Naik Sepeda Ala Einstein

19 Apr

#Kaizen 23

Boleh jadi, ada yang sudah mengenal nama Ajip Rosidi, bahkan ada yang sudah bertemu serta bercengkrama langsung dengan beliau. Saya sendiri? Secara fisik memang belum pernah bertemu langsung, namun, dengan tulisan-tulisannya, sudah. Dan sementara waktu ini, saya masih menikmati salah satu buku karyanya yang berjudul “Orang Dan Bambu Jepang.”

Terdapat 28 esai yang tertulis dengan rapi, tersusun dengan baik serta enak untuk dibaca serta dipahami. Isi dari buku ini adalah tulisan yang berdasar atas pengalaman beliau serta berbagai pendapat dari orang-orang jepang yang ada di sekitar beliau selama disana.

Ada banyak cerita yang ingin saya tulis lagi menurut versi saya, walaupun saya belum pernah ke Jepang tentunya, namun, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari catatan di buku ini, khususnya bagi kita yang hendak mengenal seluk-beluk kehidupan tentang Jepang. Namun, itu akan menjadi PR saya di tulisan berikutnya.

Sebagai pembuka, saya terhenti saat membaca kalimat persembahan di awal buku ini. Beliau menuliskan bahwa buku yang ditulis ini dipersembahkan untuk almarhum kakeknya yang bernama S. Nataprawira, seorang kakek yang pernah menginginkan sang penulis buku untuk bisa belajar di Tokyo, namun akhirnya malah mengajar di Osaka.

Kalimat persembahan ini boleh jadi saya interprestasikan begini, harapan dari orang tua adalah doa yang “powerfull,” namun, memang kembali lagi ke kita. Apakah doa tersebut hanya sebatas doa, ataukah doa tersebut akan kita perjuangkan.

Sebagai contoh, ketika saya dulu ingin bekerja di Jakarta setelah menamatkan belajar di jenjang diploma, dengan harapan agar bisa dekat dengan sumber informasi, karena saya pribadi memang mempunyai keinginan untuk bisa belajar serta berkarir tidak hanya di kancah nasional saja. Namun, keadaan menjawab lain. Surat lamaran sudah saya kirim, lalu ada panggilan dari sebuah rumah sakit internasional di daerah Tangerang, saya datang untuk tes dan wawancara, dan akhirnya, sampai saat ini saya belum mendapat panggilan lagi.

Namun, seperti kata Einstein, hidup itu seperti menaiki sepeda, untuk bisa seimbang harus terus dikayuh. Pada awalnya, karena saat itu pertama kalinya bagi saya melamar kerja, tentu ada rasa kecewa saat menunggu kabar. Hampir tiga minggu setelah tes saya di Tangerang, saya belum menerima kejelasan. Namun, keadaan pun berubah saat ada tawaran dari teman saya di Pekanbaru. Kata teman saya, ada sebuah rumah sakit di Batam yang membutuhkan tenaga perawat kamar operasi. Pas! Karena saya telah melakukan pelatihan untuk hal itu. Segera saya menyanggupi berbagai persyaratan yang diminta, dan satu minggu kemudian, akhirnya saya sudah di Batam.

Boleh jadi, berbagai hal yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada yang ingin masuk SMA, eh, malah masuk SMK. Ada yang ingin masuk jurusan fisika, eh, masuknya jurusan bahasa. Ada yang ingin bekerja di bidang yang dikuasai, eh, malah ternyata jauh dari yang diharapkan.

Hal seperti demikian inilah yang akan menguji ketangguhan kita. Apakah kita termasuk golongan yang mudah putus asa ataukah kegagalan demi kegagalan tersebut akan menjadikan kita generasi yang tangguh?

Seorang guru pernah mengajarkan bahwa perubahan di masa mendatang akan sedemikian banyak, dan seringnya tak terduga. Oleh karena demikian, maka kita juga dituntut untuk bisa mengambil keputusan dengan segera. Nah, untuk bisa menjadi pribadi yang bisa memutuskan sesuatu itu tidak instan. Perlu proses, perlu gagal, serta kemudian bangkit lagi. Jadi, lebih ke arah bagaimana kita menyikapi kegagalan daripada terbuai dengan keberhasilan yang hanya sementara.

Boleh jadi, banyak cerita yang terkait dengan hal ini. Semisal, berapa ratus kali sang penemu bola lampu , Thomas Alfa Edison, mengalami kegagalan. Jika pada percobaan yang baru keduapuluh misalnya, ia putus asa, serta tidak mau lagi melanjutkan percobaannya, boleh jadi kita sekarang masih menerangi malam dengan api yang berbahan bakar minyak.

Jadi, apapun yang terjadi, sebanyak apapun kegagalan yang kita temui, itu merupakan batu sandungan yang ada di jalan saat kita mengayuh sepeda. Kalau kita terjatuh dan berhenti, boleh jadi kita tidak akan sampai pada tujuan yang kita inginkan.

Ajip Rosidi, boleh jadi kakeknya mengharapkannya untuk bisa belajar di Tokyo, namun, beliau malah melebihi ekspektasi yang diharapkan. Beliau malah menjadi pengajar di Osaka, Jepang.

Nah, saatnya kita bertanya pada diri kita sendiri. Akankah kita bisa melebihi apa yang diharapkan oleh orang tua kita? atau malah sebaliknya?

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: