Keterbatasan

10 Mei

#Kaizen 28

Ini adalah sebuah cerita tentang seseorang yang amat saya hormati. Karena beliaulah, saya menjadi lebih suka ketika belajar bahasa baru. Belajar bahasa, atau belajar tentang apapun, akan lebih “masuk” jika yang mengajar adalah seseorang yang selain memiliki kemampuan yang mumpuni di bidangnya, juga memiliki kelebihan lain yang bisa membuat yang diajar menjadi lebih bersemangat.

Saya mendapatkan ide untuk menulis hal ini ketika ada kegiatan sharing atau berbagi dengan beliau. Dalam kegiatan itulah saya menjadi lebih mengetahui jati diri orang yang mengajar saya. Setelah mendengar cerita beliau, hal pertama yang saya rasakan adalah, penderitaan yang dialaminya jauh lebih berat daripada yang pernah saya alami semasa kuliah.

Baiklah, saya akan mulai ceritanya.

Setelah lulus dari SMA. Siswa maupun siswi pasti akan dihadapkan pada dua kemungkinan. Melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya atau berhenti. Berhenti sekolah di sini juga sebenarnya mempunyai banyak makna, yang saya yakin pembaca sekalian pun bisa mengartikan sendiri. Nah, setelah lulus SMA, guru saya ini pun dihadapkan pada dua pilihan. Melanjutkan atau tidak.

Oleh bapaknya, ia diberikan dua pilihan yang tentu saja, beserta konsekuensinya. Pilihan pertama. Jika ingin melanjutkan kuliah, maka bapaknya hanya akan membiayai sampai kuliah selesai. Setelah itu, bapaknya tidak bertanggung jawab lagi. Pilihan kedua. Tidak perlu melanjutkan kuliah. Namun akan dibelikan kios dan akan dibimbing untuk bisa menjadi pedagang, karena bapaknya juga seorang pedagang di pasar.

Beliau diberikan waktu untuk memikirkan hal ini.

Setelah mantap dengan pilihannya. Beliau ini pun menghadap bapaknya. Ia mengutarakan jawabannya. “Saya mantap untuk kuliah, Pak,” Katanya. Lalu bapaknya pun mengulangi kata-kata yang pernah ia sampaikan, “Baiklah. Tapi kamu sudah tahu konsekuensinya kan?” Guru saya menjawab, “Insyaallah siap, Pak.”

Setelah keinginan untuk kuliah selesai. Ternyata pilihan tidak serta merta selesai disitu. Selanjutnya adalah memilih jurusan. Sebelum pemilihan jurusan, beliau ini memiliki tiga hobi yang kesemuanya berpotensi untuk bisa dilanjutkan di jenjang kuliah. Pertama, hobi melukis. Kedua, hobi bermain musik. Dan hobi yang ketiga adalah berbahasa Jepang.

Oleh bapaknya, sudah ada dua jurusan yang tidak diperbolehkan untuk diambil, yaitu seni musik dan seni rupa. Jadi, tinggallah satu jurusan yang bisa diambil, yaitu sastra Jepang. Kemudian cerita pun berlanjut.

Sambil menyeruput kopi, guru saya melanjutkan ceritanya.

Saat-saat yang paling berkesan hingga menjadikannya menjadi guru yang tangguh adalah masa “penderitannya” selama kuliah. Saat kuliah, guru saya tidak diperbolehkan untuk kos. Jadi, setiap hari selalu pergi ke kampus tiap pagi dan pulang setelah perkuliahan selesai. Rumah beliau dengan kampus ternyata cukup jauh. Bagi saya itu jauh sekali. Boleh jadi, akan lebih cepat jika menggunakan kendaaran bermotor seperti sepeda motor. Namun, beliau berangkat serta pulang setiap hari dengan menggunakan angkot. 2 jam perjalanan untuk berangkat serta sebaliknya.

Boleh jadi, ada yang memiliki pertanyaan, mengapa tidak menggunakan sepeda motor saja? Bukankah lebih cepat?

Saya juga pernah memiliki pertanyaan demikian. Namun, cerita selanjutnya pun menjawab pertanyaan saya tersebut.

“Karena bapak saya memang tidak mau membelikan,” Kata guru saya santai. “Bukannya orang tua saya tidak mampu membelikan. Kalau soal mampu, saya yakin mampu. Namun bapak saya mempunyai alasan tersendiri untuk hal tersebut.” Lanjutnya.

Begitu juga dengan nge-kos, pun tidak diperbolehkan. Dengan perjalanan setiap hari yang menempuh jarak yang jauh. Pulang pergi yang menghabiskan waktu 4 jam. Bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Boleh jadi, kebanyakan orang kemungkinan akan memilih untuk kos dengan berbagai alasannya. Namun, tidak untuk guru saya ini. Orang tuanya pun melarangnya untuk kos. Bapaknya berkata bahwa selama masih ada angkutan yang bisa dipergunakan untuk pergi serta pulang dari kampus, maka selama itu pula ia harus naik angkot.

Bagi saya pribadi, saya tidak akan kuat melakukan hal tersebut. 4 jam bolak balik menggunakan angkutan umum bukanlah sesuatu yang mudah. Namun, guru saya mampu menjalaninya hingga lulus kuliah.

Tidak hanya soal motor dan kos. Uang jajan pun tidak serta banyak. Guru saya diberi uang saku sebanyak 25 ribu setiap hari. Dengan rincian 18 ribu digunakan untuk biaya pulang pergi dan sisanya digunakan untuk makan. Terbayang, betapa otak harus diputar ekstra agar uang tersebut cukup. Dan pemberian uangnya diberikan setiap hari. Bukan mingguan, apalagi bulanan!

Pernah suatu kali guru saya tersebut meminta kepada bapaknya agar uang sakunya diberikan mingguan. Namun, bapaknya tetap pada prinsip awal. Tidak akan. Uang saku hanya akan diberikan setiap hari sebelum berangkat ke kampus. Beliau pun hanya bisa menghela napas saja dengan jawaban tersebut.

“Pak, kalau diberikan mingguan kan saya bisa menabung,” Pinta beliau. Namun, sekali lagi, bapaknya pun menjawab dengan tegas, “Tidak.”

Ya, dengan jawaban tersebut, maka mau tidak mau beliau harus menurut.

Beberapa tahun kemudian, beliau pun akhirnya lulus. Diwisuda dengan “kenangan” selama kuliah yang tidak biasa.

Setelah tali toga dipindahkan dan mendapatkan jabat tangan serta ucapan selamat dari rektor tempat beliau kuliah, resmilah beliau menjadi seorang sarjana.

Beberapa waktu setelah itu, pada kesempatan yang baik, beliau memberanikan diri untuk bertanya. “Pak, saya ingin tahu mengapa Bapak memperlakukan saya seperti itu saat kuliah kemarin? Saya minta motor, tidak dibelikan. Saya minta kos, tidak diperbolehkan. Uang saku pun diberikan harian.”

Lalu Bapaknya pun menjawab, “Nak. Kamu adalah anak tunggal. Memang, kadang ada orang tua yang memiliki anak tunggal malah memanjakannya. Menuruti segala keinginannya. Namun, bagi Bapak, itu adalah cara mendidik yang keliru. Betul, Bapak tidak membelikanmu motor, tapi itu ada alasannya. Memang betul, Bapak tidak mengizinkanmu kos, tapi itu juga ada alasannya. Dan memang betul juga, Bapak tidak memberimu uang saku secara mingguan, bahkan bulanan, namun Bapak memberinya dengan waktu harian. Namun sekali lagi, itu juga ada alasannya.”

“Sebelum Bapak jawab, Bapak mau bertanya dulu,” Tutur sang Bapak. “Selama kuliah, pernahkah kamu mabuk-mabukan?”, itu pertanyaan pertama. “Boro-boro mabuk-mabukan, Pak. Uang saja pas-pasan,” Jawab guru saya dengan senyum kecutnya. “Kedua, selama kuliah, pernahkah kamu ke diskotik?” Lanjut sang Bapak. “Boro-boro ke diskotik, Pak. Uangnya dari mana, Hehe,” Guru saya lagi-lagi menjawab dengan tersenyum kecut.

“Nah, jawaban seperti itu memang sudah bapak prediksi sebelumnya. Karena Bapak sangat tahu, kamu tidak punya uang. Nak, setelah kamu keluar dari pintu rumah ini. Bapak tidak bisa melihatmu seharian. Apa yang kamu lakukan saat kuliah. Dan kegiatan apa saja yang kamu kerjakan selepas kuliah. Bapak tidak tahu itu. Karena Bapak tidak bisa mengawasimu, satu-satunya hal yang bisa Bapak lakukan adalah memberimu “keterbatasan”. Karena dengan itulah Bapak yakin denganmu. Walaupun terkadang Bapak merasa kasihan saat melihatmu sampai di rumah dengan keadaan sangat lapar. Namun, nyatanya kamu sekarang bisa lulus kan?” Tutur bapaknya disertai dengan pertanyaan retoris.

Guru saya pun mengangguk takzim. Mencerna kalimat demi kalimat yang memang tidak hanya sebatas pepesan kosong tersebut.

Bagi saya, orang yang mendengar cerita tersebut, kebijaksanaan orang tua memang kadang menyakitkan untuk dijalani. Namun, dibalik semua itu, terkandung mutiara hikmah yang berasal dari pemahaman terbaik.

Boleh jadi, hal ini menarik untuk kita pikirkan.

To be continued…..(Masa setelah kuliah)

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: