Lena, Oh Terlena

20 Jun

#Kaizen 33

Namanya Lena, lengkapnya Marlena Binti Markoni. Gadis SMA yang parasnya cantik, lesung pipinya dalam, sedalam sumur kantor polisi. Namun sayang, kalau ujian sering menyontek.

Adalah Sabari, lelaki yang jauh dari kata ganteng menurut definisi orang banyak. Wajahnya bulat, telinganya lebar seperti wajan, yang tergila-gila sama Lena pada pandangan yang pertama dengan cara yang aneh. Karena si Lena menyontek dengan paksa lembar jawaban Sabari saat ujian masuk SMA.

Kisah cinta mereka pun aneh. Padahal keduanya sama-sama suka. Yang satu suka mengejar, yang satunya lagi suka menghindar. Yang satu gigih mendapatkan, yang satunya gigih menolak.

Adalah Tamat dan Ukun. Teman seperjuangan Sabari yang selalu mendampingi saat senang dan susah. Lebih banyak susahnya tetapi. Dua orang yang sahabat baik yang selalu menasehati si Sabari untuk menyerah saja mengejar si Lena. Lena terlalu jauh untuk dikejar, bagai langit dan sumur bor.

Dua orang yang kacau dalam berbahasa Indonesia. Selalu bersaing dalam mendapatkan rangking di kelas. Alhasil, mereka adalah dua orang yang mendapatkan rangking 43 dan 44 dari 47 siswa. Namun, oleh karena itulah, Ukun selalu menghormati Tamat lantaran rankingnya satu tingkat di atasnya.

Kisah mereka tertulis menarik di novel terbaru dari Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Andrea adalah penulis novel yang sudah mendunia, Laskar pelangi. Dan saya sudah menunggu terbitnya novel ini sejak novelnya yang terakhir, Sebelas Patriot, terbit beberapa tahun yang lalu.

Saya mendapatkan novel ini seminggu yang lalu, saat saya membeli tiket mudik sekalian mampir Gramedia Bandung yang ada dekat BIP. Dan akhirnya saya mendapatkannya, novelnya dalam keadaan sudah terbuka segelnya, dan tinggal tiga buah saja. Hmpt, gak tau deh rasanya kalau saat itu sudah habis. Walaupun sudah terbuka segelnya, tidak apa-apa. Toh, bukunya masih bagus. Dan setelah itu, segera saya membacanya, dan tiga hari yang lalu akhirnya saya menyelesaikannya pada jam 11 malam, sebelum tidur.

Nah, pertanyaannya sekarang adalah, karena situasi di pelatihan di sini sangat padat merayap, kapan saya mempunyai waktu membaca novel?

Disinilah letak tantangannya. Pelajaran dan tugas kami di sini bisa dibilang tidak berhenti-berhenti. Seperti air yang mengalir terus dari sumber mata air.

Hari ini masuk Bab baru, besoknya sudah tes bab tersebut. Dan ketika masuk bab baru pun ada tesnya, minimal tes kosakata. Belum pelajaran tentang Kanji, beserta tugas menulis dan tesnya. Dan waktu belajar kami pun tidak tanggung-tanggung, mulai jam 08.30 sampai 16.15 sore.

Itu belum termasuk tugas bersih-bersih pagi dan sore, juga kalau terjadwal tugas masak, yang kesemuanya itu akan menyita seluruh waktu kami. Waktu luangnya sangatlah sedikit. Kalaupun ada waktu luang, banyak diantara kami yang menggunakannya untuk menyelesaikan berbagai persiapan untuk menghadapi tes IJEPA yang tinggal menghitung hari lagi.

Jawabannya adalah bagaimana caranya kita mengatur waktu itu sendiri. Bahasa kerennya, Time Management. Semakin sibuk, tentu semakin sedikit waktu luang. Namun, untuk kesenangan membaca, selain bahan pelajaran tentunya, tentu memerlukan waktu di luar waktu belajar. Iya, kan?

Boleh jadi, ada yang belajarnya memerlukan waktu yang lama. Lama di sini pun bisa kita artikan menjadi dua, lama karena memang pelajaran yang dipelajari cukup sulit untuk dipahami, sehingga memang memerlukan waktu lebih. Yang kedua, ada juga yang belajar dalam waktu lama karena tidak fokus. Baru membuka buku, lalu balas BBM, baru menulis dua baris, lalu membalas chat, baru mau membuka halaman selanjutnya, eh, malah keasikan membaca timeline. Nah, loh!

Jadinya yang dibaca itu lebih banyak timeline nya atau bukunya?? Ups….

Sensei saya pernah mengatakan bahwa belajar itu tidak harus melulu soal lamanya waktu yang digunakan, tetapi lebih ke arah seberapa efektif waktu yang digunakan. Kalau ada materi yang harusnya bisa dipelajari dalam waktu satu jam, mengapa harus dua jam? Berarti kan kita nya yang tidak fokus. Mata sih menatap buku, tapi pikiranya melayang kemana-mana. Badannya sih tegap menghadap tumpukan tugas, tapi jiwanya sedang tidak disitu,boleh jadi lagi di mana, boleh jadi lagi galau yang sebabnya entah kenapa.

Jadi, sesuka apapun saya terhadap novel, itu tetap prioritas kedua. Saya hanya akan membacanya kalau ada waktu luang. Atau, kalau malam, jika ada tugas, saya membuat perjanjian pada diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya bisa membaca novel kalau tugas saya sudah kelar. Jika belum, ya besok-besok deh membaca novelnya lagi. Itu juga berlaku kalau mau menonton film, atau melakukan apa saja yang bersifat hiburan.

Karena sekali terlena, oh, sungguh akan menyakitkan rasanya di akhir nanti. Ada sebuah nasihat dari orang tua yang berbunyi, penyesalan selalu datang di akhir. Dan itu benar adanya.

Sama halnya dengan hobi saya yang satu ini juga, toh pada akhirnya hanya akhir pekan saja saya luangkan waktu untuk menulis, selebihnya saya gunakan untuk membaca novel lagi, eh, belajar maksudnya, haha.

Oke deh, selamat berakhir pekan buat semua ya. Walaupun akhir pekan, asrama kami tetap ramai lho! Ramai orang yang sedang menghafalkan materi wawancara bahasa jepang, ramai orang menghafalkan kosakata, ramai orang menyelesaikan tugas kanji, dan ramai karena sebentar lagi kami akan berbuka puasa bersama.

Karena tiap hari kami selalu sahur dan berbuka puasa bersama. Itadakimasu!

Bandung, 20 Juni 2015, 17.35 WIB

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: