Mengenal Ajip Rosidi

23 Apr

#Kaizen 24

Mengutip kalimat para pujangga, bahwa hari-hari dalam hidup ini seakan tak terasa, melesat cepat bagai peluru yang keluar dari sarangnya. Kita, tentu saja pernah merasakan bagaimana menjadi anak kecil, bagaimana saat itu keceriaan masih menjadi harga yang murah, dengan hanya bermain petak umpet saja, kita bisa tidak pulang-pulang ke rumah, haha.

Okelah, ada beberapa janji yang mesti saya tepati. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah sedikit membahasa tentang Ajip Rosidi. Baiklah, walaupun saya belum pernah bertemu dengan beliau, melalui biodata singkat dari sebuah bukunya, akan saya perkenalkan.

Nama lengkapnya adalah Ajip Rosidi, lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Majalengka, sebuah kota di sebelah kota Sumedang, yang kalau dari tempat saya mengetik tulisan ini, kata teman saya yang memang asli Sumedang, hanya berjarak 3 jam perjalanan dengan menggunakan bus. Entah, semoga suatu saat saya bisa kesana.

Beliau mulai mengumumkan karya sastranya pada tahun 1952, atau saat masih berusia 12 tahun! Hmmmpt, kalau kita bagaimana nih? Boleh jadi ada yang masih sibuk dengan gadget, main jejaring sosial yang kadang rawan mengundang galau. Kepo status orang yang boleh jadi orangnya saja tidak tahu sedang di kepoin. Yang ekstrim, malah ada yang menangis minta dibelikan pulsa gara-gara tidak bisa internetan. Entahlah, semoga saja sudah tidak ada lagi sekarang.

Beliau dikenal sebagai penyair, pengarang, redaktur, dan penerbit. Nah, ini yang perlu kita tiru bersama. Beliau menerbitkan buku pertamanya saat masih berusia 17 tahun, buku tersebut berjudul “Tahun-Tahun Kematian”. Kalau yang itu saya juga belum membacanya, hehe.

Selanjutnya, menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah). Setelah buku pertamanya terbit, kemudian diikuti dengan kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia dan Sunda, yang jumlahnya lebh kurang 130 judul. Dari sekian tulisannya tersebut, banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, antara lain dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perancis, Kroatia, Rusia, dan lain-lain.

Kemudian, ketika masih di SMP menjadi redaktur majalah Suluh Peladjar (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian menjadi pemimpin redaksi bulanan Prosa, majalah Mingguan kemudian Majalah Sunda , bulanan Budaja Djaja. Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam carita pantun dan mempublikasikannya. Lalu, sejak 1981 menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyou Daigaku dan Tenri Daigaku, tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis.

Mengenai penghargaan yang diterimanya. Ajip menerima Hadiah Sastra Nasional untuk puisi dan prosa. Lalu menerima hadiah Seni dari pemerintah RI. Lalu pada tahun 1999 menerima Kun Santo Zui Ho Sho (The Order of Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang, serta berbagai penghargaan yang lain.

Oleh karena itulah, bagi saya pribadi, membaca buku yang berjudul “Orang dan Bambu Jepang” ini adalah pengantar untuk segera menyesuaikan diri dengan berbagai kebudayaan Jepang, yang insya allah, kalau lulus tes IJEPA nanti, saya tidak akan canggung untuk memasuki tempat dengan kebudayannya yang sangat dijaga ini.

Sebagai penutup, marilah kita mencontoh berbagai teladan baik yang ada di sekitar kita. Dan Bapak Ajip Rosidi adalah satunya, terutama di bidang menulis. Sensei saya, dalam suatu waktu mengatakan kepada kami untuk terus menulis. Karena orang yang menulis itu adalah tanda orang yang selalu mau memikirkan hal-hal yang ada di sekitarnya.

Dan bagi saya pribadi, menulis adalah salah satu harta karun yang abadi. Karena, boleh jadi, kalau hanya menandalkan materi semata, kita tidak akan mampu memberikan banyak bagi sesama. Tapi, dengan tulisan yang baik, tulisan yang bisa memberikan inspirasi dan motivasi, akan sangat berguna bagi sesama.

Mari kita mengenal dunia dengan membaca dan selamat menulis bagi semua!

Mari kita berbagi….

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: