Dari Bangun Tidur Sampai Bersih-Bersih Asrama

23 Feb

#Kaizen 2

Ketika membuka mata di pagi hari, apa yang Anda sekalian rasakan? Pasti tiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Saya juga, ketika sedari kecil sampai sebelum kuliah, ketika bangun di pagi hari sering saya melihat jalanan ramai oleh lalu lalang kendaraan, para laki-laki dewasa sampai yang sudah berumur pergi ke sawah, begitu juga para perempuan yang menggantungkan kehidupannya pada bidang persawahan. Juga ramainya para perempuan yang menunggu bis di pinggir jalan, mereka ini adalah pekerja pabrikan. Mulai dari konveksi, pabrik kertas, hingga pabrik rokok yangberada di kota saya.

Itu saat di Kudus, berbeda lagi ketika saya berada di Batam. Namanya kota di daerah kepulauan, jadi mau ke pantai ya dekat saja. Dari asrama karyawan yang saya tempati, cukup dengan waktu 10 menit saya bisa menuju pantai terdekat. Namanya Coastarina, atau orang-orang disana menyebutnya Ocarina. Disana ada Bianglala yang cukup besar, namun sayang, sampai saat ini saya belum pernah menaikinya. Entahlah, setiap kali kesana memang tidak pernah di hari minggu atau libur, kesananya ya pas weekday, haha.

Berbeda lagi dengan sekarang. Setiap kali bangun tidur, lalu membuka gorden di sebelah tempat tidur di asrama yang sekarang, saya langsung melihat deretan pegunungan yang begitu dekatnya. Karena memang tempat belajar saya yang sekarang berada di kaki gunung yang saya belum tahu namanya. Nanti ya kalau sudah tahu insyaallah saya beritahu namanya, hehe.

Setiap pagi, setelah melakukan Rajio Taiso (dari bahasa jepang, Rajio berarti Radio, Taiso berarti nama sebuah senam di jepang. Walaupun secara arti harfiahnya ini adalah senam yang diputar menggunakan radio, tapi pada kenyataannya musik senam  ini sudah memakai mp3, dan ada videonya juga, hehe. Kalau pengen tau gerakannya, silahkan dilihat di Youtube) yang diadakan tepat pukul lima pagi, saya sering memperhatikan kabut yang selalu membuat saya kagum serta menghirup segarnya udara pegunungan yang khas, yang jauh dari polusi. Ini seperti setting tempat di fim-film FTV itu, yang kalau meihatnya saya selalu ingin merasakannya langsung. Kalau sudah begitu, hati ini rasanya tenang, seraya mengucapkan rasa syukur yang tiada tara kepada Sang Maha Pencipta yang menciptakan alam begitu indah ini.

Pagi hari yang dingin seperti ini sunggu sangat enak kalau dibuat tidur lagi, berselonjor sambil narik selimut tinggi dan rapat. Duh, gak tau deh nanti bangunnya jam berapa, haha. tapi tidak bagi saya dan teman-teman yang sedang melakukan pelatihan disini.

Disini, kami harus terbiasa bangun pukul 04.30, saat mendengar adzan shubuh yang cukup keras, karena masjid berada di sebelah asrama. Kami bangun, shalat, dan bersiap untuk melakukan senam Rajio Tasio tersebut. Karena kami dipersiapkan untuk mengikuti seleksi untuk menjadi tenaga kerja di Jepang, baik Perawat maupun Careworker, kami tidak hanya dilatih berbahasa Jepang saja yang akan menjadi nilai tambah saat wawancara nanti. Tapi kami juga diajari budaya serta prinsip kerja orang Jepang yang sangat terkenal dengan standar kedisiplinan yang tinggi.

Setelah shalat, kami, para peserta pelatihan harus beda berada di kelas yang telah dimodifikasi untuk dipergunakan untuk senam. Dalam hal ini, kami dilatih menggunakan prinsip kerja Go fun mae no seishin (dari bahasa jepang yang berarti datang ke tempat kerja minimal lima menit sebelum kegiatan kami dilaksanakan, ini juga berlaku untuk segala hal yang kami lakukan selama melakukan kegiatan disini). Jadi kami harus berada di tempat senam paling telat pukul 04.55, kalau telat, haha, silahkan rasakan sendiri konsekuensinya. Memang, pada awal-awal terasa berat, apalagi saya yang saat di Batam punya pola tidur yang berkebalikan dengan orang-orang normal. Karena saat disana, saya sering mendapatkan jatah jaga siang dan malam, jadi kalau pagi, setelah shalat shubuh biasanya malah tidur. Namun, setelah dua minggu lebih disini, alhamdulillah saya bisa mengkuti ritme yang ada.

Setelah senam, kami berkumpul untuk briefing. Kami dibagi tugas setiap pagi dan sore untuk melakukan salah satu budaya penting orang Jepang, yaitu Souji (dari bahasa jepang yang berarti bersih-bersih). Kami dibagi kedalam beberapa kelompok yang terdiri atas beberapa orang, ada yang 2 sampai 4 orang. Setelah dibagi tugas, lalu kami membersihkan rouka (lorong), kyoshitsu/kurasu (kelas), jimusho (kantor), otearai (toilet), sentaku tsuru (petugas yang membersihkan peralatan yang dipakai oleh teman-teman), serta shokudou (dapur). Untuk shokudou ini ada petugasnya khusus yang dinamakan ryouri toban (bacanya rioori tobang, karena huruf n di bahasa jepang itu dibaca “ng”. Ryouri berarti memasak dan toban berarti petugas). Jadi petugas inilah yang menyiapkan makan, mulai dari sarapan, makan siang, serta makan malam. Serta membersihkan peralatan yang digunakan untuk masak dan makan. Ada piring, gelas, sendok, garpu dan sebagainya.

Dalam melakukan souji pun kami ada tatacaranya. Tidak asal. Prinsip yang digunakan untuk souji adalah dari atas ke bawah, serta dari pojok ke tengah. Jadi ketika membersihkan kyoushitsu (kelas) misalnya. Kami harus mengelap bagian-bagian yang berada di atas terlebih dahulu. Membersihkan jendela dan papan tulis menggukan lap yang berbeda.

Oh ya, sedikit pengetahuan dalam penggunaan lap disini. Setiap lap yang digunakan diberi label dan digunakan untuk penggunaan yang berbeda. Lap yang beri label warna merah, itu gunanya untuk mengelap piring, gelas, dan alat makan lainnya. Lalu lap yang diberi label warna hijau dipergunakan untuk mengelap meja makan. Lalu lap yang diberi label warna kuning dipergunakan untuk mengelap kaca. Lalu lap yang diberi label warna biru, dipergunakan untuk mengelap tempat yang terkena minyak, semisal tempat masak yang dekat dengan kompor gas yang sering terkena cipratan minyak goreng. Lalu lap yang diberi label hitam, untuk papan tulis. Dan yang terakhir lap dengan label putih, untuk kulkas. Hehe.

Ribet ya? Kalau udah dijalani ternyata enak kok. Coba kalau kita bayangkan kalau lap yang digunakan untuk mengelap kaca lalu digunakan untuk mengelap piring, ya jadinya ogah-ogahan kalau mau makan jadinya kan? Ya, seperti itulah. Itulah alasannya mengapa diberi label, selain menjaga agar penggunaannya tidak sembarangan, begitu pula dengan pencucian serta penjemurannya. Ya gak lucu kalau penggunaannya dipisah tapi nyucinya jadi satu kan? Jadi setiap lap seperti mempunyai kasta masing-masing, hehe. Kalau ada lap yang digunakan tidak sebagaimana mestinya, bisa saja kastanya akan menjadi turun. Semisal lap dengan label merah digunakan untuk mengelap meja, maka otomatis label merahnya akan diganti dengan label warna hijau, dan tidak diperbolehkan lagi digunakan untuk mengelap piring. Iya kan? 

Kembali lagi ke kyoushitsu, setelah mengelap jendela dan papan tulis dengan menggunakan lap berlabel kuning dan hitam, lalu kami harus menyapunya dari pojok ke luar dengan cara tidak boleh mengibaskan sapu. Mungkin ada sebagian yang belum terbiasa menyapu, dan inilah tempat terbaik untuk belajar menyapu dengan benar. Setelah disapu, kemudian di pel. Nah, mengepel pun ada caranya. Setelah alat pel dicelupkan ke dalam ember yang sudah diberi cairan pembersih, lalu pel di peras sampai hampir kering. Mengapa demikian? Karena kalau mengepel lantai tidak boleh sampai terlihat sangat basah. Memang harus basah, tapi basah yang cepat kering. Gimana coba? Haha.

Masih banyak yang seru lagi, namun kalau kepanjangan ceritanya nanti malah gak ada rasa penasarannya, hehe. Insyaallah akan saya sambung lain kesempatan. Bagi saya, tempat pelatihan ini bukan hanya bagaimana cara belajar bahasa jepang, namun lebih ke arah sekolah kepribadian. Salah satu tempat belajar yang insyaallah akan hidup saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Dan hari sabtu seperti ini, dilakukan osouji (bersih-bersih besar) yg dikerjakan semua peserta pelatihan. Dan saya? Mendapat otearai! Asik!

Ohayou Gozaimasu, Ganbatte kudasai minasan!

Uki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: