Jangan Hanya Jadi Jago Kandang

4 Sep

#Kaizen 41

Boleh jadi, hal ini klasik untuk dibicarakan. Ketika masih kecil, boleh jadi ketika ditanya tentang cita-cita, maka anak-anak yang masih belia akan spontan mengucap, ingin menjadi polisi, ingin menjadi dokter, ingin menjadi insinyur, dan sebagainya. Entahlah, saya dulu juga ikut-ikutan seperti itu, hanya berucap, belum mengerti benar apa itu cita-cita. Yang ada saat itu, mungkin keren saja kedengarannya.

Masa kecil pun berangsur-angsur menjadi remaja dan dewasa. Boleh jadi, teman-teman seangkatan saya sudah di mana-mana. Mudah saja mengeceknya, asalkan terhubung dengan media sosial, tinggal klik, dan terlihatlah semua aktifitasnya. Dengan syarat, orang tersebut juga “rajin” mengupdate keberadaannya.

Si ini sudah di sini, sudah berkeluarga, dari fotonya tampak dia dan istrinya sedang menimang momongan yang beberapa hari lalu lahir. Lalu si itu, sudah masuk institusi negeri yang dulu diidam-idamkannya, dan seterusnya. Terlihat wajah “sumringah” di wajah mereka. Alhamdulillah, saya ikut senang, bersyukur, teman-teman saya sudah mulai mendapatkan impiannya masing-masing.

Namun juga, saat saya melihat beberapa akun lainnya, terlihat beberapa teman semasa MA (setara SMA), sedang berfoto di sebuah tempat di negeri Ginseng. Yap, Korea. Setelah saya “kepo”in linimasanya, ternyata beberapa pemuda yang saya kenal dulunya agak”bandel” semasa MA (Madrasah Aliyah), eh, sekarang sedang mencari nafkah di Korea. Dengan berbagai foto yang menandakan mereka terlihat “nyaman” di sana.

Saya tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa melakukannya.

Lantas, Ketika sebagian besar animo yang berkembang di masyarakat kita, yaitu, kalau bisa bekerja dekat rumah saja. Pagi berangkat dan sorenya bisa pulang. Makan pagi dan makan malamnya bisa di rumah, tidak usah menyewa kos, lalu uangnya bisa ditabung, dan sebagainya. Saya luput dari pengamatan bahwa sebagian besar pemuda di desa saya ternyata mengadu nasib di luar kota, bahkan luar pulau.

Beberapa teman saya ada yang bekerja sebagai tukang bangunan, yang ketika lebaran kemarin, pas ketemu, kami pun berbincang. Dia kemarin habis dari Manado, lalu Makasar. Dan tahun-tahun kemarin saat belum sempat bertemu, dia telah menyambangi Bali, Jatim, Jabar, Yogyakarta, Jakarta (kalau ini sudah berkali-kali), dan beberapa wilayah di Sumatra.

Jadi, tidak hanya masyarakat Minang saja yang terkenal merantau dengan bukti banyaknya warung nasi Padang di berbagai tempat, orang-orang Jawa pun tersebar di berbagai wilayah di Nusantara, bahkan Luar Negeri, mengadu nasib, mengejar impian.

Begitupun dengan dunia Keperawatan. Dari media sosial kita bisa begitu mudahnya menemukan banyaknya perawat yang melanglang buana ke berbagai negara, untuk belajar maupun bekerja. Sebagian dari mereka ada yang rajin menulis di blog maupun media soial lainnya, sementara yang lain, menjadi “silent rider”, boleh jadi karena kesibukan dalam pekerjaannya.

Yang jelas, para perawat Indonesia pun sudah mulai terlihat di berbagai negara. Sebelum lebih lanjut, ada baiknya kita harus berterima kasih kepada para penemu dan pengembang di bidang IT, karena tanpa mereka, informasi semacam ini akan sulit untuk ditemukan.

Baiklah, saya tertarik untuk menulis kali ini karena sebuah pesan singkat dari teman yang sekarang sedang bekerja sebagai Perawat Homecare di Riyadh, Arab Saudi, yang baru berangkat seminggu yang lalu.

Setelah melalui proses yang lumayan panjang, mulai dari pendaftaran, wawancara, medical check up, lalu berkas masuk ke kedutaan, dan seterusnya, akhirnya berangkatlah ia ke Arab Saudi. Naik Pesawat Etihad, perjalanan selama hampir dua belas jam dengan transit di Abu Dhabi. dan setelah sampai, lantas menuju tempat pasien yang akan dirawat.

Sesampainya di sana, dia menjadi orang keempat dalam tim yang menangani pasien tersebut. Ketiga orang lainnya berasal dari Filipina yang sudah cukup lama berada di sana.

Pasien yang dirawat memiliki diagnosa media Gagal Ginjal Kronis, sehingga dua kali seminggu harus cuci darah (Hemodialisa) ke rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal pasien. Ketika mengantar pasien tersebut ke rumah sakit, terlihat banyaknya perawat dari Filipina yang ada disitu. Sambil menunggu pasien tersebut cuci darah yang memakan waktu sekitar empat jam, teman saya tersebut ngobrol dengan perawat yang sedang jaga.

Inti dari pertanyaannya adalah, mengapa perawat Filipina bisa begitu banyak tersebar di berbagai penjuru dunia? Kira-kira begitu. Lalu berceritalah si perawat dari Filipina tersebut.

Kira-kira seperti ini jawabannya, “Di Filipina, Diploma untuk Keperawatan itu hanya 2 tahun, itupun belum bisa jadi perawat di RS, bisanya kerja jadi asisten di klinik. Kalau perawat, kuliahnya 4 tahun dan setelah itu ditambah 2 tahun pelatihan untuk mendapatkang gelar RN (Registered Nurse : Perawat yang teregistrasi) , yaitu dengan mengikuti ujian NCLEX (National Council Licensure Examination), dan setelah lulus ujian itu baru boleh bekerja, itupun dengan tuntutan agar bekerja di Luar Negeri. Jadi, semasa kuliah, mereka sudah punya target untuk ke luar negeri. Ke negara mana lalu belajar bahasanya juga. Jadi wajar kalau perawat dari Filipina itu tersebar di mana-mana.”

Bila Anda mengikuti perkembangan MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) yang mulai bergulir tahun ini, boleh jadi invasi perawat dari Filipina pun akan terjadi ke negeri ini. Apalagi jika mereka sudah mempelajari bahasa Indonesia, maka persaingan pun tidak bisa dihindarkan bukan?

Otomatis, para direktur rumah sakit pun akan dihadapkan pilihan. Jika orang lokal dan dari Luar Negeri, katakanlah Filipina, melamar pada rumah sakit yang sama. Kedua orang ini sama-sama lulusan perawat, namun, orang Filipina tidak diragukan lagi kemampuan bahasa Inggrisnya, karena memang mereka menggunakan bahasa Inggris selain bahasa Tagalog dalam kesehariannya.  Maka, jika kita yang dari lokal tidak berusaha meningkatkan kemampuan kita dan hanya terjebak pada kemampuan “jago kandang”, maka jangan salahkan siapa-siapa jika orang dari Filipina itu yang akan dipilih.

Boleh jadi, belum akan terasa di rumah sakit di daerah, namun, jika kita melihat berbagai rumah sakit besar yang sudah berstandar internasional, hal ini mungkin saja akan terjadi. Apakah itu berdampak? Saya kira lama-lama akan berdampak juga. Secara, kita bisa melihat banyaknya lulusan Keperawatan tiap tahunnya. Dan jika berbagai rumah sakit yang awalnya bisa dimasuki oleh orang lokal, maka jika MEA sudah bergulir, maka kompetisi pun akan terjadi.

Yap, memang cara satu-satunya untuk ikut kompetisi ini ya kita juga harus meningkatkan kemampuan kita. Baik secara kemampuan keperawatan dan bahasa. Penekanan sekali lagi, Bahasa. Perlu digaris miring, ditebelin, dan digaris bawah! Tidak ada waktu lagi untuk bersantai jika ingin bersaing, atau jika hanya bersantai, maka bisa saja kita mendapatkan lambaikan tangan seraya ucapan “Good Bye”.

Haha, ngomong apa sih saya ini, serius amat yak.

Bandung,  4 September 2015

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: