Tulisan Yang Nikmat

25 Mar

#Kaizen 16

Akan saya awali tulisan kali ini dengan mengutip beberapa paragraf dari tulisan Prof. Renald Kasali,

***
“Saya pikir hidup yang nyaman, terlindungi, tercukupi adalah hidup yang aman”, begitu pemikiran banyak orang.

Kita berpikir, apa-apa yang kita kerjakan dan membuat kita mahir sehari-hari sudah final. Dengan cara seperti itu maka kita akan melakukan hal yang sama berulang-ulang sepanjang hari, melewati jalan atau cara-cara yang sama sepanjang tahun.

Padahal segala sesuatu selalu berubah. Ilmu pengetahuan baru selalu bermunculan dan saling menghancurkan. Teknologi baru berdatangan menuntut ketrampilan baru. Demikian juga peraturan dan undang-undang. Pemimpin dan generasi baru juga mengubah kebiasaan dan cara pandang. Ketika satu elemen berubah, semua kebiasaan, struktur, pola, budaya kerja dan cara pengambilan keputusan ikut berubah. Ilmu, keterampilan dan kebiasaan kita pun menjadi cepat usang.
…..
***

Tiga paragraf tersebut adalah penggalan dari artikel yang berjudul “Keluar Dari Zona Nyaman” yang ditulis pada 29 desember tahun lalu.

Saya, dan boleh jadi banyak orang yang mempunyai minat membaca, pasti senang dengan jenis tulisan yang nikmat seperti ini.

Selain tata bahasanya yang tertata, isinya juga berbobot, dan jenis tulisan seperti ini bukanlah dihasilkan oleh orang yang sukanya berdiam diri saja. Apalagi kerjaannya hanya mengeluh dan mengkritik tanpa membangun.

Bagi saya, tulisan seperti ini serasa hidangan yang nikmat untuk disantap. Selain tampilannya mengesankan, nutrisinya juga tinggi. Jadi, dua-duanya dapat!

Bagi saya pribadi, terus menulis adalah salah satu cara agar kelak bisa memiliki tulisan dengan tampilan dan bobot seperti ini, yang tentu saja dengan ciri khas saya tentunya.

Anda bisa menikmati tulisan Prof. Renald Kasali di berbagai media, entah online ataupun media cetak. Kalau ingin yang komplit, Anda bisa berkunjung ke rumahperubahan.com, disitu tersimpan catatan-catatan beliau dengan rapi.

Yang jelas, proses membaca itu jangan ada batasnya, begitu juga dengan proses belajar. Dalam salah satu paragraf yang lain, beliau menulis,

“Karena itulah, belajar tak boleh ada tamatnya. Sekolah pada lembaga formal bisa menyesatkan kalau beranggapan selesai begitu gelar dan ijazah didapat. Apalagi bila kemudian memunculkan sikap arogansi “saya sudah tahu” atau “mahatahu” tentang sesuatu hal.”

Dan masih banyak lagi tulisan-tulisan nikmat yang terhidang secara cuma-cuma untuk kita semua. Hanya saja, apakah kita mau membacanya apa tidak, itulah yang perlu kita tanyakan pada diri kita masing-masing.

Sebagai penutup, ada sebuah fakta dari sebuah penelitian menyebutkan bahwa membaca minimal satu jam per hari bisa menurunkan resiko kepikunan. Kita juga mau kan?

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: