Persiapan Speech Contest

8 Agu

#Kaizen 39

Saya benar-benar “blank” saat hendak menulis tulisan ini. Dari tadi sore, belum juga dapat ide. Entah, akhir minggu ini saya akan menulis tentang apa. Sebenarnya, kalau bicara soal outline, atau kumpulan ide, saya ada, beberapa kali saya segera menuliskannya saat “slentingan” ide itu muncul.

Namun, entahlah, kalau sudah akhir pekan seperti ini. walaupun saya buka kumpulan “ide” itu, kadang masih saja bingung, kemarin mau nulis apa ya, haha.

Yah, sudahlah, mungkin belum waktunya untuk menulis kali, pikir saya. Jadi, daripada saya bengong gak jelas di depan layar laptop, yang malah melototin balik pada saya, saya teruskan saja menulis materi speech contest yang sudah beberapa kali di revisi.

Oh ya, sambil menunggu waktu wawancara dengan pihak Jepang yang inshaallah akan berlangsung mulai tanggal 19 sampai 27 bulan ini. Minggu depan, atau 3 hari lagi, yaitu hari selasa dan rabu, di tempat pelatihan kami akan ada speech contest, atau gampangnya kita sebut saja lomba pidato, yang tentu saja dalam bahasa Jepang.

Materinya tentang motivasi kami untuk pergi ke Jepang. Baik sebagai Kangoshi (Perawat) maupun Kaigofukushishi (Careworker).

Sore tadi, beberapa dari kami yang sudah menyusun bahan untuk pidato, mencoba latihan dengan dengan ditemani sensei kami, yaitu Intan Sensei. Kami bergantian maju. Satu persatu mencoba mempersembahkan hasil ide serta pemikirannya.

Namanya masih dalam tahap koreksi dan konsultasi, ada-ada saja hal lucu yang terjadi. Mulai dari isinya yang dari awal sampai akhir loncat-loncat alias belum nyambung, ada yang sudah hampir jadi, namun saat mencoba di depan para penonton, tangannya ikut bergoyang alias masih grogi, ada juga yang cara membawakannya mirip komentator sepak bola tarkam, cepat, meledak-ledak, dan tanpa koma, haha.

Sama hal dengan materi yang saya buat. Waktu masih awal-awal saya buat, memang sudah jadi, namun setelah dikoreksi oleh sensei saya, isinya ternyata monoton dan terlalu umum. Setelah dikoreksi dan diberikan beberapa saran, saya segera memperbaikinya lagi.

Segera saya tulis perbaikannya. Dan tadi sore, setelah saya ikut mempresentasikannya bersama teman-teman yang lain, tanggapan dari sensei adalah sudah cukup baik. hanya saja, perlu ada pembenahan di beberapa paragraf, atau lebih tepatnya, ada paragraf yang asalnya terletak di akhir, akan lebih berkesan kalau dipindah ke bagian tengah, serta hal-hal lain yang perlu ditambahi serta dikurangi.

Yap, segera, setelah itu saya tulis lagi. Dua lembar kertas A4 sudah terisi dengan spasi 2, alhamdulillah, selesai, pikir saya. Namun, setelah makan malam tadi, saya mencoba membacanya kembali, sekalian untuk segera menghafalkannya. Namun, baru sampai paragraf kedua, saya merasakan ada hal yang janggal. Kok tidak nyambung ya. Pikir saya.

Setelah beberapa kali saya baca kembali, dan melihat kembali kertas yang sudah saya coret-coret tadi sore, yah, ketemu sebabnya. Ada satu baris yang kelewatan. Haha. Alamat harus menuliskannya mulai awal lagi deh.

Namun, bagi saya, ada salah satu nasihat dari sensei kami, yaitu Rizal Sensei, yang sangat berkesan. Beliau mengatakan bahwa untuk bisa menguasai suatu bahasa baru, dalam hal ini bahasa Jepang, maka tempuhlah hal-hal yang sulit agar bisa memahaminya dalam jangka waktu yang lama. Tidak sekedar hafal, lalu setelah itu segera lupa kembali.

Semisal untuk menghafal kosakata (dalam bahasa Jepang namanya “kotoba”) baru, kalau hanya membacanya saja tanpa menuliskannya, maka boleh jadi akan segera lupa. Dan memang itu benar adanya. Apalagi kalau belajar huruf Kanji, mulai yang coretannya sedikit, semisal Kanji Kawa (artinya sungai) yang coretannya berjumlah 3 coretan, sampai jenis-jenis Kanji yang sulit bin ribet, ada yang sampai 26 coretan dalam satu hurufnya. Kalau cara belajarnya tidak dengan cara menuliskannya, boleh jadi akan segera lupa.

Sama halnya dengan materi speech contest yang saya buat. Padahal, saya pikir itu sudah jadi, eh, ternyata saya harus menuliskannya lagi dari awal. Namun, kalau saya mengingat nasihat dari sensei saya, ini malah menjadikan kesempatan bagi saya untuk mengulang kembali apa yang saya tulis. Boleh jadi, saat saya menuliskannya kembali ada beberapa bagian lain yang terlewat atau perlu perbaikan kembali.

Sekaligus, saya bisa mereview materi tersebut.  Karena menurut saya, semakin sering materi itu saya baca, akan sangat memudahkan untuk mengingatnya. Apalagi kalau sudah memahami isinya secara keseluruhan, akan tambah sangat memudahkan lagi saat hari selasa nanti tampil di muka penonton.

Lah, kok malah kemana-mana ini tulisannya, haha. Padahal saya tadi bilang saya lagi “blank”.

Memang benar, tadi saya memang sedang tidak ada ide untuk menulis, hanya saja, karena tadi pas habis nulis materi speech contest yang kurang satu baris karena terlewat dan harus mengulanginya lagi dari awal, saya pikir, saya tulis saja hal tersebut sekaligus rehat sejenak. Karena, setelah mengeluarkan unek-unek semacam ini, pikiran kembali segar. Dan saya bisa menulis dengan lebih tenang dan bersemangat lagi, Heze.

Oh ya, sebagai penutup, sensei saya pernah bercerita, saat dulu beliau mengerjakan skripsi, semua materinya ditulis tangan semua loh! 200 lembar dengan mayoritas huruf Kanji. Makanya ingatannya akan huruf-huruf yang njelimet ini tajam!

Yap, Minasan, Zutto Ganbatte Kudasai.

Bandung, 8 Agustus 2015

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: