dengan hari sabtu dan minggu. Dan pada minggu ini, tanggal merah alias hari libur tahun barunya terletak di hari jumat. Alhasil, liburnya pun jadi lumayan panjang.

Gegap gempita suasana pergantian tahun baru di negeri ini. Dalam acara pergantian tahun ini, terlepas dari banyaknya pro kontra tentang perayaan tahun baru ini, saya ingin melihatnya dari sisi yang berbeda saja.

Pergantian tahun, memang tak ubahnya dengan pergantian hari. Layaknya hari senin berubah ke hari selasa, tanggal 30 juni berubah ke tanggal 1 juli, dan karena negeri ini menganut penanggalan dengan menggunakan kalender masehi atau gregorian, maka setelah tanggal 31 desember akan berubah menjadi tanggal 1 januari lagi. Begitupun seterusnya.

Layaknya waktu yang terus berputar, dari satu masa menuju ke masa selanjutnya. Jika kita tidak bisa mengambil momentum untuk merubah diri agar menjadi “berbeda” dengan hari sebelumnya, maka itulah yang akan menjadi masalah bagi kita. Berarti, kita yang ada di hari ini, dengan kesempatan yang telah diberikan, akan sama saja dengan kita yang ada di hari kemarin.

Untuk itulah, momen pergantian tahun ini, baiknya disikapi dengan bijak. Salah satunya adalah memikirkan bagaimana sebaiknya agar diri kita bisa menjadi pribadi yang berbeda dan lebih baik dari hari yang kemarin.

Bagi kami, para peserta pelatihan di P4TK ini, perubahan bukanlah sesuatu hal yang baru. Setiap hari kami diberikan materi yang secara bertahap dari yang sederhana dan hingga di minggu kelima ini meningkat ke tahap selanjutnya. Jika perubahan ini tidak kami sikapi dengan baik, maka boleh jadi, kami sendiri yang akan tertinggal.

Khususnya materi tentang bagaimana meningkatkan kemampuan dalam berbicara atau dalam percakapan.

Sebelum libur kemarin, beberapa kelas dikumpulkan oleh sensei penanggung jawab kelas masing-masing. Kami diperkenalkan dengan metode pembelajaran percakapan dengan nama Shadowing, atau sederhananya dikenal dengan nama “teknik membayangi”.

Apa yang menjadi maksud dari metode ini?

Sebelum saya uraikan tatacara belajar menggunakan metode ini, mari kita kembali sejenak ke masa lampau saat kita masih belajar untuk sekedar bicara “papa-mama” atau “ibu-bapak” dulu.

Saat kita masih bayi, boleh jadi salah satu hal yang sekian banyak hal yang kita pelajari saat itu adalah berbicara. Saat itu, kita hanya menirukan suara apapun yang kita dengar. ketika bersama dengan ibu misalnya, maka apapun kata yang diucapkan oleh ibu kita saat itu, boleh jadi kita susah payah untuk menirukannya. Namun, karena dikatakan secara berulang-ulang, maka lambat laun kita pun menjadi bisa mengucapkan kata-kata sederhana tersebut.

Dan proses itu berlangsung tidak sehari dua hari saja. Proses itu berjalan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga seakan tidak kita sadari, kita bisa mengucapkan kalimat yang panjang secara utuh dan bisa dimengerti oleh orang lain. boleh jadi, itulah yang disebut dengan bahasa ibu.

Boleh jadi, bahasa ibu kita saat itu belum tentu bahasa Indonesia. Semisal saya, saya lebih bisa berbicara bahasa jawa daripada bahasa Indonesia, karena saat saya masih kecil, lingkungan saya secara aktif menggunakan bahasa jawa. Begitupun dengan teman-teman yang berasal dari daerah yang berbeda. Bahasa ibu nya mungkin akan menggunakan bahasa Medan, bahasa Palembang, bahasa Manado dan sebagainya.

Kembali lagi ke metode Shadowing. Karena kita di sini belajar bahasa yang baru, yaitu bahasa jepang, maka kita pun harus sering mendengar dan mengucapkan bahasa tersebut agar menjadi bisa. Terkadang, yang menjadi masalah adalah pengucapan atau dalam bahasa jepangnya disebut dengan Hatsuon (はつおんー発音)berbeda dengan cara pengucapan Indonesia. Hatsuon itu contohnya bahasa jawa dengan medhok nya, bahasa medan dengan logat kerasnya, dan sebagainya.

Oleh karena itu, dalam waktu liburan kali ini, kami diminta untuk memulai belajar shadowing.

Tugas yang diberikan kepada kami adalah agar bisa hafal dan menirukan pelajaran percakapan atau kaiwa 「かいわー会話」 yang ada di setiap bab yang telah diajarkan.

Di setiap bab di buku Mina no Nihonggo, ada sebuah percakapan singkat yang harus kami hafalkan dengan cara membaca percakapan tersebut sambil mendengarkan audio yang membahas percakapan itu. Layaknya kalau kita sedang menonton film yang ada teksnya. Pertama, kita mendengarkan sambil membaca teks percakapan yang ada. Lalu, kalau sudah hafal teksnya, latihan berikutnya dengan cara tidak melihat teks. Jadi setelah hafal teksnya, maka ketika audio nya diputar maka kita juga ikut berbiacar sesuai dengan percakapan yang sedang berlangsung.

Pada awalnya mungkin akan mengalami kesulitan. Mungkin karena cara bicaranya yang cukup cepat, atau mungkin juga karena kotoba atau kosakata yang belum kita ketahui. Namun, secara bertahap boleh jadi akan menjadi seru dan menyenangkan. Karena selain kita bisa memahami maksud dari percakapan tersebut, kita juga bisa memahami pola kalimat, penggunaan kata sambung atau partikel, dan kalau diulang secara terus menerus maka cara pengucapan kita pun akan mirip dengan orang Jepang.

Karena memang bahasa ibu kita bukanlah bahasa Jepang, maka salah satu tujuan dari latihan ini adalah supaya kita bisa membuat bahasa Jepang itu menjadi bahasa ibu yang ketiga. Setelah bahasa daerah masing-masing dan bahasa nasional kita yaitu bahasa Indonesia tentunya. Atau, mungkin juga akan menjadi bahasa ibu yang ke empat dan seterusnya jika ada yang sudah menguasai bahasa asing, semisal bahasa inggris.

Namun, walaupun akan menjadi bahasa ibu yang ke berapapun itu, tentu akan menjadi bahasa utama saat kita sudah berada di Jepang bulan juni nanti. Untuk itulah, semoga pembelajaran bahasa kita akan semakin lancar dengan menggunakan metode ini.

Boleh jadi, metode ini juga bisa digunakan untuk mempelajari bahasa asing yang lain juga. Ada yang berminat mencoba?

Srengseng Sawah, 2 Januari 2016

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: