The Myth of Easy Succes – Sepenggal Kisah Mozart

22 Sep

mozart#Kaizen 42

Tidak bisa dipungkiri, rasa semangat yang ada dalam diri kita ini tentu adakalanya naik, dan adakalanya turun. Kalau sedang naik sih rasanya tidak jadi masalah. Nah, kalau pas lagi turun, ini yang perlu ditangani dengan segera. Kalau tidak, boleh jadi akan banyak pekerjaan kita yang akan jadi tidak selesai, bisa jadi akan terbengkalai.

Kali ini, saya akan menshare tulisannya Pak Rhenald Kasali yang saya baca beberapa waktu yang lalu di salah satu bukunya yang berjudul “Self Driving”.

Bagi yang semangatnya sedang turun, boleh jadi, tulisan ini akan memberikan energi tambahan biar semangatnya bisa kembali membara. Untuk saya, dan untuk pembaca sekalian.

Tulisan ini berjudul “The Myth of Easy Succes”, silahkan dinikmati…

Banyak orang yang berbicara tentang bakat dan membanggakan bakat yang dimiliki oleh anggota keluarga atau kerabat-kerabatnya. Banyak orang berfikir manusia berbakat “dilahirkan” hingga mereka bisa menampilkan kehebatannya dengan indah.

Perlu dipahami tak ada bakat yang jadi dengan sendirinya. Ketika saya mengunjungi museum Mozart di Wina saya menemukan catatan tentang kehebatan Mozart. Di usia yang sangat muda ia sudah mempertontonkan kehebatannya. Tetapi dalam buku Creative Habit saya menemukan hal berikut.

Tidak ada yang bekerja keras dari Mozart. Pada usia dua puluh delapan tahun, tangannya mengalami rasa sakit yang berat, bahkan agak cacat karena telah menghabiskan hampir semua hidupnya untuk berlatih, melakukan, dan mencengkeram pena untuk menulis berbagai komposisi. Itulah unsur yang hilang dalam potret populer Mozart.

Tentu saja, ia memiliki bakat yang membuatnya berbeda dari orang lain. Dia memang musisi paling lengkap : menulis komposisi untuk berbagai kombinasi instrumen, dan tidak ada orang lain yang membuktikan kehebatannya dengan kemampuan menulis musik yang lebih indah dari suara manusia selain Mozart. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Mozart telah bekerja sangat keras dengan penuh disiplin untuk melahirkan bakat istimewanya.

Mozart sendiri menulis begini kepada temannya, “Orang-orang yang berfikir sempit menilai keahlian saya datang dengan mudah seperti turun dari langit atau bawaan lahir. Saya yakinkan Anda, teman, tidak ada orang yang telah mengabdikan begitu banyak waktu dan latihan begitu keras dalam membuat komposisi seperti saya. tidak ada master terkenal yang musiknya belum saya pelajar berkali-kali dengan penuh kesungguhan.”

Fokus Mozart sangat kuat. Ia memaksa dirinya berada dalam tempaan latihan itu untuk menghasilkan karya-karya penting dalam hidupnya yang relatif singkat. Semua itu dilakukannya dalam kondisi kehidupan yang sulit, menulis di bawah bimbingan ayah dan pelatih sampai menjelang dini hari sebelum tirai jendela dibuka, menghadapi berbagai gangguan dalam keluarga yang membesarkannya saat mereka perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Apapun penghargaan dan keagungan yang Anda berikan terhadap karya musik Mozart, atau sebutan sebagai manusia genius, disiplin dan etos kerja yang kuat telah membentuknya,” (Twyla Tharp, The Creative Habit : Learn It and Use It for Life, 2003)

Pada usia 21 tahun Mozart melakukan karya terkenalnya : komposisi Piano Concerto No. 9. Menurut Geoffrey Colvin yang menulis Talent is Overrated : What Really Separates World-Class Performers from Everybody Else, karya itu dilahirkan melalui disiplin latihan selama 18 tahun di bawah bimbingan tutor sang ayah,

Selain Mozart, hal ini serupa juga dilalui oleh Charles Darwin dan mereka semua mengakui hal berikut ini: “When you stimulate your body, your brain comes alive ini ways you can’t stimulate in a sedentary position.” Bahkan Michaelangelo mengatakan: “Jika Anda tahu betapa kerasnya saya bekerja untuk mendapatkan keahlian saya, maka sesungguhnya tak ada yang perlu mereka kagumi.”

Yap, sekian dari tulisan beliau, Bapak Rhenald Kasali,

Hal ini sepertinya menarik untuk kita renungkan bersama.

Kudus, 22 September 2015

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: