Lentog Tanjung, Mie Ayam, dan Sop Kerbau di Kudus

19 Okt

#Kaizen 43

Kudus, sebuah kota kecil  yang terletak di jalur pantura, menghubungkan Demak dan Pati di jalur utara pulau Jawa, sekarang sudah mulai ramai dibandingkan saat saya masih kecil dulu.

Indikatornya sederhana saja. Saat saya masih MTs, atau sekolah setingkat SMP, masih mudah untuk menyebrang di jalan di depan rumah saya.  Jalan raya di depan rumah saya adalah jalan alternatif yang menghubungkan Kudus dengan Grobogan atau lebih terkenal dengan ibu kotanya, Purwodadi. Lalu, sekarang? Untuk menyebrang jalan saja butuh waktu hingga 5 menit lebih, haha.

Namun, ada juga yang tidak berubah dan selalu menjadi kerinduan saya ketika pulang. Yaitu kulinernya yang enak, mantap, dan terjangkau.

Beberapa waktu yang lalu, sambil menunggu hasil wawancara dengan pihak Jepang, saya pulang ke Kudus dengan teman saya yang dari Bali, namanya Randi. Setelah beberapa hari di Kudus dan berkeliling ke beberapa tempat, kesan pertama malah bukanlah tempat yang kami kunjungi, tapi makanan serta harganya yang bagi dia, orang Bali asli, murah sekali.

Karena kesan dari Randi itulah saya menjadi kepikiran, dan akhirnya, daripada hanya kepikiran saja, mending saya buat tulisan, siapa tahu berguna, Hehe.

Pertama, sebuah makanan yang sangat terkenal di Kudus, namanya Lentog Tanjung. Lenthog adalah sebutan lain buat lontong. Tanjung diambil dari nama tempat jualannya, desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati. Lontong dengan sayur nangka muda nya yang maknyuss, ditambah dengan irisan tahu yang di kuah santan, bawang goreng, serta ditambah sambalnya yang ada dua macam, sudah berupa sambal ulekan atau masih berupa cabai yang direbus, seporsi harganya 3.500 saja. Yap, 3.500 saja.

Sebagai perbandingan, ketika di Bandung, beli cemilan berupa batagor atau seblak, harganya minimal sudah 5 ribuan. Nah, ini, masih 3.500, di tahun 2015. Haha. Kalau saya mah biasanya nambah, bisa nambah satu porsi, bisa nambah separuh, juga boleh. Kalau nambah separuh, bayarnya 2 ribu saja.

Apalagi saat masih di Batam, harga-harga makanan minimal sudah 8ribuan, beli nasi telur tempe tahu penyet saja sudah 10 ribu, entah sekarang sudah berapa mengingat dolar masih terus naik, turun sebentar dan belum mau turun lagi.

Saat saya masih Mts dulu, saya masih ingat betul, seporsi Lentog Tanjung masih 1.500 rupiah seporsi, dan setelah hampir 10 tahun, sekarang harganya ya gak jauh-jauh naiknya ternyata.

Lalu Mie Ayam. Ada sebuah tempat mie ayam yang terkenal juga, namanya Mie Ayam Bang Romi. Kayak nama artis ya, kalau ingat program di Indosiar dulu tahun 2000 an, AFI, ada salah satu pesertanya namanya Romi. Tapi bukan Romi itu yang jualan, beda orang, Haha.

Nah, Mie Ayam ini berbeda dari yang lain, kuahnya mantap, kaldunya luar biasa, bikin ngiler lah pokoknya. Mulai dari dulu yang warung nya ada di tepi jalan, masih berupa warung tenda yang tidak pernah sepi saat mulai buka. Kalau ke situ, antri sudah menjadi hal yang biasa.

Lalu sekarang, lokasi warung yang dulu masuk program pelebaran jalan pemerintah, akhirnya warungnya pindah beberapa ratus meter dari tempat semula dan pemiliknya membangun bangunan baru, dua lantai, dengan meja yang lebih banyak dan menu yang lebih variatif, tidak sebatas mie ayam saja.

Soal harga, tenang, kantong pelajar lah pokoknya, terakhir saya beli beberapa hari yang lalu masih seharga 6.000 rupiah seporsi dengan es jeruknya yang harganya 3.000 rupiah. Saat saya masih Mts dulu, harganya 4.000 rupiah. Ya, begitulah, padahal di Bandung dan Batam, harga mie ayam sudah 10 ribuan. Entahlah, mengapa bisa sedemikian, Hehe.

Lalu yang selanjutnya, sop kerbau, soto kerbau, dan sate kerbau. Nah, makanan-makanan yang berbahan dasar kerbau inilah yang juga menjadi ciri khas Kudus. Biasanya kan kalau soto ya identiknya soto sapi, kalau sate ya sate kambing, dan sop ya sop ayam. Di Kudus, ketiga hidangan itu juga bisa ditemui dengan berbahan baku daging kerbau. Rasanya? Enak pokoknya.

Soal daging kerbau, memang ada sejarahnya. Bagi yang pernah ke Kudus, dan berkesempatan ke Masjid di wilayah Kauman, Kudus Kulon, atau lebih terkenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus, disitu pernah ada orang yang masuk dalam jajaran wali songo atau sembilan wali yang berkontribusi besar dalam penyebaran agama islam pada zaman dulu.

Nah, di Kudus sendiri, ada dua wali. Pertama di kota Kudus, yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus, dan satu lagi di Gunung Muria yang lebih dikenal dengan nama Sunan Muria.

Berbicara soal Sunan Kudus, maka kita akan diajak bicara tentang tenggang rasa antar umat beragama. Banyak kisah yang menceritakan tentang hal itu. Orang-orang tua di Kudus juga masih sering menceritakannya juga.

Zaman dulu, di Kudus terdapat dua mayoritas pemeluk agama. Hindu dan Islam. Nah, sebagai rasa penghormatan kepada pemeluk agama hindu, maka Sunan Kudus menganjurkan para pemeluk agama islam untuk tidak menyembelih sapi. Karena sapi adalah hewan yang dihormati oleh pemeluk agama hindu. Dan anjuran tersebut masih berpengaruh sampai sekarang.

Kadang ada pertanyaan juga, apakah di kudus benar-benar tidak ada daging sapi? Kalau itu ada, di pasar-pasar saya kira juga bisa kita temui para penjual daging sapi. Namun, biasanya daging sapi itu didatangkan dari luar kota. Bukan hasil sembelihan di Kudus. Kalau pas ada acara pernikahan, atau lebaran idul Adha, maka belum pernah saya lihat pemandangan sapi disembelih di kota ini. kalau kerbau malah banyak.

Oh ya, soal harga. Masih terbilang terjangkau lah. Kalau soto dan sate kerbau, karena sudah lama tidak beli, jadi kurang tahu kisaran harganya. Daripada saya tulis malah salah. Nah, kalau sop kerbau, karena kebetulah tetangga sebelah kiri rumah saya jualan, jadi tahu. Seporsi sop kerbau lengkap dengan nasi harganya 5000 rupiah saja. Hihi.

Kira-kira begitulah beberapa kuliner yang ada di Kudus ini. Kiranya ada kesempatan lewat atau mampir ke kota kecil ini, silahkan mencoba.

Sebelum saya akhiri, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mamak tercinta yang sudah saya repotin untuk ngobrol ngalor-ngidulnya tentang makanan ini. Ya, sekali-kali ngobrolin yang ringan-ringan lah, malah akhirnya jadi tulisan yang lumayan panjang.

Selamat berawal pekan, siapa tahu bisa berjumpa di kota kami yang tercinta ini. Kalau ketemu, siapa tahu juga bisa saya ajak untuk makan lentog tanjung yang masih hangat di pagi hari.

Kudus, 19 Oktober 2015, 21.50 WIB

Dari Orang Kudus Asli

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: