Hope

15 Agu

#Kaizen 40

Malam minggu kali ini, ada satu kata yang terlintas di benak saya ketika hendak menulis. Yaitu kata “Hope”, atau dalam bahasa Indonesia nya lebih kita kenal dengan arti harapan. Entah, nanti tulisannya akan berbentuk seperti apa, yang jelas, biarlah ide ini mengalir, menemukan muaranya.

Hingga hari ini, sudah hampir tujuh bulan saya berada di Baleendah, sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung, bukan di Kota Bandung ya, beda daerah soalnya. Di dekat sini ada sungai Citarum yang terkenal itu, yang dengan penuh rasa maaf saya katakan, sesuai dengan berita di media, yak, terkenal karena sering meluap, dan ketika saya ditanya oleh teman maupun keluarga tentang keberadaan saya, mereka pun spontan akan berkata, “Oh, daerah yang sering banjir itu ya?”, ya begitulah.

Namun, saya tidak akan membicarakan tentang sungai Citarum ini. Boleh jadi, berbagai media yang terkenal sudah sering membicarakannya. Saya akan membicarakan diri saya sendiri saja, karena sepertinya itu lebih mudah :D.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sudah hampir tujuh bulan saya di sini, dengan kebiasaan baru yang penuh pembelajaran tentunya. Jika sebelumnya, ketika saya di Batam, setiap tanggal 10, 20, dan akhir bulan selalu ada pemberitahuan di SMS Banking tentang berapa nominal yang masuk. Kali ini hal itu tidak terjadi lagi. Alasannya simpel, karena saya memang sedang tidak bekerja.

Di sini saya memulai untuk belajar tentang hal baru. Yaitu bahasa Jepang dan berbagai hal-hal yang berkaitan dengan Jepang. Saya masih ingat betul, pertama kali datang ke tempat ini, saya belum tahu apa-apa tentang apa yang akan saya pelajari. Tentang huruf Hiragana, Katakana, apalagi Kanji. Semua itu masih asing bagi saya.

Namun, dengan satu tujuan yang pasti, saya memantapkan diri untuk mengundurkan diri dari tempat kerja lalu bergabung dengan teman-teman yang juga memiliki tujuan yang sama juga. Kami ingin bekerja di Jepang melalui program IJEPA yang dinaungi oleh BNP2TKI.

Perlahan, saya mulai belajar cara menulis huruf Hiragana. Bagi saya ini seperti menulis huruf Ha Na Ca Ra Ka dalam bahasa Jawa. Dengan bentuk abjad yang masih asing, saya terus belajar. Setelah itu, meningkat ke Katakana. Saat itu, jangan dibayangkan saya langsung bisa membaca dengan lancar. Semua itu perlu proses, perlu waktu, dan tentu saja, perlu kesungguhan.

Proses dengan waktu memang selalu berbanding lurus. Kalau proses dijalani dengan memanfaatkan waktu dengan baik, maka hasil nya pun mulai terlihat. Saya mulai bisa membaca bacaan Jepang sederhana, walaupun masih tergagap-gagap. Namun, sensei kami selalu mengapresiasi setiap perkembangan kami, dan itu membuat kami untuk selalu terus belajar, belajar, dan belajar.

Hingga akhirnya kemarin diadakan lomba pidato bahasa jepang, yang semata-mata untuk menilai sejauh mana kemampuan kami dalam menggunakan bahasa jepang, sekaligus persiapan untuk wawancara di Jakarta empat hari nanti. Yaitu tanggal 19 Agustus.

Ada 3 orang terbaik yang diberikan gelar terbaik satu, dua, dan tiga. Dan saya luput dari ketiganya, Hehe. Namun, tidak apa-apa. Bukan berarti yang tidak masuk dalam tiga besar adalah jelek, kami pun sudah berusaha dengan maksimal.

Hanya saja, 3 orang yang yang mendapatkan predikat terbaik itu adalah sebagai contoh kami untuk bisa terus maju ke depan. Karena mereka adalah teman kami sendiri, dan tentu saja, hal itu akan menjadi pembelajaran yang baik bagi kami. Sharing tentang kekurangan dan sesegera mungkin untuk memperbaikinya.

Termasuk saya tentunya. Dari ketiga orang terbaik itu, saya melihat bagaimana mereka membawakan pidatonya dengan penuh energi. Energi yang melahirkan semangat yang mampu mempengaruhi orang. Dan itulah yang perlu kami contoh.

Saya masih ingat betul sebuah kata mutiara yang kurang lebih isinya seperti ini. Kesuksesan seseorang itu bukan hanya dinilai dari tingginya hal yang dicapai, namun, lebih ke arah darimana ia memulainya.

Semisal, ada seorang pemimpin perusahaan yang bergengsi, namun, jabatan itu ia dapatkan karena “diberi” oleh orang tuanya, akan sangat berbeda dengan jabatan tinggi itu ia capai karena usaha kerasnya, dari bawah, dari nol.

Memang saya sekarang bukan seorang pemimpin perusahaan, entah suatu saat nanti, Hehe. Namun, hasil yang saya dapatkan hingga saat ini, sudah bisa membaca huruf Hiragana dan Katakana, serta mulai belajar huruf Kanji, adalah sebuah hasil dari proses dalam waktu yang tidak singkat.

Yang awalnya saya tidak mengerti apa-apa, sekarang sudah mulai bisa mengerti apa yang tertulis menggunakan huruf-huruf tersebut. Walaupun jelas masih banyak kekurangan dalam diri saya, terutama masih banyaknya huruf kanji yang perlu saya pelajar lagi. Karena sampai saat ini, saya baru mempelajari sekitar 200 huruf dari sekitar 2000 huruf kanji yang ada.

Dan semua hal tersebut akan menjadi lebih lengkap jika ditambah dengan “Hope”. Harapan. Yang tentu saja hal ini adalah bagaimana kita terus bersyukur atas berbagai hal yang telah diberikanNya kepada kita sedari dulu hingga saat ini. Termasuk kenikmatan untuk mulai bisa memahami bahasa baru.

Semoga, dengan harapan, doa, serta tujuan yang jelas, segala hal-hal yang sekiranya sulit akan dimudahkan olehNya, Sang Maha Kuasa.

Yap, hari Rabu tinggal empat hari lagi. Bagi teman-teman yang mendaftar Kangoshi, dan lolos ujian kompetensi serta psikotes, insya allah kita akan bertemu di Hotel Alila, Jakarta. Mari kita tunjukan kemampuan terbaik kita, semoga jalan kita dimudahkan, dan juga semoga kita bisa mencapai apa yang kita harapkan.

Begitu juga dengan teman-teman yang mendaftar Kaigofukushishi. Ganbatte Kudasai!

Bandung, 15 Agustus 2015

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: