Suasana Jepang Di Gegerkalong

26 Apr

#Kaizen 25

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya. Begadang boleh saja, asal ada temannya. Ya, itulah yang saya rasakan saat mengetik tulisan ini. Saya mengetik sambil ditemani oleh kawan saya yang dari Bali, yang juga sedang kambuh insomnianya. Daripada saya, dia lebih “parah” insomnianya. Boleh jadi, selama kami yang ada di asrama sedang tertidur dengan lelapnya, dia “menjaga” serta “mengawasi” kami dengan teman begadangnya, laptop mungil 10 inchi yang ditentengnya kemana saja, yang kadang ke “toilet” juga. Karena eh karena, di asrama kami ada sinyal wifi yang kenceng, apalagi saat malam seperti ini dan semua orang sedang tertidur, dia merasa “menguasainya” sendiri, haha.

Hari masih sangat dini, saya lihat jam di antara temaramnya malam masih menunjukan pukul dua dini hari. Entah, padahal tadi pagi seharian saya keluar bersama teman-teman, namun, dini hari ini, karena insomnia saya sedang kambuh, daripada guling kanan guling kiri diatas tempat tidur saja tanpa melakukan apapun, saya putuskan untuk bangun saja. Mengambil air wudhu, shalat sunnah, lalu mulai menulis.

Sebenarnya saya ingin menuntaskan cerpen yang sudah hampir selesai, namun, kali ini saya ingin menulis lanjutan cerita di #Kaizen terlebih dahulu. Boleh jadi, jika ada pembaca yang membaca serta menantikan kelanjutan cerpen yang saya tulis tersebut, saya mohon maaf sebelumnya, insya allah akan segera saya lanjutkan, namun, mohon dengan kesabarannya untuk menunggu ya.

Baiklah, kali ini saya ingin bercerita tentang kegiatan yang seharian tadi yang saya lakukan. Sekalian ini sebuah tantangan bagi saya untuk membuat catatan perjalanan. Karena, dulu saya selalu ingin membuatnya, namun selalu saya tunda, sehingga “rasa” yang saya rasakan selama perjalanan itu kadang sudah memudar dan terkadang sulit untuk dituliskan kembali.

Hari sabtu kemarin, seharusnya kami sudah diijinkan pulang ke rumah untuk melengkapi dokumen sebagai syarat pendaftaran tenaga perawat maupun careworker yang akan ditutup akhir bulan depan. Dari pihak akademik, kami diberi waktu satu minggu untuk mengurus hal-hal tersebut, yang tentu saja akan menantang kemampuan manajemen waktu kami. Tapi, karena adanya tamu dari Jepang, yang seharusnya minggu ini datangnya, namun oleh karena sesuatu hal, jadinya besok hari selasa, sehingga waktu kepulangan kami juga diundur setelah tamu dari Jepang tersebut datang ke kampus pelatihan kami. Kecuali saya, yang tetap pulang hari ini karena sudah terlanjur membeli tiket bus ke Kudus. Sebenarnya saya ingin pulang setelah pihak Jepang datang, namun karena tiketnya tidak bisa ditukar, apa boleh buat. Jika ingin berangkat di hari yang lain, saya harus membeli tiket yang baru lagi alias tiket yang lama jadi hangus, hmmmpt.

Karena tidak jadi pulang hari sabtu, maka rencana yang pernah kami rencanakan minggu lalu, yakni datang ke UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) yang ada di daerah Gegerkalong, Bandung, untuk menyaksikan Japanese Season Festival 2015 jadi terlaksana.

Kami berangkat sekitar pukul 11.00 dengan menggunakan mobil pribada yang ada tulisan Dayeuh Kolot-Kalapa dibelakangnya, alias angkot warna hijau dengan sopir orang timur yang gokil. Sayang, saya duduk di paling belakang, jadi hanya bisa mendengar pembicaraan si bapak sopir saja tanpa bisa ikut terlibat. Selebihnya, saya bercanda saja dengan beberapa teman yang masih dalam keadaan sadar, karena beberapa yang lain, ketika si angkot sudah berjalan, langsung merem, tidur, dan baru bangun ketika sampai di tempat tujuan.

Kami sampai sekitar pukul 12.30. Memang, lumayan lama. Beginilah Bandung di akhir pekan. Macet. Apalagi ini masih hangat-hangatnya penutupan Konferensi Asia Afrika yang yang kemarin bertempat di Bandung juga. Makin tambah parah macetnya. Padahal kami tadi lewat tol juga. Entah, akan berapa lama jika kami tadi melalui jalur normal, bisa-bisa, jadinya kami malah rekreasi naik angkot saja. Iya kalau seperti di taman safari yang dari dalam mobil bisa melihat berbagai satwa yang hidup di alam liar, kalau dari dalam angkot kan kami lihatnya ya mobil, motor, serta angkot yang lain, dan bonusnya, bisa sauna gratis!

Setelah sampai, kami segera menuju masjid yang tidak jauh dari pintu gerbang kampus UPI. Kami melaksanakan shalat dhuhur dan langsung menuju tempat festival diselenggarakan.

Nah, inilah yang kami nanti-nantikan. Segera kami berkeliling stand yang ada di depan gedung olahraga UPI yang digunakan sebagai aula utama. Di sana, dijual berbagai pernak pernik yang bernuansa Jepang. Mulai dari makanan Jepang, buku-buku tentang Jepang, walaupun juga ada makanan khas Indonesia yang menemani. Di tengah-tengah stand tersebut, bertebaran orang-orang yang memakai kostum anime jepang atau kita juga mengenalnya dengan nama cosplay. Mulai dari karakter di film Naruto, One Piece, Kamen Rider serta berbagai anime yang saya sendiri belum mengenalnya. Seru! Kami langsung berpencar untuk meminta foto bersama. Dengan berbagai gaya yang khas dengan karakter yang disukai.

Setelah berkeliling stand, yang baru beberapa saat. Turunlah hujan yang membuat kerumunan di lapangan menjadi menepi di berbagai tempat yang ada atapnya. Lalu, kami langsung saja mengantri untuk masuk di aula utama. Kami mengantri sambil membuka payung. Walalupun tidak lebat, bisa basah juga kalau lama-lama terkena hujan bukan? Tiket masuknya seharga 10 ribu rupiah. Setelah membeli tiket, kami diberi gelang identitas serta dua lembar tiket. Satu tiket untuk masuk ke Obake House (rumah hantu) dan satu tiket lagi adalah voucher makan di tempat yang mensponsori acara ini.

Setelah masuk, di dalam aula ternyata sudah banyak orang yang berkerumun di sekitar panggung utama. Saat itu sedang ada penampilan dance dari sekelompok perempuan yang memakai baju cosplay yang saya belum tahu itu meniru karakter di film apa. Yang jelas bukan Sailormoon atau Cardcaptor Sakura.

Awalnya, kami beserta sensei kami, langsung antri di antrian Obake House yang mengular bukan main panjangnya. Entah, bisa berapa lama kami antri nanti. Padahal, kalau kami lihat ruangan yang digunakan sebagai rumah hantu tersebut tidak terlalu luas. Namun, beginilah sifat manusia yang suka akan tantangan serta selalu tergoda akan rasa penasaran. Jadinya yang mengantri ya panjang, sudah seperti di salah satu lirik nyanyian yang kita kenal bersama, ular naga panjangnya bukan kepalang!

Sudah hampir setengah jam mengantri, kami hanya beranjak beberapa langkah saja. Sehingga rasa bosan segera melanda. Beberapa dari kami, terutama yang lelaki, langsung keluar dari barisan dengan menitipkan barisan kepada teman-teman perempuan untuk tetap menjaga antrian. Kami keluar untuk memburu para cosplayer yang tumpah ruah di dalam gedung. Mulai dari tokoh Ichigo serta Rukia di film Bleach, lalu ada Monkey D. Luffy dari One Piece. Naruto, Kakashi, Hinata, Tobi, Sasuke dari film Naruto, lalu ada Kamen Rider Kabuto dan Kuuga, ada juga yang memakai baju tempur layaknya di game Counter Strike, lalu ada juga yang kelompok yang berseragam baju sekolah ala jepang yang mirip grup vokal AKB 48.

Setelah hampir 1 jam kami berfoto-foto ria serta menikmati penampilan band yang menyanyikan lagu-lagu jepang, kami pun kembali ke barisan yang ternyata sudah maju lumayan jauh. Dengan wajah tanpa dosa, kami langsung saja bergabung dengan teman-teman kami yang sudah berbaik hati tetap dalam posisi mengantri, Hehe.

Saat kami kembali ke posisi mengantri, datanglah beberapa teman yang baru selesai melaksanakan medical check up di sebuah laboratorium klinik di Bandung. Mereka pun, tanpa perlu mengantri, langsung bergabung dengan kami, begitupun dengan sensei kami yang baru datang juga. Klop dah! Haha.

Saat sudah mendekati pintu masuk Obake House alias rumah hantu. Satu dari dua sensei kami yang ikut malah tidak mau masuk! Lah, gimana ini ceritanya. Kan pintu keluarnya ya melalui rumah hantu ini. akhirnya, setelah kelompok kami tinggal yang terakhir masuk, sensei kami pun ikut masuk.

Orang yang keluar dari rumah hantu ini pasti mempunyai cerita serta kesan yang berbeda-beda. Begitupun dengan kami. Dugaan awal kami ternyata keliru. Teman saya yang pada awalnya mengira jenis-jenis hantu yang ada di dalam rumah hantu ini adalah hantu jepang, malah yang ada sebaliknya. Semua jenis karakter hantu yang ada malah khas Indonesia punya.

Ketika di dalam rumah hantu, sensei saya tadi sudah rapat memejamkan mata, entah melihat atau tidak, lalu ada teman saya yang menjerit. Kaget karena melihat sesosok bayangan hitam di balik persimpangan jalan. Selanjutnya malah teriak kegirangan, karena ada teman saya yang protes sama hantunya, “Lah, kok ketemu hantu Indonesia ya? Saya pikir hantunya khas jepang,” sambil menggerutu di perjalanan.

Setelah keluar, cerita pun bermacam-macam. Ada yang saat kaget malah menginjak orang yang berkostum hantu, sehingga sama-sama menjerit. Teman saya menjerit karena kaget, lalu orang yang berkostum hantu juga menjerit karena kakinya terinjak. Lalu ada teman saja yang iseng menjerit persis di depan hantunya. Lalu ada juga yang sepanjang perjalanan di rumah hantu tersebut menjerit terus, ketika saya tanya, dia hanya menjawab biar seru aja. Haha. Ada-ada saja.

Nah, yang paling seru adalah cerita dari sensei kami yang tentu saja membuat kami tertawa terbahak-bahak. Saat keluar dari rumah hantu, sensei kami bertanya, “Tadi di dalam ada apa ya? Kok pada teriak-teriak?” ternyata sensei kami tadi menutup rapat matanya dari pintu masuk sampai pintu keluar. Jadi ketika di dalam ya jalan sambil memegangi tas di punggung teman kami. Seru pokoknya!

Sebelum pulang ke asrama, rencananya kami ingin ke Gedung Merdeka, tempat di selenggarakannya KAA. Namun, dari informasi teman saya yang mengatakan bahwa daerah alun-alun, yang berdekatan dengan Gedung Merdeka, ramai sekali karena adanya konser, kami tidak jadi kesana. Karena waktu sudah hampir maghrib, sementara kami harus sampai di asrama sebelum pukul sembilan malam.

Rencana pun segera diubah. Awalnya, sensei kami ingin mengajak makan di tempat makan yang menyediakan masakan Korea yang murah meriah di sebelah UPI. Namun ternyata tutup. Lalu beralih ke tempat makan yang menjual Mie Ramen yang persis di depan tempat makan Korea tadi. Kami beramai-ramai memesan Ramen dengan level pedas yang berbeda.

Setelah kenyang dengan ramen, segera kami shalat maghrib di masjid kampus UPI lagi dan pulang ke asrama bersama angkot hijau yang masih setia menunggu di depan gerbang kampus. Dalam perjalanan pulang, kami bercanda bersama, bergurau tentang berbagai cerita yang terjadi tapi, beberapa bercerita dan yang lain tidur dengan lelap. Letih karena hampir seharian jalan-jalan menikmati suasana budaya Jepang yang disajikan dengan apik oleh panitia JSF (Japanese Season Festival) tahun 2015 ini.

Inilah kebersamaan yang luar biasa. Dua bulan yang lalu, kami belum saling mengenal satu dengan yang lain. Kami yang berasal dari berbagai daerah yang berjauhan, Alhamdulillah bisa menjadi kompak. Dengan berbagai kegiatan, baik di kelas maupun di luar kelas.

Semoga kita semua bisa selalu kompak, Kawan. Inilah teman baru, inilah keluarga baru. Semoga kita semua berhasil lolos dalam tes IJEPA yang sebentar lagi akan berlangsung.

Serta terima kasih saya ucapkan kepada para sensei yang tidak hanya membimbing kami di kelas saja, namun juga ikut menemani “kegilaan” kami saat di luar kelas. Terima kasih, maaf sering merepotkan.

Ganbatte Kudasai!

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: