Hobi Yang Tidak Sia-Sia

14 Mei

#Kaizen 29

Konnichiwa, selamat siang menjelang sore buat semua. Bagaimana kabar hari ini? Semoga semua dalam keadaan baik-baik saja ya. Baiklah, mengawali suasana libur yang cukup panjang ini, walaupun ada satu hari terjepit, saya akan melanjutkan cerita kemarin. Karena saya sudah menulis tulisan To be continued, jadinya tulisan ini harus saya lanjutkan. Semangat, Ganbatte! *Nulis sambil pake iket kepala*

Cerita tentang hobi. Boleh jadi, kita semua mempunyai hobi yang beragam. Mulai dari hobi membaca, menulis, menonton film, mendengarkan musik, memancing ikan, asal jangan sampai memancing keonaran ya, ups.

Namun, kadang kita kurang mengoptimalkan apa yang menjadi hobi atau kesukaan kita. Padahal, pekerjaan yang paling menyenangkan adalah mengerjakan apa yang menjadi kesukaan kita kan? Bekerja serasa bermain, duh, betapa menyenangkannya.

Beberapa waktu yang lalu, guru saya menanyakan tentang kesukaan kami. Setelah satu persatu dari kami menceritakan berbagai hobi kami, yang tentu saja dengan bukti nyatanya, beliau menjadi tenang. Mengapa demikian?

Beliau bilang, “Saya menjadi tenang kalau Kalian memiliki hobi. Karena itu akan sangat berguna di masa depan terkait dengan apa yang akan menjadi pekerjaan kalian.”

Lalu beliau pun bercerita tentang kisahnya mengenai hal ini.

Selepas masa kuliah. Beliau hanya diizinkan oleh Bapaknya untuk bekerja yang sesuai dengan bidangnya. Yakni menjadi pengajar Bahasa Jepang. Padahal, berbagai tawaran pekerjaan yang datang kepada beliau cukup beragam, hal ini karena beliau memiliki kelebihan disamping bahasa Jepang. Kelebihan itu adalah beliau bisa menggambar, mendesain, serta mengaransemen lagu.

Ketika ada tawaran pekerjaan untuk menjadi penyiar radio, tidak diizinkan oleh Bapaknya. Ketika ada tawaran pekerjaan untuk mendesain, pun sama. Tidak diizinkan. Pun dengan berbagai pekerjaan yang pokoknya dianggap oleh Bapaknya tidak sesuai dengan bidangnya, tidak diizinkan. Menurut hemat Bapaknya, mengapa capek-capek kuliah di jurusan bahasa Jepang kalau nantinya tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Lantas, sebagai seorang anak yang berbakti pada orang tuanya, beliau pun menurut.

Akhirnya. Memang perlu beberapa bulan menunggu sampai hari di mana beliau diterima di sebuah tempat kerja di Jakarta, untuk menjadi seorang pengajar. Berangkatlah beliau untuk memenuhi janji kepada sang Bapak. Menjadi seorang pengajar Bahasa Jepang.

Namun, cerita tidak berakhir sampai disitu. Ketika masuk pertama kali ke kantor, maka dimulailah cerita yang baru yang penuh dengan perjuangan.

Mari kita bayangkan bersama. Andai kita diterima di sebuah tempat kerja yang di dalamnya terdapat orang-orang yang lebih pandai serta lebih berpengalaman. Maka kita akan menghadapi dua pilihan. Pilihan pertama, minder alias takut karena kita hanyalah anak kemarin sore yang baru lulus serta baru mau mulai belajar bekerja atau pilihan kedua, ini adalah kesempatan yang sangat baik karena ada berbagai orang dengan berbagai macam latar belakang yang bisa menjadi pengajar kita.

Sama seperti beliau. Ketika baru masuk ke tempat kerja, maka ada beberapa senior yang “menyeramkan”, bukan orangnya yang saya maksudkan, akan tetapi background orang yang ada di tempat tersebut.

Beberapa di antaranya. Yang pertama, yang paling senior, ahli dalam bidangnya, pernah berpengalaman 7 tahun di Jepang, yang tentu saja tidak akan diragukan lagi kapabilitasnya dalam berbahasa Jepang, lalu menjadi penerjemah pertama film Doraemon yang kita semua boleh jadi pernah menonton film tersebut. Senior yang kedua, pernah berpengalaman di Jepang selama 3 tahun yang tentu saja handal. Lalu, senior yang ketiga, pernah mendapat pengalaman di Jepang selama 1 tahun. Pengalaman ini ia dapatkan semasa masih kuliah dengan jalan beasiswa. Dengan catatan khusus, beasiswa yang diterima itu hanya dia satu-satunya yang lolos. Jadi, sebelum dia, belum ada yang pernah mendapatkannya. Pun setelah dia mendapatkan besasiswa tersebut, sampai sekarang! Jadi, hanya dia satu-satunya.

Kalau guru saya tersebut mengambil pilihan pertama, alias menjadi minder, maka tentu saja akan membahayakan bagi karir serta masa depan pekerjaannya. Jadi, dengan mantap dia mengambil pilihan yang kedua. Dia akan belajar serta akan bersaing, secara sehat tentunya, dengan berbagai senior yang “wah” tersebut.

Sama seperti kebanyakan orang yang baru bekerja. Menjadi pengamat serta pendengar yang baik adalah salah satu kunci untuk cepat belajar serta beradaptasi, yang tentu saja akan sangat menguntungkan bagi yang mau melakukannya. Dan itulah yang dilakukan oleh guru saya.

Setelah masuk kerja, beliau mengamati dengan seksama. Karena masa percobaan kerja hanya 3 bulan, maka beliau akan habis-habisan untuk bisa cepat belajar. Beliau menyadari, kalau ingin menyaingi di bidang bahasa Jepang, boleh jadi, untuk beliau yang baru lulus, akan sangat sulit. Maka beliau pun akan menggunakan kemampuan lain yang beliau bisa, namun orang lain tidak.

Pertama. Kemampuan mendesain. Beliau memperhatikan, berbagai hal yang berhubungan dengan hal desain, menurut beliau sangat kurang. Semisal, cover untuk berkas laporan terlihat biasa-biasa saja. Maka saat ada rapat besar, beliau mengajukan diri untuk membuat cover dengan desain yang berbeda. Tentu saja bisa kita tebak apa tanggapan pimpinan jika yang mengajukan diri adalah orang baru, “Apa kamu bisa?”. Beliau dengan mantap menjawab, “Bisa, Pak!”

Akan menjadi pepesan kosong kalau beliau hanya membual saja. Setelah tenggat waktu yang diberikan, beliau mengajukan desain cover yang “berbeda” tersebut. Tidak banyak berkata, sang pimpinan pun bertanya, “Kamu menggunakan aplikasi apa? Desainmu bagus, belajar di mana?”, lantas guru saya pun menjelaskan perihal tersebut. Baiklah, satu poin didapat.

Kedua. Kemampuan menggambar. Setelah beliau memperhatikan, ternyata bahan ajar yang ada monoton. Hingga salah satu pengajar bercerita bahwa sulit untuk mendapatkan gambar yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Walaupun sudah mencari di Google, tetap saja susah untuk mendapatkan gambar yang sesuai. Saat itulah beliau mengajukan diri untuk membuatkan gambar yang sesuai dengan bahan ajar. Lantas, tanggapan awal yang sama terjadi, “Memangnya kamu bisa?”, dengan tersenyum, beliau pun menjawab, “Bisa, Bu!”

Karena menggambar adalah hobi beliau, maka tugas menggambar malah menjadi tugas yang menyenangkan. Dan dengan segera pun beliau menyelesaikannya. Setelah beliau menyerahkan gambar untuk bahan ajar, maka si Ibu yang meminta dibuatkan merasa sangat senang karena merasa terbantu. “Wah, Kamu bisa menggambar juga ternyata. Dengan begini, akan sangat membantu saya dalam mengajar,” kata si Ibu tadi. Oke, dua poin!

Ketiga. Kemampuan mengaransemen musik. Ini juga yang menjadikan beliau menjadi orang yang “berbeda”. Sedari kecil, beliau memang sudah menyukai bermain alat musik, serta membuat aransemennya. Kalau mau menikmati hasil karya beliau, silakan masuk ke Soundcloud.com lalu ketik Bellvanian Symphony. Nah, setelah beliau menciptakan suatu lagu misalnya, hasil tersebut diperdengarkan kepada rekan kerjanya. Memang, ada yang menerima ada juga yang tidak. Namun, gambaran besarnya tidak hanya sampai titik itu. Saat kepala di tempat kerjanya juga ikut mendengarkan, maka beliau diberi tantangan untuk mengaransemen lagu wajib atau mars yang terdengar monoton dan membosankan. Lagi-lagi jawabannya, “Siap, Pak!”

Dan benar adanya kelebihan itu. Hasil aransemen beliau disukai dan masih dipakai sampai sekarang. Itu merupakan bukti nyata bahwa hasil kerja keras beliau mendapatkan tempat khusus. Itu karena beliau menjadi orang yang “berbeda”. Sip, tiga poin!

hal-hal tersebut, boleh jadi tidak akan terjadi jika beliau hanya memakai kacamata kuda saja alias monoton dalam menjalani hari-hari dalam kehidupannya. Dalam situasi apapun, tanpa kita sadari akan selalu ada persaingan. Dan jika kita belum bisa menjadi orang yang terbaik, masih ada jalan satu lagi, yaitu menjadi orang yang berbeda.

Oleh sebab itulah, beliau cukup merasa tenang saat mengetahui bahwa anak didiknya tidak hanya belajar bahasa saja, namun mempunyai hobi terus dikembangkan. Karena beliau yakin, jika hobi yang positif terus dilakukan serta dikembangkan, maka jawabannya sudah pasti, hobi itu tidak akan menjadi hal yang sia-sia belaka!

To be continued……(Masih ada satu bagian lagi)

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: