Sekilas Tentang Tes Perawat Ke Jepang (Bagian Pertama)

15 Nov

# Kaizen 44

Kalau dibilang cita-cita, keinginan, atau apapun itu namanya, maka keinginan saya untuk bisa pergi ke luar negeri, salah satunya adalah karena dipicu novelnya Bang Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi.

Setelah membaca novel itu, saya merasa bahwa ternyata dunia itu luas, tidak terbatas kampung halaman yang hanya sekelumit itu saja. Lantas saya melihat biografi Andrea Hirata, anak dari Belitong yang mampu menghidupkan mimpi-mimpinya, berjuang untuk sekolah ke ibu kota, berbekal seadanya, lantas kembali berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan beasiswa master nya di Perancis dan Inggris. Dual Degree. Di Sorbone dan Hallam University. Luar biasa!

Sejak saat itu, saya menggenggam kuat impian tersebut, dan entah, kapan akan terwujudnya. Saya hanya bertekad untuk bisa ke luar negeri. Belajar bahasa, budaya, dan berbagai tantangannya yang berbeda.

Tahun-tahun berlalu. Dan setelah lulus dari jenjang diploma Keperawatan di Semarang, saya bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Batam. Selama 3 tahun di rumah sakit tersebut, sambil bekerja, saya tetap ingin melanjutkan mimpi-mimpi saya untuk keluar negeri.

Berbagai informasi saya cari. Berbagai fanpage Keperawatan di media sosial saya ikuti. Dan tahun 2013 kemarin, adalah awal mula saya memulai proses ini.

Pertama memang bukan langsung ke Jepang. Informasi yang ada, lebih ke lowongan kerja perawat di Kuwait. Segera saya merespon informasi tersebut. Saat saya mengambil cuti dari tempat kerja, saya segera melengkapi berkas-berkas yang dipersyaratkan. Bolak-balik Kudus Semarang untuk membuat SKCK internasional, legalisir ke kampus, membuat salinan soft file, dan sebagainya. Lalu saya kirimkan ke alamat agensi yang mengabarkan adanya lowongan tersebut. Berkas saya kirimkan, dan proses itu pun tidak berlanjut lagi sampai sekarang.

Dan agensi yang membuka lowongan tersebut pun entah bagaimana kabarnya hingga saat ini. Nomor telepon yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi, alamat yang di kemudian hari saya tahu ternyata fiktif. Ya, begitulah. Namun, hidup ini harus tetap berlanjut. Mungkin satu pintu itu belum terbuka, namun, saya yakin masih banyak pintu yang lainnya.

Tahun 2014 kemarin. Ada salah satu teman seangkatan saya memberitahu bahwa ada sebuah agensi di Jakarta yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Pemerintah di Qatar. Rumah sakit tersebut membuka lowongan bagi perawat Indonesia yang sudah berpengalaman kerja minimal 2 tahun.

Teman saya tersebut sudah mengikuti pembekalan untuk seleksi. Sejumlah uang sudah dibayarkan untuk mengikuti proses tersebut. Pelatihan intensif selama satu bulan pun dilakukan di sebuah Nursing Center Di Jawa Tengah. Dan akhirnya hari itupun tiba. Hari seleksi.

Pihak rumah sakit Qatar datang ke Indonesia untuk melakukan wawancara. Dan setelah mengikuti wawancara dan sejumlah tes, teman saya tersebut lolos. Tinggal menunggu surat perjanjian kerja turun.

Setelah tahu informasi tersebut, saya pun menanyakan banyak hal. Setelah informasi saya rasa cukup, saya pun memutuskan untuk ikut seleksi tersebut, hanya berbeda gelombangnya.

Kalau untuk mengikuti pembekalan selama satu bulan, saya tidak bisa, karena maksimal cuti hanya dua minggu. Lalu, dua minggu itupun saya pergunakan untuk mengikuti pembekalan di Jakarta, di daerah Lenteng Agung, dekat Universitas Pancasila.

Setelah mengikuti pembekalan yang saya rasa terkesan tidak serius itu. Karena mentornya datang sekehendak hatinya, malah terkadang pembatalan tiba-tiba. Hari seleksi pun tiba.

Tidak seperti teman saya yang wawancara secara langsung. Saya dan teman-teman yang ada di Jakarta waktu itu akan melakukan wawancara menggunakan video call. Dan, setelah waktu yang dinanti tiba, dari 20 peserta wawancara yang hadir saat itu, baru tiga yang diwawancarai oleh pihak dari RS Qatar tersebut. Mungkin bagian SDMnya, saya juga kurang tahu. Setelah itu, tiba-tiba wawancara ditunda karena, katanya, pewawancara ada keperluan untuk bertemu dengan mentri kesehatan.

Wawancara pun ditunda, dengan batas waktu yang belum ditentukan, dan hingga saat ini juga belum jelas kabarnya.

Apakah keinginan saya pupus sampai disitu? Entahlah, saya bingung dengan apa yang saya pikirkan kala itu. Baru dua kali mencoba tes, dua-duanya mengalami kendala.

Setelah kejadian itu, saya ingat ketika berbincang dengan Pak Direktur saat saya sedang ke kampus untuk legalisir. “Mas Uqi, tidak ingin mencoba ke Jepang? Ada lowongan perawat di sana. Prosesnya ditangani langsung oleh pemerintah lewat BNP2TKI”, tutur beliau.

Lantas, tiga bulan sebelum saya memutuskan mengundurkan diri dari tempat kerja, saya memulai mendalami informasi tentang hal itu. Yang bisa saya persiapkan, saya persiapkan. Paspor saya sudah punya, karena kebetulan tahun 2013 saya “dipaksa” untuk ikut ke Singapura karena ada acara. Jadi, saat itu ya mau gak mau harus buat paspor. Lalu menerjemah ijazah ke penerjemah tersumpah.

Dan kabar itupun saya terima.

Ada sebuah lembaga pelatihan bahasa Jepang di Bandung, yang tahun sebelumnya telah berhasil meloloskan alumninya untuk mengikuti tes ke Jepang. Saya berfikir, apakah saya akan ikut tes ke Jepang  tanpa persiapan seperti sebelumnya, ataukah harus ikut pelatihan dengan pilihan harus keluar dari tempat kerja. Saya harus segera membuat pilihan.

Setelah memikirkan hal tersebut dengan matang. Saya pun membuat Keputusan.

Saya memilih untuk mengundurkan diri dari tempat kerja untuk fokus belajar dan mempersiapkan diri untuk mengikuti tes. Tentu saja ada yang pro dan kontra dengan keputusan saya tersebut. Ada yang mendukung, namun ada juga yang mencela.

Salah satu pertanyaan yang susah saya jawab kala itu adalah, “Qi, jika kamu keluar dari tempat kerja, padahal sudah jadi karyawan tetap, lalu hasil dari tes tersebut seperti tes-tes sebelumnya, tidak berhasil. Lantas, apa yang akan kamu lakukan?” pertanyaan tersebut terlontar dari salah satu teman saya.

Saya hanya bisa menjawab, “Ya, saya akan berusaha dulu. Untuk hasilnya nanti, semoga menjadi hasil yang terbaik.”

Saya kira, pertanyaan itu memang wajar jika muncul. Karena, proses tes ke Jepang akan dimulai pada bulan mei. Sedangkan saya mengundurkan diri pada bulan januari. Masih 4 bulan lagi sebelum proses tes itu dimulai.

Setelah itu, saya pun tenggelam dalam suasana pelatihan. Senin sampai jumat, dari pagi sampai sore, kembali seperti menjadi anak kuliahan lagi. Bedanya, kali ini belajarnya full bahasa jepang. Latihan menulis huruf hiragana, katakana, dan kanji. Menulis, menghafal kosakata, memahami tata bahasa serta berbagai perubahannya dalam kalimat yang tersusun atas kata kerja, kata benda, dan kata sifat.

Kalau dibilang kesulitan, saya katakan “iya” pada awalnya. Apalagi seumur-umur baru kali ini mempelajari bahasa jepang. Namun, semakin dipelajari, semakin menyenangkan ternyata. Dunia dengan segala seluk beluknya luas ternyata.

Saat pelatihan, kadang ada yang salah paham memahami kondisi saya. Saya dikira sudah lulus tes ke jepang, tinggal berangkat saja. Saya pun menjelaskan beberapa kali kepada teman-teman yang bertanya bahwa saya sekarang sedang mengikuti pelatihan untuk persiapan tes, jadi belum lolos. Bagaimana bisa lolos,  wong tesnya saja belum diadakan. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul saat saya baru sebulan tidak bekerja.

Bulan april, pengumuman resmi tes EPA ke 9 pun dibuka. EPA, atau lengkapnya IJEPA adalah Indonesia Japan Economic Patnership Agreement, yaitu kerja sama antara Indonesia dan Jepang yang dimulai pada tahun 2008. Tepatnya, 20 agustus 2008, perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani oleh Presiden RS Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Mentri Jepang Shinzo Abe.

Isi perjanjian kerja sama itu banyak, dan salah satunya adalah pengiriman tenaga terampil yang akan mengisi lowongan sebagai Perawat (Kangoshi) dan Careworker/Perawat Lansia (Kaigofukushishi).

Yang bisa mendaftar adalah mereka yang sudah lulus dari kuliah keperawatan, baik diploma maupun sarjana, baik yang baru lulus maupun yang sudah berpengalaman kerja.

Untuk tahapan prosesnya, akan saya jelaskan di tulisan selanjutnya ya.

*Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: