Malu lah Sama Semut

27 Mar

#Kaizen 17

Dalam kehidupan sehari-hari,boleh jadi kita akan menjumpai banyak hal yang bisa memberikan pelajaran. Tidak hanya proses belajar mengajar di kelas saja, namun, berbagai aspek yang ada di sekitar kita pun bisa kita petik pelajaran, asalkan kita mau belajar tentu saja.

Seperti yang hampir saya lihat tiap pagi sebelum shalat shubuh. Kadang saya melihat beberapa semut hitam yang merayap, atau berjalan dengan kecepatan yang konstan. Padahal jam masih menunjukan jam empat lewat sedikit. Dan saya tidak melihat ada semut yang jalannya “malas”, apalagi terlihat loyo!

Sedangkan pada jam-jam segitu, ternyata masih banyak diantara kita yang masih terlelap, merajut mimpi di alam mimpi. Masih terlelap dengan segala angan yang ada di alam yang belum nyata. Dan semisal baru bangun pun, masih saja ada dua pilihan yang tersedia, langsung bangun atau bilang pada diri sendiri, “Ah, masih gelap, lima menit lagi lah bangunnya,” lalu menarik selimut kembali.

Saat pagi datang dengan segenap janjinya, kembali lagi kita bilang dengan suara kencang bahwa kita ingin menjadi orang yang berbeda, ingin menjadi orang yang lebih baik lagi. Begitu seterusnya, begitu juga kemalasan yang ada belum bisa kita atasi.

Sepertinya ini menjadi lingkaran setan yang kita ciptakan sendiri. Hasrat hati ingin maju, namun kita yang dominan menciptakan kemalasan kita sendiri.

Coba, sesekali saja, kita belajar dari hewan kecil yang bernama semut ini. Boleh jadi dia tidak mempunyai otak sebesar kita, anggota badan selengkap kita, pemikiran sekritis kita. Boleh jadi, semut hanya punya tujuan yang sederhana, namun disiplin dalam melakukannya, sepenuh hati dalam menjalankannya, dan satu hal lagi, semangat.

Untung saja Sang Maha Kuasa tidak memberikan keistimewaan kepada semua orang untuk bisa mendengar dan mengerti suara binatang. Kalau saja bisa, sulit membayangkan betapa malunya kita saat diomeli hewat sekelas semut hanya karena urusan bangun telat, malas, dan berbagai hal yang menurut semut itu merupakan hal yang sederhana.

Duh, sesekali saja coba, malu sama semut!

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: