Gunung Myoboku

29 Apr

#Kaizen 26

Boleh jadi, ada yang sudah mengenal nama gunung ini. kalau dicari di peta Indonesia, saya yakin tidak akan ketemu. Kalau dicari di peta Jepang, saya juga kurang tahu entah ada juga atau tidak. Namun, kalau dicari di komik Naruto, saya yakin, pasti ketemu!

Ada apa dengan gunung ini? Mari kita ulas sedikit, karena saya yakin, para penggemar Naruto pasti paham tempat apa sebenarnya ini.

Gunung Myoboku, dalam bahasa jepangnya, Myobokuzan, adalah tempat tinggal para katak-katak super sekaligus tempat berlatih Naruto untuk menguasai teknik Senjutsu (kekuatan alam). Di sini juga, Naruto berlatih dengan Fukasaku (Sannin legendaris gunung Myoboku), untuk mempelajari bagaimana caranya agar bisa berbubah ke mode Sannin. Latihan di tempat ini sangat berat, sehingga tidak semua orang, bahkan di cerita tersebut, katak-katak yang menjadi penduduk asli gunung Myoboku itu sendiri pun banyak yang gagal. Namun, dengan tekad yang kuat, karena saat itu, Naruto berlatih untuk mengalahkan musuhnya, Pain, yang kekuatannya juga luar biasa. Setelah berlatih habis-habisan, akhirnya Naruto bisa menguasai teknik Senjutsu, serta bisa melampaui kekuatan gurunya yang terdahulu, yakni Jiraiya.

Kalau membaca cerita seperti ini, rasanya memang senang, seakan-akan kita yang menjadi tokoh utamanya. Berlatih keras, tiada henti, untuk satu tujuan, menjadi lebih kuat. Namun, di dunia nyata, hal itu boleh jadi akan berbeda ceritanya.

Di dalam cerita itu, Naruto memang berlatih keras, namun satu hal yang pasti, tempat berlatihnya itu adalah tempat yang khusus. Saking khususnya, Naruto butuh minyak yang mengalir di air terjun (lebih tepatnya mungkin minyak terjun kali ya) yang ada disitu untuk memudahkannya dalam berlatih menyerap energi alam. Tanpa itu, pasti akan kesulitan.

Sama halnya dengan kita. Gunung Myoboku kita pun ada bermacam-macam. Yang paling banyak memang sekolah atau tempat pelatihan dimana kita sedang berlatih. Di sana, kita akan mendapatkan berbagai fasilitas, terutama guru-guru yang akan mengajari kita. konsekuensinya, tempat latihan kita tersebut pasti akan memberikan suasana “berat” bagi kita. Berat dalam arti, belajar itu memang aslinya berat. Bahkan, boleh jadi, tidak ada sesuatu pun yang dipelajari itu mudah. Kita bisa lihat bersama, saat kita kecil pun, berjalan ataupun naik sepeda pada awalnya pun kita sering terjatuh. Namun kita enjoy melakukannya. Sama seperti Naruto, berat sekali latihan yang diterimanya, namun dia menikmatinya. Nah, yang yang pertanyaan sekarang adalah, apakah kita juga menikmati proses pembelajaran yang sedang kita tempuh? Atau sebaliknya?

Saya dan boleh jadi siapapun yang sedang belajar dan berlatih suatu ilmu, pasti akan merasakan lelah serta capek. Namun, itu semua masih bisa dikontrol saat masih berada di tempat latihan. Ternyata, latihan atau belajar itu akan menjadi lebih berat kalau sedang tidak berada di tempat latihan. Semisal ketika pulang ke rumah. Mengapa demikian? Karena itu tadi, kita tidak sedang berada di tempat khusus untuk belajar. Seperti saya sendiri, ketika di tempat pelatihan, belajar sampai jam 11 malam itu merupakan hal yang biasa. Hal itu bisa terjadi karena lingkungannya sangat mendukung. Teman-teman yang lain masih belajar, masih mendiskusikan materi yang sudah diajarkan maupun persiapan materi untuk hari esok. Boleh jadi, hal ini pun berlaku bagi siapa saja yang tempat pendidikannya memiliki asrama. Sehingga waktu belajar merupakan waktu yang menyenangkan, sehingga letih dan capek pun akan kalah.

Berbeda ceritanya kalau kita kita hanya sendirian, apalagi di rumah yang memang waktunya berkumpul bersama keluarga. Akan sangat sulit untuk memiliki waktu yang berkualitas untuk belajar. Selain tidak adanya teman-teman yang saling memberikan semangat, sekalinya kita ingin bersantai, ya diri kita saja yang menjadi pengontrolnya. Kalau bablas ya akan bablas. Kurang lebh seperti itu.

Pada intinya, mari kita manfaatkan bersama, waktu-waktu yang ada selama kita masih berada di sekolah atau di tempat pelatihan. Karena, masa-masa yang demikianlah yang akan menentukan kita menjadi seperti apa di masa depan.

Sama halnya dengan Naruto, kalau saat di Gunung Myoboku dia hanya bersantai-santai saja, boleh jadi komik Naruto mungkin tidak akan sampai episode 700 bukan?

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: