Teman – Tomodachi – 友達

6 Des

#Benkyou 2

Hari ini adalah hari minggu.

Memang sepertinya terdengar biasa aja. Namun, hari minggu kali ini kami, para penghuni asrama pelatihan, tidak sedang pergi ke kota, apalagi naik delman istimewa dan duduk di muka, hehe.

Setelah acara pelatihan dibuka seminggu yang lalu. Kemudian diadakan tes untuk penempatan kelas. Materi tesnya bertahap, mulai dari menulis huruf hiragana, katakana, hingga masuk ke tata bahasa yang setara dengan level N5 dan N4. Kalau memakai panduan buku Minna no Nihongo, maka materinya mencakup mulai buku pertama dan kedua, yang berarti materi bab 1 sampai bab 50 akan masuk ke dalam soal-soal tes tersebut.

Memang, para peserta tes tidak diwajibkan untuk mengisi semua. Peraturannya sederhana, isilah sampai batas kemampuan yang dimiliki. Karena nantinya, dari hasil tersebut, akan menentukan di kelas mana kita akan ditempatkan.

Tes tersebut dilaksanakan pada hari jumat siang, mulai pukul 13.00 selama 100 menit. Namun, setelah melewati menit ke 20, satu persatu yang sudah “mentok” dengan soal-soal yang ada, mulai meninggalkan tempat ujian.

Esoknya, pembagian kelas diumumkan. Kami dibagi mulai dari kelas 1 sampai kelas 16. Kalau penyebutan dalam bahasa Jepangnya, kelas satu adalah ichikumi (一組), kelas dua adalah nikumi (二組) dan seterusnya. Setiap kelas bervariasi jumlahnya, ada yang 16 orang, 18 orang, namun tidak sampai melebihi 20 orang. Karena jumlah kami yang mengikuti pelatihan tahun ini sebanyak 293 orang tentunya.

Nah, setelah pengumuman pembagian kelas, kami dibagi menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok calon Kangoshi (Perawat, 看護師) dan Kaigofukushihi (careworker/perawat lansia, 介護福祉士).

Acaranya adalah, vaksin influenza dan sharing dengan senpai (senior, 先輩) yang sudah pernah bekerja di Jepang. Ketika kelompok Kangoshi di vaksin di ruangan yang terpisah, teman-teman Kaigofukushishi sedang mengikuti kelas “sharing” dengan senpai juga pernah mengikuti program EPA sebelumnya, saya lupa EPA angkatan berapa, yang sudah lulus ujian negara Kaigofukushishi dan juga lulus ujian kemampuan bahasa jepang N1, standar tertinggi!

Lalu, ketika teman-teman Kangoshi sudah selesai di vaksin, gantian, kami masuk ke aula untuk sharing dengan senpai juga, yang dulunya ikut EPA angkatan pertama. Sayangnya, saat ujian negara di Jepang belum bisa lulus. Namun, berkat kemampuan bahasa Jepang yang dimilikinya, sekarang senpai tersebut sudah bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang ada di Indonesia dengan pendapatan yang fantastis!

Itu adalah sebagian acara yang kami ikuti minggu lalu.

Masuk hari senin, kami sudah memasuki kelas masing-masing. Yang membuat saya semakin tertarik adalah, karena nama-nama ruangan serta kelas di P4TK Bahasa ini khas dengan nama-nama penulis besar yang dimiliki bangsa ini.

Contohnya nama kelas saya, Jassin 1,diambil dari penulis besar H.B. Jassin. Lalu berturut-turut ada nama besar yang lain, sebut saja gedung W.S. Rendra, gedung S.T. Ali Syahbana, gedung Marah Rusli, gedung Chairil Anwar, gedung Amir Hamzah dan selebihnya, memakai nama-nama bunga, yaitu asrama Mawar, asrama melati, anggrek, dan sebagainya.

Secara tidak langsung, dari nama-nama besar yang tersemat pada nama gedung-gedung yang ada, mengajarkan kepada kami, para peserta pelatihan untuk selalu semangat dalam mempelajari bahasa serta budaya negeri ini dan negeri yang akan kami tuju sebagai tempat bekerja nanti.

Mengapa kami harus selalu semangat? Jawabannya sederhana, karena belajar bahasa itu tidak semudah yang dikira. Apalagi bahasa Jepang yang terkenal rumit dengan huruf kanjinya yang mencapai 2000 lebih. Namun, ketika kami sudah masuk ke tempat pelatihan ini tujuannya hanya satu, yaitu setelah mengikuti pelatihan selama 6 bulan kami harus lulus ujian kemampuan bahasa Jepang dengan standar N4 agar kami bisa benar-benar berangkat ke Jepang. Kira-kira, minimal 300 huruf kanji harus kami kuasai, beserta tata bahasanya juga.

Oleh karena itulah, kami, para peserta pelatihan harus selalu semangat dan menyemangati dalam hal belajar. Saling membantu satu dengan lain ketika ada kesulitan dalam belajar. Namun, bukan saling membantu ketika mengerjakan ujian lho ya.

Apakah semangat belajar bisa selalu stabil? Saya kira jawabannya tidak selalu. Ada kalanya semangat belajar itu turun lantaran materi yang terkadang susah untuk dihafal, apalagi dipahami. Namun, ketika hal itu terjadi, cerita dari teman sekamar saya yang dari Sumbawa, boleh jadi akan membantu menjawab pertanyaan tersebut.

Kalau semangatnya sedang turun, dia ingat ketika proses mengikuti seleksi yang sudah rumit, melelahkan, butuh biaya yang tidak sedikit, dan berbagai macam kesulitan lainnya.

Namun, ketika dia sudah lulus dan dinyatakan diterima di sebuah rumah sakit di Perfektur Nagano, Jepang, acara perpisahannya dengan sanak famili di kampung halaman tidak akan pernah bisa dilupakan. Teman saya tersebut adalah ketua ikatan remaja masjid di desanya. Nah, seminggu sebelum pemberangkatan ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan selama 6 bulan, dia pamit dengan para pengurus masjid, mohon doa semoga pelatihannya lancar.

Eh, saat selesai shalat jumat, imam masjid malah mengumumkan informasi tersebut, memintakan doa kepada jamaah masjid sekalian agar mendoakan teman saya tersebut agar lancar ketika kerja di jepang nanti. Alhasil, orang sedesa jadi tahu.

Ketika akan berangkat ke bandara, banyak tamu yang datang untuk memberikan doa beserta uang saku untuk beli permen katanya, hehe. Teman saya bersyukur karena uang yang katanya untuk beli permen itu malah cukup mengganti uang untuk tiket pesawat dari Sumbawa ke Jakarta.

Dan juga cerita dari teman-teman lain yang tidak kalah seru sekaligus mengharukan saat diceritakan. Oleh karena itulah, selama 6 bulan ke depan tugas kami hanya satu, yaitu belajar agar sesegera mungkin menguasai kemampuan N4 tersebut.

Nah, perjuangan yang boleh jadi akan sangat melelahkan baru saja dimulai.

Itsumo Ganbatte Kudasai..いつも頑張って下さい。

*Arsyad Syauqi

 

 

Iklan

Satu Tanggapan to “Teman – Tomodachi – 友達”

  1. olhachayo 6 Desember 2015 pada 6:53 pm #

    すばらし 👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: