Husna dan Puzzlenya

1 Agu

#Kaizen 38

Konbanwa Minasan, selamat bermalam minggu ria buat semua. Bagaimana kabar malam ini? Oh ya, ada yang sempat menyaksikan blue moon kemarin? Dari cerita banyak orang, katanya sungguh indah, suatu pengalaman yang tidak setiap saat bisa didapat, hanya saja, tadi malam, di sini hujan. Jadi ya kami hanya bisa melihatnya lewat berita saja, hihi.

Namun tidak apa-apa, boleh jadi lain waktu saya akan bisa melihatnya.

Yap, liburan telah usai. Yang kemarin pada liburan, kini pun sudah mulai memasuki masa sekolah lagi. Yang kemarin sudah TK, kini mulai masuk SD. Yang kemarin sudah diswisuda dari kelas 6 SD, kini mulai masuk SMP atau MTs, dan seterusnya.

Begitu juga dengan keponakan saya, Husna namanya. Dia pun mulai ikut masuk sekolah lagi. Hanya saja, kemarin dari Play Grup, dan sekarang ke SMP, eh, ke TK maksudnya.

Saat libur lebaran kemarin, Husna main ke Kudus, ke rumah mbahnya, alias orang tua saya. tentu saja tidak sendirian, Husna datang bersama orang tuanya, yaitu mbak saya dan suaminya. Namanya tidak ketemu dalam waktu cukup lama, rumah yang biasanya hanya ada bapak dan ibu saya, kini menjadi ramai. Apalagi Husna sudah mulai banyak bicara, seperti saya, eh, seperti orang tuanya lah, haha. Saya kan kalem orangnya. Udah, percaya aja deh pokoknya. *kalem

Nah, yang menjadi cerita menarik saat saya bersama Husna kemarin adalah saat saya membelikannya puzzle bergambar yang terdiri dari 9 kepingan dalam satu puzzle. Saat membeli, saya mencari puzzle yang isinya 3×3 dan 4×4. Sayangnya, yang ukuran 4×4 tidak ada, mungkin habis, jadinya saya membeli yang isinya 5×5 alias ada 25 keping dalam satu puzzle bergambar tersebut.

setelah sampai rumah dan saya memberikan puzzle tersebut, maka, tak butuh waktu lama, Husna langsung mengobrak-abriknya. Dan…….dia pun bertanya, “Om, ini gimana cara masangnya?” dengan tampang polosnya, haha.

Dan saya pun membantunya untuk menyusun puzzle tersebut. “Yak, pasang dipinggir dulu, terus yang agak ke tengah,” begitu saya membantunya. Perlahan demi perlahan, Husna pun mulai menyusunnya, dan ketika bertemu dengan bagian yang agak susah, tiba-tiba langsung ngambek, “Ah, susah, Om”, rengeknya. Sambil tiba-tiba diam. Bersedekap. Tapi dari raut mukanya terlihat jelas, bahwa dia ingin menyelesaikan bagian yang susah tersebut.

Haha, ternyata lucu juga melihat anak kecil tiba-tiba ngambek. Mukanya jadi lucu. Namun, setelah itu, saya pun membantunya untuk menyelesaikan beberapa bagian yang tersisa. Dan, tadaaaaaaaaa, akhirnya puzzle itu pun selesai. Puzzle dengan isi 9 keping itu selesai dalam waktu hampir 10 menit, disertai ngambek juga tentunya, Hehe.

Namun, setelah beberapa kali mencoba memainkannya, ternyata kecepatan Husna untuk menyusunnya bertambah cepat. Yang asalnya 10 menit, yang disertai ngambek juga, lalu berangsur-angsur menjadi 7 menit, lalu, 5 menit, dan setelah berkali-kali memainkannya, menjadi kurang dari semenit.

Weeeeee, dengan bangganya dia berkata, “Om Uki kalah sama Husna, yeyeyeye”. Haha.

Dan inilah pembelajaran yang saya dapatkan saat itu.

Dalam beberapa hal, kita, sebagai  orang yang boleh jadi lebih tua umurnya dari anak kecil, sering kali lebih mudah menyerah daripada anak kecil yang sedang belajar berbagai hal.

Boleh jadi, saat kita “ngambek” atas sesuatu hal, malah menjadikan kita tidak melakukan apa-apa. Alhasil, pekerjaan yang kita lakukan, apapun itu, malah tidak selesai.

Dalam mengerjakan berbagai hal, khususnya dalam belajar, pasti kita akan menemui kesulitan, terutama untuk memahami bagian yang memang sulit. Namun, hal itu bukan tidak ada jalan keluarnya. Setiap ada pertanyaan atau hal yang sulit, maka boleh jadi akan selalu ada guru yang bisa membantu kita untuk menyelesaikannya.

Bisa jadi, memang guru dalam artian yang sebenarnya, atau bisa juga dengan membaca berbagai bacaan dari buku untuk membantu kita menyelesaikan pertanyaan itu.

Intinya, tetap selalu akan ada jalan keluar. Hanya saja, tergantung kitanya, akankah kita terus akan mencarinya, atau berhenti. Kalau terus mencari, boleh jadi akan segera ketemu. Namun kalau berhenti, ya akan terus selalu seperti di belakang lampu merah, walaupun lampu itu berubah menjadi kuning dan hijau.

Halah, ngomong apa sih saya ini. kok malah jadi berat, Hehe.

Yang jelas, mari kita selalu bersemangat untuk belajar. Khususnya teman-teman yang kemarin sudah mendapatkan pengumuman lolos tes tahap kedua, baik yang daftar Kangoshi maupun Kaigofukushishi, dan akhir bulan ini akan mengikuti tes tahap terakhir di Jakarta dan Medan. Wawancara, Japanese quiz, dan aptitude test.

Jangan lupa lembara Hiragana dan Katakananya dipelajari juga, ya. Semoga, kita semua dimudahkan tahap selanjutnya. Aamiin.

Oh, ya. Ngomong-ngomong, si Husna lagi ngapain ya?

Bandung, 1 Agustus 2015

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: