Terperangkap Dalam Kenyamanan

13 Apr

#Kaizen 22

Sedari kecil, saya sering menganggap bahwa saat dewasa kelak, boleh jadi saya akan menjadi guru atau petani.

Mengapa demikian?

Saya adalah anak dari seorang guru dan lingkungan tempat saya tinggal, sebagian besar warganya adalah petani yang juga buruh tani.

Terus terang, mindset seperti ini baru berubah saat saya hampir lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Itu karena teknologi informasi yang saya terima terbilang telat. Boro-boro tahu tentang facebook, saat saya baru masuk kuliah, itu juga pertama kalinya saya kenal dengan yang namanya email!

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Saat itu, saya terjebak dalam kenyamanan dengan dalih, ah, tidak mengenal internet pun tidak apa-apa. Toh, hidup juga masih berjalan.

Ternyata saya salah. Sikap saya yang demikian, menjadikan saya terbelakang dalam dunia teknologi yang sangat cepat berkembang.

Ada satu cerita menarik dari dosen saya terkait hal ini. Pada tahun 1990, saat beliau mengikuti kursus singkat selama 3 bulan di sebuah rumah sakit di Amerika, semua hal disana sudah terkomputerisasi dengan baik. Saat hendak pulang ke Indonesia, beliau membawa berbagai data yang disimpan di disket atau juga kita kenal dengan nama 3 1/2 floppy A. Nah, saat sampai di Indonesia, beliau baru sadar bahwa pada tahun-tahun tersebut, masih sangat langka menemukan komputer disini. Malahan, TV berwarna saja masih jarang yang punya.

Baiklah, sekarang mari kita tengok diri kita masing-masing. Boleh jadi, salah satu hal yang menyebabkan kemampuan kita masih terus berjalan di tempat adalah karena masih terjebak dalam kenyamanan yang masih kita pelihara.

Contohnya, seorang pelajar, memang tugas utamanya adalah belajar. Namun, jika hanya belajar pelajaran (baca buku) terus menerus, tanpa mengikuti hal lain, semisal ekskul, belajar berwirausaha, atau hal lain, sudah bisa dipastikan saat sudah lulus nanti hanya akan menjadi “sarjana kertas.” Nilainya bagus diatas kertas, namun belum bisa berbuat apa-apa di masyarakat. Tidak usah terlalu jauh dulu bicara tentang dunia kerja, ikut rapat tingkat RT pun boleh jadi bingung dan akan keluar keringat dingin terus menerus.

Ingin keluar dari zona nyaman. Hal itulah yang menjadi salah satu motivasi saya untuk berani meninggalkan kenyamanan yang pernah saya alami. Bekerja serta menerima gaji setiap bulan beserta berbagai bonusnya.

Setiap berfikir ingin melanjutkan karir ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yang mengharuskan saya untuk resign tentunya, saya kadang diserang dengan pemikiran yang mengatakan, apakah saya siap untuk meninggalkan semua kenyamanan ini?

Setelah beberapa lama, akhirnya saya pun siap. Entah bagaimana nanti, itu urusan nanti. Yang jelas, saya harus terus melangkah.

Saya hanya berfikir, bukankah akan mengasikkan untuk menghadapi hal-hal yang baru? Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya datangi. Merasakan aroma petualangan yang baru? Siap!

Sebagai penutup, Anda akan saya ajak untuk menyimak sebuah pengalaman dari Prof. Renald Kasali berikut ini,

***

Ketika diminta memimpin Podomoro University, saya pun dikirim belajar ke Babson College di Amerika Serikat yang terkenal dengan pendidikan kewirausahaannya. Selama seminggu saya berkeliling kampus dan berdialog dengan profesor, peneliti, eksekutif, alumnus, donatur, serta para mahasiswa. Bagaimana cara Babson College melatih jiwa kewirausahaan?

Di sebuah kelas, seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan kesenian. Pilihannya beragam. Ada drama, menari, komedi, melukis, membuat patung, musik, menyanyi, dan sebagainya. Masing-masing kelompok diberi instruktur dan dalam tiga pekan ke depan harus tampil dalam sebuah festival. Hampir pasti, mahasiswa penyuka musik akan memilih musik. Mereka yang suka drama akan memilih seni drama dan seterusnya.

Apa yang dilakukan Babson College?

Karena tujuannya adalah melatih keluar dari zona nyaman, mereka yang suka musik justru tidak boleh memilih musik. Begitu seterusnya.

Alhasil, seluruh mahasiswa protes. Mereka harus mencoba sesuatu yang baru dan harus tampil hanya dalam waktu tiga minggu. Bagaimana mungkin? Tapi, bukankah tujuan pendidikan adalah membangun manusia? Di antaranya, manusia yang berani keluar dari zona nyaman.

Menurut hemat saya, kita sangat abai melatih hal tersebut. Karena itu, setiap menghadapi perubahan, kita pun menjadi galak, marah, resistan, menolak, dan ampun, main ancam dan bolak-balik berteriak seperti orang gila.

***

Boleh jadi, hal ini menarik untuk kita pikirkan.

Salam perubahan!

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: