Mencontek?

7 Apr

#Kaizen 20

Kita bisa belajar dari banyak hal, mulai dari hal yang serius, sampai hal yang kadang terdengar lucu, seperti cerita dari teman saya berikut.

Ada dua tokoh dalam cerita ini. Perkenalkan, orang yang pertama, sebut saja namanya Wawan (maaf kalau ada yang namanya sama ya, ini contoh saja). Lalu orang yang kedua, sebut saja namanya Ika (sekali lagi maaf kalau ada yang namanya sama ya, contoh saja kok).

Baiklah, tanpa berpanjang lebar, akan saya mulai ceritanya.

Alkisah di suatu tempat terpencil di belahan bumi bagian barat, Wawan, Ika, dan teman-temannya sedang mengerjakan soal-soal ujian. Saat sedang asik mengerjakan, eh, si Ika ini tampak kebingungan dengan beberapa soal. Entah memang dia lupa atau tidak tahu. Yang jelas, dia mulai gelisah saat mengerjakan.

Saat waktu mengerjakan tinggal 15 menit, akhirnya Ika melancarkan aksinya. Dia, dengan bahasa isyarat, memanggil Wawan. Akhirnya wawan pun menoleh, dan tahu kalau si Ika ternyata minta contekan.

Pada awalnya, Wawan bergeming saja. “Udah, kerjakan sendiri saja,” balas Wawan dengan bahasa isyarat. Namun, si Ika, dengan memasang tampang siluman rubahnya, memaksa Wawan untuk memberikan contekan.

Wawan pun mengalah, ya sudahlah, silahkan contek saja. Dan akhirnya si siluman rubah, eh, si Ika pun mencontek dengan lahap.

Setelah lembar jawaban dikumpulkan dan dikoreksi, eh, si Ika malah remidial alias mengulang, dan si Wawan tidak.

Sontak, si Ika pun mendatangi Wawan dan bertanya dengan tampang yang tidak terima. “Loh, Wan, aku kan tadi nyontek kamu. Kok aku remedial, sedangkan kamu ?” Dengan santai, Wawan pun menjawab, “Oh, setelah kamu tidakontek tadi, aku teliti lagi. Eh, ternyata ada beberapa jawaban yang keliru ternyata, jadi aku ubah.”

Gubrak! Begitulah, kalau orang yang enggan belajar. Nyontek aja masih salah, haha.

Baik, mari kita bahas. Dalam tulisan ini, saya bukan akan mendukung tentang aksi contek mencontek, tapi lebih ke arah bagaimana seharusnya aksi mencontek itu dilakukan, ups.

Kalau di lingkungan kita, boleh jadi paling sering adalah aksi menyontek di lingkungan kelas. Menyontek karena takut mengulang serta takut mendapatkan nilai jelek. Boleh jadi, orang yang mempunyai mental seperti itu adalah mereka yang malu jika mendapat nilai di bawah rata-rata. Akhirnya, mereka pun melakukan cara-cara yang kurang pantas, dan mencontek adalah salah satu contohnya.

Lantas, bagaimanakah cara mencontek yang benar? Boleh jadi, ada yang pernah mendengar istilah ATM. Yak, itu adalah kepanjangan dari Amati, Tiru, dan Modifikasi. Walaupun caranya seperti itu, tentu saja, tetap tidak boleh digunakan saat ujian sedang berlangsung. Tapi, kita bisa mengamati serta meniru cara teman kita dalam belajar.

Setelah kita tahu bagaimana cara belajarnya, tinggal kita modifikasi sesuai dengan keadaan kita masing-masing. Seperti contoh, ada beberapa teman yang bisa cepat paham kalau belajar dengan cara diskusi atau belajar kelompok. Namun, ada beberapa juga yang butuh tempat yang sunyi dalam belajar.

Saya yakin, masing-masing dari kita pasti mempunyai cara belajar yang berbeda. Namun, satu hal yang pasti, mencontek di dalam ujian adalah hal yang akan merugikan diri kita sendiri. Karena hal itu akan menyebabkan ketergantungan pada orang lain dan menyebabkan potensi masing-masing dari kita akan stagnan.

Padahal, hakikat utama dari belajar adalah prosesnya itu sendiri. Bagaimana kita bisa memahami suatu pembelajaran dengan segenap usaha kita. Kalau memang kita belum bisa, dan mengharuskan kita remedial, ya harus kita lakukan. Toh, kalau remedial juga tidak akan membuat orang benci kita. Kalau soal malu, saya kira itu subjektif. Yang jelas, ilmu lebih utama daripada sejumlah nilai bagus, tetapi hasil mencontek, apalagi kalau sudah bicara tentang gelar.

Terkait dengan hal ini, Prof. Rhenald Kasali, dalam salah satu artikelnya menuliskan,

“Pada banyak kasus, kondisi semacam itu memicu moral hazard: memperoleh gelar jauh lebih penting ketimbang mencari ilmu guna meningkatkan kompetensi. Jadi, asal bisa mencantumkan gelar S-1, S-2, atau S-3, meski perguruan tingginya entah berada di ruko sebelah mana atau numpang di salah satu sekolah, bukan persoalan. Bahkan, tak penting pula dosen-dosennya datang dari mana. Pokoknya asal bisa lulus dan bisa memperoleh gelar.”

Sebagai penutup, ada baiknya kita meniru China dalam hal mencontek. Bisa kita lihat, produknya ada dimana-mana. Kalau ada suatu produk terbaru dari produsen terkenal, maka tidak berapa lama kemudian, China akan segera membuat tiruannya. Mereka meniru, tapi juga memodifikasinya.

Bahkan dalam suatu jokes dikemukakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, selebihnya adalah buatan China. Nah!

Uki

Iklan

Satu Tanggapan to “Mencontek?”

  1. Rizal Faisal Rakhman 12 April 2015 pada 12:17 am #

    banyak yang menomorduakan kompetensi ketimbang gengsi, sehingga beginilah wajah negeri kita sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: