Dunia Anak-Anak (Dalam Diri Kita)

7 Apr

#Kaizen 19

Kabar tentang terbitnya novel Bulan karya Tere Liye memang sudah cukup lama terdengar kabarnya. Dan saya menjadi salah satu yang menunggu sekuel dari novel pertamanya, Bumi. Dan setelah terbit, saya segera nitip teman untuk membelikannya. Setelah di tangan, hap! Saya menyelesaikannya dalam waktu empat hari.

Bagi sebagian orang, boleh jadi ada yang bilang saya membacanya dalam waktu yang cukup lama, boleh jadi ada juga yang bilang cepat. Entahlah, karena teman saya yang saya mintai tolong untuk membelikan novel tersebut bisa menyelesaikannya dalam waktu 9 jam dan masih dalam sehari, haha.

Novel tersebut merupakan nomor kesekian dari puluhan daftar karya Tere Liye yang sudah beredar luas di masyarakat.

Dengan membaca novel tersebut, merupakan salah satu kenikmatan tersendiri bagi saya, disamping mengerjakan tugas-tugas yang memang juga perlu diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya! Halah, haha.

Novel dengan setting dunia anak-anak memang selalu mengasikkan untuk dibaca, apalagi tulisan-tulisan sekelas Tere Liye. Hmpt, sayang untuk dilewatkan deh pokoknya!

Terkadang, setelah usia kita bertambah, dunia anak-anak yang dulu senantiasa menemani kita, entah hilang kemana.

Padahal, menjaga diri ini agar senantiasa memiliki sifat kanak-kanak juga perlu.

Desi Anwar, dalam bukunya yang berjudul “Hidup Sederhana”, menuliskan, “Ingatkah Anda bagaimana rasanya sewaktu masih menjadi kanak-kanak? Dunia terasa amat luas, penuh dengan berbagai hal yang menakjubkan, mengasikkan dan misterius untuk diungkap dan dijelajahi.”

Sekarang kita bandingkan dengan kebanyakan orang dewasa yang ada pada saat ini. Dunia terasa amat sempit, dihimpit dengan berbagai kesibukan dan rutinitas, padat dengan berbagai jadwal yang mencekik, dan itu semua, perlahan-lahan membunuh berbagai sifat anak-anak yang dulu pernah terpatri.

Memang ada apa dengan anak-anak? Coba kita ingat bersama, saat masih anak-anak, kita tidak takut untuk bertanya apapun, bahkan, boleh jadi mengajukan pertanyaan yang bagi orang dewasa takut untuk sekedar menanyakannya. Karena sebagai anak, kita tidak takut apapun. Kita ingin tahu apapun, dan tidak takut akan kenyataan yang sebenarnya.

Boleh jadi, memelihara sifat ingin tahu seperti anak-anak adalah salah satu hal yang perlu kita lakukan untuk saat ini. Kita bisa lihat bersama, karena berbagai kesibukan yang membelenggu, menjadikan kita kita jauh dari kata pembaharuan. Pikiran kita berfikir, tugas yang penting selesai, tidak ada inovasi tidak masalah. Padahal, sesungguhnya itulah masalah yang ada.

Kita terjebak pada rutinitas yang menjadikan sebagian dari kita sebagai manusia yang selalu terjebak di masa lalu. Dengan perubahan seadanya, dengan masalah yang sama, dan entah kapan maju ke depannya.

Di akhir tulisannya, Desi mengatakan bahwa menjadi seperti kanak-kanak tidak berarti menjadi kekanak-kanakan, tetapi mengembalikan kemampuan kita untuk terus bisa penasaran terhadap kehidupan dan memandang dunia ini sebagai taman kanak-kanak yang memungkinkan kita mengembangkan kemampuan kita setinggi-tingginya.

Salam anak-anak!

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: