Perawat Indonesia di Jepang

25 Jul

#Kaizen 37

Konbanwa Minasan,selamat malam buat semua. Wah, ternyata sudah malam minggu lagi ya. Cepat rasanya. Kata “cepat”, kalau dalam bahasa jepangnya, “hayai”. Yap, Hayai desune.

Bagaimana suasana malam minggu kali ini? Apakah ada juga yang sedang menikmati malam minggu kali ini dengan tugas-tugas? Seperti kami yang ada di sini, Hehe.

Beberapa saat yang lalu, saat saya sedang mengerjakan beberapa tugas, ada pesan masuk dari sensei saya di Whatsapp. Klunting, bunyinya. Lalu saya buka. Pesannya singkat. Ada link dari Kompasiana yang disertakan, dan ada kalimat, “Lumayan buat refresh semangat. Tulisan dari Tori Minamiyama.”

Setelah saya buka dan baca. Memang benar, inilah informasi yang bisa memompa semangat. Saya belum kenal sepenuhnya dengan Tori Minamiyama, namun, saya harus berterima kasih dengan sangat atas tulisannya ini. Dalam bahasa jepang, boleh jadi saya akan bilang, “Makoto ni duomo arigatou gozimasu.”

Baiklah, sebagai bacaan malam minggu kali ini, saya ambilkan tulisan beliau dengan penuh respek dari Kompasiana.com, dengan judul seperti yang tertera di atas. Oh ya, walaupun ini tulisan yang ditulis oleh beliau di tahun 2010, tepatnya 22 Oktober 2010, namun, informasinya masih sangat relevan.

Baiklah, selamat berakhir pekan untuk semua. Selamat membaca, semoga bisa memberikan manfaat, khususnya, teruntuk teman-teman yang sedang mengikuti serangkaian tes IJEPA tahun ini.

***

Perawat Indonesia di Jepang

Oleh Tori Minamiyama

Sampai saat ini pasti kita masih ingat tentang berita maraknya pengiriman para perawat dan pengasuh lanjut usia dari Indonesia ke Jepang, yang menjadi peserta program kerjasama Indonesia – Jepang, dalam rangka Perjanjian Kemitraan Ekonomi (EPA).

Program ini didasari kepentingan kedua Negara, yaitu dari pihak Jepang memang kekurangan tenaga perawat dan pengasuh lanjut usia karena menurunnya populasi dan semakin banyaknya para lansia, sedangkan dari pihak Indonesia karena tersedianya banyak tenaga kerja yang bisa memenuhi kebutuhan itu dan perlunya memberi pengalaman para perawat Indonesia meningkatkan kemampuannya di negara matahari terbit tersebut.

Demi tercapaianya tujuan program tersebut, maka di Indonesia diadakan pelatihan-pelatihan tehnik keperawatan dan bahasa Jepang dibeberapa wilayah, salah satunya yang diselenggarakan oleh Association for Overseas Technical Scholarship (Zaidan Houjin Kaigai Gijutshusha Kenshuu Kyoukai/AOTS) yang berpusat di Yokohama bekerjasama dengan lembaga-lembaga Bahasa Jepang di Indonesia.

Pada bulan  Agustus 2010 yang lalu sebanyak 116 calon perawat dan pengasuh lanjut usia telah tiba di Jepang yang merupakan kelompok ketiga, dengan kedatangan mereka itu maka jumlah keseluruhan sejak dimulainya program ini pada tahun 2008, sebanyak 686 orang perawat asal Indonesia telah berada di Jepang. Suatu jumlah yang lumayan banyak dan rencananya akan semakin bertambah dan mereka tersebar di banyak kota di Jepang.

Syarat yang ketat diberlakukan oleh pemerintah Jepang untuk bisa menjadi tenaga kesehatan seperti perawat dan pengasuh lanjut usia ini. Sebagian besar calon perawat yang telah ikut ujian menyatakan, kendala utama yang dihadapi yakni, huruf kanji dan istilah teknis yang digunakan dalam lembaran ujian. Tetapi untuk mengatasi keluhan-keluhan tersebut pemerintah Jepang juga telah berusaha membuat langkah-langkah untuk membantu mereka semua, misalnya Kementerian Kesehatan (Kousei Roudousho) berencana menggunakan kata dalam bahasa Inggris, untuk menjelaskan istilah kanji yang digunakan dalam ujian negara untuk perawat, mulai bulan Februari tahun depan dan Kawamura Yoshiko, Profesor Bahasa Jepang di Tokyo International University [Tokyo Kokusai Daigaku], telah menambahkan versi Bahasa Indonesia untuk Kamus Internet yang ditujukan bagi para pelajar asing yang mempelajari bahasa Jepang guna membantu para calon perawat dan pengasuh lanjut usia dari Indonesia.

Berdasarkan ketentuan program, calon perawat diwajibkan kembali ke negara mereka bila gagal menempuh ujian dalam tiga tahun. Sedangkan bagi para calon pengasuh lanjut usia, mereka diwajibkan kembali ke negaranya bila gagal menempuh ujian yang diselenggarakan pada tahun keempat.

Walaupun ujian untuk perawat di Jepang sangat sulit, bersyukur ada dua orang perawat Indonesia yang bisa lulus, mereka adalah Ria Agustina dan Jared Febrian Fernandes. Keberhasilan Jared dan Ria lulus ujian perawat di Jepang, telah membuat gempar pemberitaan baik di Jepang maupun di Indonesia, karena tidak gampang untuk bisa melewatkan ujian Negara keperawatan tersebut, dan pada tahun ini dari 254 orang calon perawat asing yang ikut ujian, hanya 2 orang saja yang berhasil lulus dan mendapatkan sertifikasi yaitu perawat asal Indonesia.

Semoga dengan keberhasilan mereka berdua bisa memotifasi rekan-rekannya yang lain. Duta Besar Jepang untuk Indonesia bertemu dengan mereka berdua dan berkata, “Kalian berdua tentu pahlawan, karena sudah lulus,” ujar Dubes Shiojiri. “Tapi, yang kini masih berusaha untuk lulus ujian perawat di Jepang, juga pahlawan. Begitu juga, beberapa orang yang sudah kembali ke Indonesia, mereka juga pahlawan.”

Dengan melihat kehebohan akan kelulusan dalam menempuh ujian keperawatan tersebut, mengartikan kalau memang kemampuan dalam bekerja dalam bidang keperawatan sangat dibutuhkan oleh pemerintah Jepang. Hal ini semoga memberi pengertian yang kuat untuk calon-calon perawat khususnya pemerintah Indonesia untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dengan serius dan baik.

Para pembaca kompasiana pasti asyik membayangkan dan berpikir seperti apakah bekerja sebagai perawat di Jepang, seperti apakah keadaan Rumah Sakit dan Panti Jompo untuk lansia itu di Jepang?

Memang benar sebaiknya kita semua dan juga para masyarakat Indonesia tahu tentang hal itu. Saya walaupun tidak bisa menguraikan dengan lengkap hal itu tetapi akan berusaha membagi pengalaman selama berhubungan dengan perawat, dokter dan Rumah Sakit di Jepang.

Pada intinya pemerintah dan masyarakat Jepang sangat menganggap kesehatan merupakan hal yang sangat penting dan mereka terbiasa dan akrab sekali dengan kegiatan keluar masuk Rumah Sakit untuk berbagai kegiatan yang menyangkut kesehatan dirinya.

Orang Jepang menyebut perawat perempuan dengan kata “kangofu-san” tetapi untuk dua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan ada sebutan tersendiri yaitu “kangoshi”. Apapun sebutanya yang jelas saya merasakan kemampuan atau kinerja perawat-perawat Jepang sendiri sewaktu saya sempat dirawat di Rumah Sakit di Kota Tenri Nara selama beberapa lama.

Hal yang saya rasakan, mereka dengan penuh semangat merawat dan melayani semua pasien-pasiennya yang menjadi tanggungjawabnya tanpa sungkan dan pandang bulu. Maksudnya kondisi pasien hanya dilihat sebagai orang yang perlu ditolong tanpa memanang kaya-miskin dan jabatan maupun pangkatnya. Mereka memandang pasiennya sama kedudukannya.

Hal yang paling mengesankan buat saya yaitu seringnya dia bertanya dengan keramahan dan senyum khasnya, “suru koto arimasu ka?” yang artinya “apakah ada hal yang perlu saya lakukan untuk anda?”.

Semoga perawat dari Indonesia juga bisa hanyut total seperti perawat-perawat Jepang baik saat bertugas di Jepang maupun setelah kembali ke Indonesia nantinya.

Tentang Rumah Sakit di Jepang tempat sebagian perawat-perawat dari Indonesia tersebut bekerja bisa saya gambarkan sesuatu tempat yang lain bila dibandingkan dengan Rumah Sakit di Indonesia, bukan hanya bagunan, peralatan medisnya tetapi terutama sistim pelayanannya kepada pasiennya.

Rumah Sakit di Jepang sangat praktis dan tidak akan membiarkan pasiennya menunggu lama untuk sampai berada di ruang periksa dan bertemu dengan dokter untuk mendapatkan perawatan. Untuk Pasien yang sudah mempunyai “Shinsatsuken” atau “Kartu Periksa”  karena sudah pernah datang berobat ke Rumah Sakit tersebut sebelumnya akan lebih cepat lagi untuk bertemu dengan dokter dan mendapatkan pemeriksaan atau perawatan kesehatan yang lainnya. Hal ini karena dengan hanya menunjukkan atau memasukkan “shinsatsuken” nya kedalam sebuah mesin pendaftaran pasien, sang dokter sudah langsung tahu kedatangah pasiennya lewat monitor komputer nya.

Singkatnya inilah sistem yang membantu pasien mengurangi kesedihannya dalam berobat ke rumah sakit. Semoga juga para perawat dari Indonesia semakin paham arti pelayanan kesehatan kepada para pasiennya di Jepang terutama nantinya saat bertugas di Indonesia.

Mengenai dokter di Jepang biasanya mereka sangat cepat menjalin hubungan baik  dengan para pasiennya. Hubungan antara dokter di Jepang dengan pasiennya yang saya rasakan adalah dalam rangka cepatnya memberikan solusi pengobatan.

Dokter tersebut kelihatannya bekerja bukan lagi membawa nama baik Rumah Sakit tempat mereka mengabdi tetapi lebih cenderung seperti hubungan pribadi. Pada waktu saya diputuskan untuk menjalani rawat inap di Rumah sakit, segala urusan untuk proses rawat inap itu malah dokter saya dibantu perawatnya yang mengurusinya sampai selesai.

Saya hanya disuruh duduk manis sambil melihat televisi dan menunggu dipanggil setelah persiapan kamar opnam dan lainnya beres. Inilah suatu sistem yang perlu juga perawat asal Indonesia ketahui dan hayati syukur-syukur nantinya bisa merubah proses pelayanan Rumah Sakit di Indonesia.

Saya membaca berita-berita tentang menurunnya kinerja perawat dan dokter di Indonesia sungguh sedih karena hal paling dasar tentang kesehatan manusia sering dibuat semacam permainan. Misalnya pelayanan Rumah Sakit yang panjang dan berbelit serta pilih kasih terhadap pasien yang membutuhkan pertolongan kesehatan.

Dan juga fakta yang mengatakan banyaknya lulusan sekolah keperawatan yang susahnya mendapatkan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Semoga dengan semakin banyaknya perawat Indonesia yang bekerja di Jepang bisa semakin memberi solusi pengangguran perawat dan peningkatan pengetahuan serta keahlian perawat Indonesia.

Hal ini tentunya pemerintah Indonesia tidak hanya bangga dengan prestasi para perawat Indonesia di Jepang tetapi harus semakin mengadakan perbaikan-perbaikan dalam bidang kesehatan terutama dalam hal pelayanan kepada pasien-pasiennya. Hanya bisa berharap……walau biaya mahal tetapi puas degan pelayanannya….atau syukur-syukur murah atau gratis dan memuaskan juga….. Selamat berjuang perawat-perawat Indonesia !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: