JIM (Bagian Pertama)

24 Apr

Sebuah Cerpen

Oleh Uki

Namaku Jim. Kata banyak orang di sekitarku, badanku lumayan tegap. Tinggi badanku hampir 180 cm dengan berat badan ideal. Penampilanku, layaknya karakter utama cerita karangan Bang Hilman, Lupus yang terkenal itu. Aku juga suka mengunyah permen karet, kemana saja, dimana saja, kecuali saat di kelas saja. Agak bandel, tahan banting, itulah salah satu keunggulanku di sekolah. Ditopang tinggi badanku yang lumayan, aku juga lumayan dalam beladiri. Sabuk hitam kuperoleh dengan segera setelah aku bergabung dengan perguruan beladiri di dekat rumahku. Dan sekarang aku dipercaya sebagai ketua organisasi tertinggi di sekolahku, SMA Putra Harapan. Ya, aku menjabat sebagai ketua OSIS.

Aku merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adik laki-lakiku, berjarak tiga tahun dariku. Namanya Morgan. Tingginya hampir sama denganku. Dia juga sama sibuknya denganku. Baru kelas VIII SMP, namun sudah melanglang buana kemana saja. Tidak terhitung sertifikat dan tropi perlombaan yang menghiasi rumah kami karenanya. Dalam hal organisasi, dia pun sama denganku. Menduduki jabatan ketua OSIS di SMP nya. Bisa dibilang, hampir seluruh warga sekolah mengenal kami.

Namaku Jim, dan aku tidak akan pernah melupakan kejadian di malam itu.

Aku masih ingat betul jalan ceritanya. Malam itu, bagi kami, merupakan malam yang biasa saja. Sama dengan malam-malam sebelumnya. Makan malam dengan keluarga. Kami tinggal di rumah yang cukup besar di tepi danau. Danau Wulan namanya. Di tempat ini, hanya ada beberapa rumah saja yang ditempati penduduk. Selebihnya, pekarangan luas dan beberapa tempat yang digunakan untuk kolam pemancingan dan resto yang sekaligus menjadi satu.

Malam itu, kami bersantap malam di halaman belakang yang tepat menghadap ke danau. Asri dan menyejukkan. Rumah kami memiliki beberapa ruangan yang berbeda untuk kegiatan yang berbeda juga. kamar tidur kami terpisah, mulai dari kamar orang tuaku, kamarku, kamarnya Morgan, serta ada kamar disamping dapur yang ditempati oleh dua orang pembantu. Ada ruang tamu, ruang keluarga, serta dapur beserta ruang makan. Namun, kami terbiasa makan di halaman belakang yang telah ditata sedemikian rupa agar nyaman digunakan, pun untuk tempat makan bersama.

Makan malam dengan keluarga memang tidak ada duanya. Bisa saling bercengkrama. Bisa menjadi tempat bercerita kegiatan yang telah dilalui. Aduhai, sungguh aku mendambakan hal seperti itu. Namun, malam ini terasa berbeda. Terasa lain jalan ceritanya dari makan malam biasanya. Semua makan dalam keadaan diam. Hanya suara sendok garpu yang beradu dengan piring yang isinya mulai berkurang. Selebihnya, suara para pembantu yang memita ijin meletakkan makanan di meja.

Malam itu. kami semua terdiam. Masalahnya sebenarnya sederhana. Namun, sudah terlanjur terjadi.

Semenjak sekolah dasar, memang aku sudah keranjingan ikut kegiatan ekstrakurikuler. Apa saja. Kegiatan perlombaan, mulai dari cerdas cermat, teknologi tepat guna, kepramukaan, apa saja aku ikuti. Konsekuensinya, aku sering pulang sore, bahkan pulang malam karena harus menyelesaikan kegiatan di sekolah. Tidak jarang juga aku tidur di sekolah kalau ada kegiatan yang harus diselesaikan hari itu juga. Saat masih SD dan SMP dulu, kegiatanku memang sudah banyak, namun kali ini, boleh jadi melebihi semua kesibukan yang pernah aku sebelumnya. Kalau dulu jarang sering pulang malam, sekarang aku jarang di rumah. Sering tidur di sekolah atau rumah teman untuk menyelesaikan kegiatan kami.

Sebenarnya, semua kegiatan itu diizinkan oleh orang tuaku, terutama ibuku. Namun kejadian saat makan malam itu, entah mengapa, aku begitu keras kepala mempertahankan pendapatku.

“Jim, lusa Ayah berencana mengajak kita semua pergi ke tempat Eyang. Kan sudah lama kita tidak pergi kesana,” ibu memulai pembicaraan.

“Maaf, Bu, Jimmy masih banyak kegiatan”, aku menjawab pelan.

“Nak, kan kita sudah pernah membicarakan ini jauh-jauh hari, sudah lama kita tidak pergi bersama, apalagi semenjak kamu masuk SMA. Belum pernah kita pergi bersama lagi,” ibu melanjutkan pembicaraan.

Sekali lagi, aku menjawab pemintaan Ibu, “Iya, Bu, Jimmy juga ingin pergi bersama, tapi kegiatan ini juga perlu kehadiran Jimmy. Sudah semenjak lama juga kegiatan ini direncanakan”.

Entah, sudah berapa puluh kali aku menolak ajakan itu. Hampir setiap minggu ajakan dari orang tuaku untuk sekedar pergi bersama. Melakukan perjalanan bersama. Sekeluarga. Namun, aku seakan selalu menghindar dari kegiatan rumahku sendiri. Entah mengapa, aku lebih mementingkan urusan organisasiku ini.

Dan ibu juga, entah, sudah berapa puluh kali memintaku untuk sekedar pergi bersama. Entah mengapa juga, malam itu, ibu menutup pembicaraan dengan diam. Belum pernah aku melihat ibu dengan raut muka seperti itu sebelumnya.

Aku tahu. Aku salah. Tapi saat itu, egoku telah menang menguasai diriku. Menjadikan aku pantang meminta maaf.

Dan makan malam pun dilanjutkan dengan senyap. Hanya suara hewan malam yang sesekali menghiasi sisa waktu makan malam kami. Kami semua masih diam. Dan ibu meninggalkan meja makan sebelum kami menyelesaikan santapan kami. Kami tahu pertanda itu. Ibu kecewa denganku.

Malam semakin larut. Aku menyelesaikan pekerjaan rumah dan beberapa dokumen organisasi yang harus aku review ulang.

Malam semakin larut, jam dinding yang menggantung di atas tempat tidurku sudah menunjukan pukul satu lewat. Aku belum bisa tidur. Suara hewan malam masih terdengar pelan, menemani malamku yang masih dibayangi kekecewaa ibu atas sikapku. “Kalau aku bisa bagus di sekolah, mengapa aku menjadi seperti ini di rumah? Di keluargaku sendiri?” aku masih memikirkan hal tadi.

“Apakah aku harus meminta maaf sekarang? Dini hari seperti ini?” pikiranku seperti bertarung sendiri.

“Ah, besok saja, masih ada waktu,” ada pendapat lain yang keluar dari pikiranku.

“Tapi kalau terjadi apa-apa malam ini, dan aku tidak bisa meminta maaf saat esok tiba, bagaimana?” tiba-tiba aku berfikir seperti itu.

Pikiranku masih terusik dengan kejadian makan malam tadi. Masih bertarung sendiri. Antara meminta maaf sekarang dan besok. Di saat pikiran masih kalut, aku mematikan lampu belajarku. Berbaring di tempat tidur, menarik selimut, mencoba tidur malam ini, entah berhasil atau tidak.

Saat aku berbaring, suara hewan malam yang sedari tadi aku dengarkan, berubah menjadi aneh. Menjadi lebih kasar, seperti suara daun yang terinjak dengan ukuran kaki melebihi jangkrik atapun kucing yang suka berkeliaran di samping rumah.

Aku menepis semua pikiran jelekku. Mungkin hanya perasaanku saja.

Namun, tiba-tiba seperti ada suara rintihan orang di dalam rumah. Pelan memang, namun aku masih bisa mendengarnya. Aku berani bertaruh, semua orang di rumah pasti sudah tidur. Hanya aku sendiri yang masih terjaga dini hari ini. Tapi, suara apa itu?

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: