Hari-Hari Yang Berlalu

30 Mei

#Kaizen 30

Konbanwa, selamat malam, apa kabar malam minggu kalian semua? Menyenangkan kah? Sendirian kah? Rame-rame kah? Ada yang sedang jalan-jalan kah? Atau, ada yang berdoa supaya malam minggu ini hujan deras, mati lampu, sinyal hilang, ups. 😛

Haha, ada-ada saja ya. Baiklah, karena hampir satu minggu ini saya belum menulis karena ada berbagai kesibukan (halah sok sibuk), maka dengan ini saya akan menulis dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Merdeka!

Hari-hari yang berlalu, yang tentu saja banyak kejadian yang terjadi pada diri kita dan sekitar kita. Mulai dari menyenangkan, mengecewakan, membuat kita tertawa tapi hati sedih, dan bisa juga sebaliknya, kita bisa menangis namun hati kita sedang tertawa dengan bahagia. Ya, begitulah, kadang-kadang aneh memang kalau dirasa.

Hari-hari yang berlalu, banyak kejadian yang terkadang lucu untuk dikenang. Mulai dari saat masuk SD dulu dengan uang saku 200 rupiah, yang dengan itu saya bisa membeli bubur sumsum dan permen gulali, yang kadang mengenai baju putih lalu dimarahi ibu saat sampai rumah. Bermain petak umpet, ingklik (permainan yang satu ini saya kurang tahu bahasa Indonesianya ), kasti,mencari ulat di daun pisang lalu digunakan untuk memancing, berenang di sungai dekat desa, pergi ke sawah lalu diminta makan buah semangka biji, kami makan buahnya lalu petani semangka nya hanya minta biji kuacinya, ah, masa-masa itu akan selalu indah untuk dikenang.

Boleh jadi, kesenangan seperti itu akan sangat sulit didapat pada zaman sekarang yang permainannya saja sudah dalam layar digital semua. Memancing memang ada, tapi dalam bentuk aplikasi. Begitu pun dengan lari cepat, kita bisa temukan dalam berbagai permainan, mulai dari Super Mario Bros di Nintendo hingga Subway Surfers di aplikasi Android.

Hari-hari yang berlalu, begitu banyak hal yang serius, santai, serius tapi santai yang terjadi. Dari kecil, saya belum pernah mempunyai cita-cita untuk terjun ke dalam dunia kesehatan. Kalaupun cita-cita itu ada, saya hanya pernah membayangkan untuk menjadi guru sekaligus pembina pramuka. Sepertinya asyik berinteraksi dengan murid-murid, diskusi mengenai pelajaran, lalu ada kegiatan kemah dengan berbagai lomba.

Namun, jalan hidup ternyata berkata lain. Saya malah terjun di dunia kesehatan, bidang keperawatan, dan sampai saat ini, saya pernah bekerja di kamar operasi selama 3 tahun 2 bulan. Hari-hari yang saya lewati penuh dengan berbagai tekanan. Namun, itu terjadi saat awal-awal saya bekerja. Baru lulus kuliah, memang sudah pernah mengikuti pelatihan di bidang kamar operasi selama tiga bulan, namun untuk terjun langsung menjadi karyawan adalah sesuatu hal yang baru. Terjun untuk bekerja dengan berbagai orang yang mempunyai keahlian di bidangnya.

Mulai dari dokter bedah, dokter anestesi, asisten operasi, perawat scrub, perawat sirkuler, apoteker, pasien, keluarga pasien, teman dari keluarganya pasien, hingga cleaning service. Mereka semua adalah keluarga saya selama 3 tahun terakhir saat saya masih di kota Batam.

Apakah saya menyesal telah melakukan itu semua? Tidak, kawan. Saya sangat bahagia dan mensyukuri semua hal yang telah terjadi tersebut. Karena di sana, selain saya bisa belajar hidup mandiri, saya juga menemukan sahabat yang menjadi keluarga baru. Suka serta duka memang ada, namun, itulah bumbu-bumbu yang menjadikan jalan kehidupan saya menjadi lebih berwarna.

Boleh jadi, kalau saya tidak “tersesat” sampai di Batam, belum tentu saja akan mendapatkan kesempatan “menyeberang” ke Singapura dengan tiket gratis, Hehe. Jadi kesana hanya bawa uang untuk makan dan minum saja, selebihnya, Free!

Hari-hari yang berlalu, begitu banyak keajaiban yang tersimpan yang bahkan kita sendiri tidak akan pernah menduganya. Saya belum pernah membayangkan untuk menuntut ilmu sampai Kota Kembang. Dulu, saya hanya pernah mempunyai cita-cita untuk belajar ataupun bekerja di Jogja dan Jakarta. Entah saat itu apa yang melatarbelakangi saya mempunyai pemikiran seperti itu. Saya lupa. Yang jelas hanya dua kota itu yang pernah ada di pikiran saya.

Namun, rel kereta kehidupan saya ternyata tidak lurus saja. Ada percabangan yang perlu saya ambil agar kereta terus berjalan. Setelah dari Batam, saya hendak ke Jakarta dengan tujuan agar saya mendapatkan jalan untuk berkarir di luar negeri. Namun, Jakarta berkata lain, dan saya belum diterima di Jakarta. Walaupun sudah berkali-kali saya ”pedekate” dengan si Jakarta ini, namun beluuuuum saja saya diterima. Entahlah, memang belum jodoh kali ya.

Akhirnya di sampai di Bandung lah saya sekarang. Bukan Bandung Kota, namun Bandung sebelahnya Bandung lebih tepatnya. Di Baleendah, Kabupaten Bandung. Kalau saya menyebutkan nama Baleendah, boleh jadi, banyak orang yang tahu tentang tempat ini, sebagai daerah…….banjir. Haduh, entahlah. Kadang memang efek media begitu dasyatnya. Padahal di sini, ada sebuah tempat yang akan menjadikan saya menjadi orang yang sangat berbeda di masa depan. Sebuah tempat yang lingkungannya lebih keras dan disiplin daripada saat saya bekerja kemarin.

Sebuah tempat yang tidak hanya mengajarkan Bahasa Jepang semata, namun lengkap dengan berbagai budaya Jepang yang sangat-sangat terkenal dengan kedisiplinannya. Oleh karena pengajarannya dengan disiplin yang tinggi, mau tidak mau kami harus segera beradaptasi.

Berbeda dengan sebuah lembaga pendidikan bahasa di Jakarta yang tes masuknya saja ampun-ampunan susahnya. Yang tentu saja orang-orang yang tersaring akan mendapat beasiswa dan sudah dalam kategori pandai.

Di sini, hanya bermodal tekad saja kami masuk. Yang tentu saja akan menjadi tantangan tersendiri dari para pengajarnya. Memang ada anak yang sudah pandai, namun ada juga yang perlu latihan ekstra seperti saya. yang baru mengenal Hiragana, Katakana, serta Kanji ya baru di sini.

Namun, Alhamdulillah, para pengajar, staf, serta berbagai komponen yang ada di sini sungguh sangat berperan dengan spesialisasinya masing-masing. Dan kami pun menjadi optimis untuk menjemput masa depan yang lebih cerah. Masa depan dalam berkarir serta memperbaiki ekonomi keluarga kami masing-masing.

Dan di sini lah saya melihat berbagai hal-hal yang terkadang lucu untuk diperhatikan. Mulai dari kelompok masak yang kadang isinya para lelaki semua yang pandai merebus air hingga masakannya super hambar. Namun, lama-kelamaan kami pun bisa memasak dengan bantuan dari temen-temen perempuan. Lalu, karena pelajarannya merupakan bahasa baru, tentu saja kami harus belajar dengan ekstra. Menghafalkan kotoba (kosakata bahasa Jepang) hingga bukunya menjadi guling saat tidur, menjadi penutup muka saat tidur, hingga mengigau mengucapkan kosakata yang tadi dipelajari saat tengah malam. Jadinya sahut-sahutan sama jangkrik.

Krik, krik, krik, Oyasuminasai, soudesune!

*Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: