Saat Malas Melanda

8 Mar

#Kaizen 6

Salah satu hal yang disampaikanoleh sensei kami beberapa waktu yang lalu adalah manusia cenderung untuk bermalas-malasan. Dan ketika malas melanda, hmpt, jadi ogah-ogahan untuk melakukan hal apapun.

Dan ketika hal ini terjadi, dan tidak segera diatasi, akan banyak hal juga yang harusnya bisa selesai tepat waktu jadi molor, lor, lor.

Semisal, tugas yang harusnya sebelum jam 9 malam bisa diselesaikan, eh, jadinya molor sampai besok pagi, gara-gara malas mengerjakannya pada malam hari. Padahal ada waktunya. Malahan saat itu digunakan untuk bermain-main, entah main apa misalnya.

Dan boleh jadi, itu juga berlaku untuk banyak hal. Entah, saat ini, dimanapun kita berada, yang sedang ada tugas menghafal, yang ada tugas karya tulis, skripsi, tesis, dan sebagainya. Juga yang sedang bekerja, laporan demi laporan yang sudah ada tenggat waktunya, malah jadi mundur pengumpulannya. Itu karena yang bersangkutan “menuruti” rasa malas yang datang.

Ibarat kata, rasa “malas” itu datang ke rumah kita, malah kita bukakan pintu dengan baik, dipersilahkan duduk, diberikan suguhan, hingga dia betah berlama-lama dalam diri kita. Bukannya malah kita usir dengan segera!

Mengapa rasa malas itu ada? Sensei kami menuturkan bahwa salah satunya adalah karena kita sudah terlalu sering mengerjakan hal yang sama, terus menerus, berulang-ulang, dan begitu-begitu saja, tanpa ada pembaharuan.

Coba saja, semisal kita makan jenis makanan yang sama dalam waktu yang lama, jadi bosan juga kan? Lalu ketika hari kesekian kita diminta ke meja makan untuk makan jenis makanan yang sama, jadi malas kan?

Khusus untuk belajar, akan sangat besar godaannya untuk cepat menjadi malas. Dengan berbagai alasan pula. Ada yang bilang pelajarannya sulit lah, tidak ada waktu belajar lah, sibuk hal lain lah, dan berbagai alasan lainnya.

Lalu, bagaimana untuk mengatasi rasa malas tersebut? Banyak caranya, salah satu hal yang disampaikan oleh sensei kami adalah, mau tidak mau, dan harus mau, kita harus melawannya!

Terdengar mudah memang, namun untuk melakukannya butuh perjuangan ekstra!

Dan jika masih malas juga, mari kita lihat ke belakang tentang perjuangan kita masing-masing. Kita, di jenjang apapun kita saat ini, tidak ada yang gratis. Semua perlu pengorbanan yang besar, khususnya materi.

Masih banyak dari kita yang menggunakan dana dari yayasan ayah bunda. Dari bapak ibu kita! Bapak saya pernah menasehati kalau seseorang akan bisa menghargai sesuatu kalau dia bisa membelinya sendiri. Dan ini saya rasakan setelah saya bekerja beberapa waktu yang lalu. Sesuatu yang saya beli, kemudian saya rawat dengan baik karena itu merupakan hasil jerih payah saya saat bekerja. Dan saya bisa bekerja pun karena banyaknya pengorbanan dari orang tua yang tiada terkira.

Rasa malas bisa dilawan, tapi pengorbanan orang tua belum tentu bisa kita bayar.

Boleh jadi, hal ini menarik untuk kita pikirkan bersama.

Oyasuminasai…

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: