JIM (Bagian Kedua)

25 Apr

Sebuah Cerpen

Oleh Uki

Aku melihat keluar kamarku melalui lubang kunci puntuku. Ada beberapa bayangan hitam yang melintas. “Apakah itu?” tanyaku dalam hati.

Aku perhatikan lebih lama lagi. Sepertinya ada kawanan orang yang memasuki rumah tanpa ijin. Ya, sepertinya mereka perampok. Pakaian serba gelap itu menguatkan dugaanku.

Aku berusaha menenangkan diri terlebih dahulu. Menarik napas dalam. Apapun yang sedang terjadi, aku harus tenang dulu. Aku melihat mereka masuk ke dalam kamar orang tuaku yang tepat berada di tidak jauh dari kamarku. Oh tuhan, mereka mengikat papa dan mamaku. Menutup mata dan mulutnya. Menyeretnya ke ruang tengah dengan keadaan antara sadar dan tidak.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mulai berhitung dengan keadaan. Waktu adalah segalanya sekarang. Jika mereka sudah “selesai” dengan orang tuaku. Kemungkinan mereka akan masuk ke kamarku. Dan jika semua itu terjadi. Dengan segera. Maka permainan ini selesai. Bisa jadi jika mereka telah menemukan apa yang mereka cari, entah apa itu. Dan kami beresiko hanya tinggal nama saja dini hari ini.

Aku masih memperhatikan lewat lubang kunci pintu kamarku. Memang kurang begitu jelas. Aku hanya perlu berusaha sebaik memperhatikan. Sembari memegang telepon genggam, Aku mengetik pesan singkat kepada pamanku yang seorang polisi. Kebetulan ia sedang jaga malam kali ini. Berharap ia segera datang kerumah beserta pasukannya. Tapi, itu juga perlu waktu. Mengingat letak rumah kami yang memang agak jauh dari tempat paman dinas. Setidaknya mereka butuh waktu sekitar 20 menit untuk datang

Tugasku sekarang. Sebisa mungkin bertahan sambil menunggu bantuan datang.

Ada empat orang yang terlihat di luar. Mungkin ada lagi kawanan yang lain. Tapi setidaknya empat orang itu yang aku harus lumpuhkan sekarang, sebelum polisi tiba. Segera aku masuk ke kamar adikku. Kamarku dan kamarnya terhubung oleh sebuah lubang “rahasia”. Bukan sebuah pintu. Lubang itu ada karena keisengan kami waktu kami masih kecil dulu, agar bisa berpindah kamar tanpa melewati pintu depan. Lubang yang terletak di belakang lemari bajuku. Terhubung langsung ke kamar Morgan yang terletak di bawah meja belajarnya. Hanya aku dan Morgan yang tahu adanya lubang ini. Harapanku sekarang, mereka belum masuk ke kamar Morgan.

Saat memasuki lubang antar kamar itu, aku mendengar plester mulut dibuka. “Krakkkk,” terdengar kasar suaranya. Salah satu dari kawanan perampok itu bertanya dimana barang berharga keluarga kami disimpan. Tidak ada jawaban. Masih diam. Entah papa atau mama yang ditanya aku kurang tahu. Suara yang kudengar samar-samar.

Mereka bertanya lagi dengan nada yang lebih kencang, diselingi suara kaki yang menendang kearah tubuh. Aku berhenti sejenak. Ingin aku keluar dan segera menghajar mereka. Namun, aku kalah jumlah. Kalau berhadapan langsung, bisa-bisa aku langsung tidak sadarkan diri karena jumlah mereka lebih banyak, bisa juga nanti aku tinggal nama kalau gegabah. Aku mengurungkan niat. Dibelakangku, terdengar suara orang mencoba memaksa masuk kamarku. Dari suaranya, sepertinya mereka berhasil masuk. Aku beruntung sudah masuk ke kamar Morgan melalui lubang ini. Mereka tidak melihatku karena setelah masuk, segera aku menutupnya kembali.

Aku beruntung! Mereka belum masuk ke kamar ini. Kamar Morgan memang berbeda dengan kamar yang lainnya. Sebuah kamar yang terletak di bawah tangga. Lebih mirip seperti gudang kalau dari luar. Ruangannya memang lebih sempit dari kamarku. Namun tidak mengurangi kenyamanan orang yang berada di dalamnya.

Segera aku membangunkan Morgan. Perlahan dia bangun. Memang, orang yang baru bangun tidur itu mukanya seperti tanpa dosa. Tidak tahu apa-apa. Apalagi aku tiba-tiba berada disampingnya. Tidak biasanya.

Morgan bangun. Ia menguap dengan suara agak kencang. Aku menyumpahi adikku atas kebiasaan buruknya ini. Semoga mereka tidak mendengarnya. Segera aku menjelaskan keadaan yang terjadi. Rumah sedang dirampok. Papa serta mama disandera. Diikat dan diletakkan di ruang tengah.

Apakah kami takut kawan. Memang ada perasaan takut yang melanda kami malam itu. Aku juga. Namun, tugas kami hanya bertahan sampai ada bantuan datang. Dan berdoa tentunya. Semoga papa dan mama kami tidak tidak mengalami luka serius. Aku meihat jam di dinding kamar Morgan. Masih sekitar 15 menit lagi mereka akan sampai di tempat ini. Kira-kira itulah pesan paman setelah menjawab pesan singkat yang aku kirimkan tadi. Saat ini, paman sedang di jalan, memacu mobilnya dengan beberapa pasukan.

Entah mengapa, menunggu 15 menit dalam keadaan seperti ini rasanya lebih lama dari biasanya. Apakah ini yang pernah dijelaskan oleh Bu Cecil tentang teori Relativitas itu. Mungkin ada benarnya juga. Tapi, teori relativitas itu kurang berguna dalam situasi kami sekarang ini. Aku harus membuat rencana dengan Morgan. Kami akan bertahan dengan menyerang. Rencana segera kami siapkan.

Ini adalah rumah kami. Kami unggul karena lebih mengerti ruangan dan peralatan rumah yang bisa kami gunakan untuk menunggu bala bantuan datang. Bisa saja kami keluar rumah, lari. Tapi itu lebih beresiko. Bisa saja kawanan itu menempatkan orang di luar. Kami bisa dilumpuhkan seketika.

Dua lawan empat memang tidak sebanding. Tapi dua lawan satu akan memberikan kami keuntungan. Kami akan pisahkan kawanan yang ada di dalam rumah itu.

Kami menyelinap keluar melalui celah sempit kamar Morgan dengan tangga yang ada di depan kamar. Pelan. Kami menuju lantai dua. Kami melempar beberapa kelereng yang aku bawa dari kamar Morgan ke beberapa penjuru rumah. Lima penjuru. Setidaknya itu akan memisahkan mereka untuk sementara.

Benar saja. Ada satu orang yang ditugaskan ke lantai dua. Aku memang sudah memakai sabuk hitam di perguruan beladiriku. Walaupun Morgan belum, tapi kemampuan berkelahinya juga bagus. Itu karena seringnya ia menjadi lawan tandingku saat di rumah.

Dengan rencana yang kami susun. Satu perampok kami lumpuhkan dengan mudah. Dengan beberapa pukulan, satu orang terkapar seketika. Memang, dua lawan satu bisa diandalkan. Lalu, kami menuju ruang belakang, dapur. Sejenak kami melihat situasi dari sana. Terlihat mama sudah tidak sadarkan diri. Entah karena ketakutan atau karena dipukul. Papa masih berusaha tegar saat ditanya. Tidak menjawab. Satu pukulan mendarat di kepala papa. Papa tersungkur. Tidak sadarkan diri. Darah segar mengucur dari kepala papa. Aku menjadi semakin geram.

Aku berusaha menenangkan diri. “Jengan gegabah Jim!” kataku dalam hati.

Masih sekitar 10 menit lagi sebelum bantuan datang. Aku hanya perlu bertahan sebentar lagi.

Ada seorang lagi yang masuk ke dapur. Morgan memukul lehernya dengan kayu penghalus adonan kue. Perampok mengaduh. Lalu pingsan. Celaka. Suaranya lumayan kencang. Ada derap kaki yang terdengar masuk. Apakah itu lawan atau kawan? Mustahil jika kawan. Sepertinya para pembantu juga sudah dilumpuhkan. Apalagi pembantu di rumah kami sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi. Mereka pasti kesulitan jika memberikan perlawanan kepada kawanan perampok ini.

Benar saja. Ada dua orang yang masuk lagi. Urusan bertambah runyam kalau seperti ini. Kami segera berpindah ruangan lagi. Kembali lagi ke kamar Morgan lewat jalan tadi. Kami hanya perlu mengulur waktu 10 menit lagi.

Namun. Tidak sesuai dengan apa yang kami rencanakan. Saat hendak melintasi lantai dua. Ada yang mengetahui kami melintas. Segera saja kami dikepung tiga orang. satu orang lagi masih menunggu papa serta mama kami yang sudah tidak sadarkan diri.

Baik. Ini yang mereka minta. Akan ada pertarungan. Dua lawan tiga. Aku akan menghadapi dua, dan Morgan, semoga ia bisa mengatasi satu orang lagi. Sekilas aku melihat jam yang ada di ruang utama. 7 menit lagi. Ayolah! Waktu terasa lambat sekali dini hari ini.

Kami tidak langsung bertarung. Kami harus memprovokasinya terlebih dahulu. Semoga bisa mengulur waktu. Namun. Sia-sia saja. mereka mulai menyerang. Kami pun membalasnya.

Beberapa kali tinju dan tendanganku mengenai orang di depanku. Satu tersungkur, satunya lagi masih beringas. Dan perutku juga kena oleh pukulan mereka. Morgan. Bagaimana dengan dia. Sedikit ada perlawanan. Namun sekarang ia tersungkur lemah. Lalu pingsan.

Tinggallah aku dan dua orang di depanku. Masih 3 menit lagi. Ayolah! Ingin kuputar jam dinding yang kulihat itu. Jam dinding yang tergantung di ruang tengah rumah kami. Tidak kusadari. Ada yang menendang kaki kiriku. Aku terjatuh. Roboh. Lalu ada yang menghantam wajahku. Hidungku berdarah. Mereka tidak melanjutkan memukuliku. Pimpinan mereka yang ada di bawah memberi perintah supaya aku dibawa turun. Ada sesuatu yang hendak ditunjukkan katanya.

Apakah itu?

Bersambung……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: