Mengapa Saya Menulis?

10 Okt

#Turn On 106

Judul diatas adalah sebuah pertanyaan yang keluar saat saya ingin menulis tentang hal lain. Apalah daya, karena saya rasa hal itu lebih prioritas untuk ditulis, maka inilah yang selanjutnya akan Anda baca.

Setelah membaca sebuah tulisan yang ditulis oleh Prof. Rhenald kasali, saya jadi merenungkan banyak hal. Oh ya, Anda bisa membaca tulisan tersebut di postingan sebelum ini. Sebuah artikel tentang kebebasan, bebas dalam arti positif, bebas dalam arti keluar dari “ketiak” orang tua, bebas dalam sebuah perjalanan yang akan membuat jatuh dan bangun dalam koridor tanggung jawab, bebas dalam arti yang masih banyak lagi tentunya.

Kebebasan, warisan, dan sejarah. Sejenak saya mengambil tiga hal dari berbagai ide yang ada di tulisan tersebut.

Saya, Anda, berapapun usia Anda sekarang, mulai dari usia yang masih belia sampai lansia, karena fasilitas jejaring sosial ini bebas digunakan oleh siapa saja tentunya, pasti ingin selalu merasakan kebebasan. Bebas menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Bebas menuliskan apa yang dirasakan. Bebas mengemukakan apa saja. Karena tulisan, yang terangkai dari berbagai huruf yang berbeda ini, merupakan salah satu warisan termutakhir yang ada. Bayangkan saja jika dunia ini tanpa adanya tulisan, tanpa adanya kata-kata, oh, saya tidak bisa membayangkan betapa suramnya keadaan sekarang.

Kita tahu bersama, semenjak dunia ini mengenal tulisan, berbagai pengetahuan diwariskan secara turun-temurun lewat tulisan. Mulai dari zaman tulisan dipahat di sebuah batu sampai saat ini dimana tulisan dengan mudahnya diketik dalam sebuah layar digital.

Namun terkadang kita lupa, atau lebih mungkin tidak menyadarinya. Apapun yang kita tulis di dunia maya bisa menjadi konsumsi umum. Siapa saja bisa membacanya. Siapa saja bisa berkomentar tentang hal ini. Dan siapa saja, dengan pendapat masing-masing tentunya, bisa mengetahui dan menilai diri kita dari apa yang kita tulis.

Orang-orang yang masuk dalam kategori “siapa saja” ini, terkadang kita anggap hanya teman-teman kita saja, mereka yang umumnya telah mengenal kita, namun, seiring berjalannya waktu, anak-anak kita nantinya pun bisa menjadi golongan “siapa saja” ini.

Mengapa saya menulis seperti ini. Karena terkadang ada sebagian dari kita yang lupa dengan arti kebebasan ini. Kita menulis terkadang memang sesuka hati kita, dengan model huruf serta bahasa kita, dengan pengucapan yang menurut kita baik-baik saja, entah yang huruf awalnya kecil lalu besar, ataupun kombinasi, huruf konsonan dengan vokal yang tidak proporsional, yang kalau dibaca pun susah- susah-gampang, mungkin lebih banyak susahnya, haha. Dan hal yang perlu kita sadari adalah, itu semua akan terekam dalam media digital ini serta bisa dinikmati siapa saja.

Terkadang, kalau orang lain yang menilai kita, kita anggap cuek aja. Urusi urusanmu sana saja, saya urusi urusanku. Boleh jadi demikian. Namun, jika tulisan yang kita buat saat ini suatu saat, entah sepuluh tahun atau lebih dari sekarang dibaca oleh anak-anak kita sendiri? Bagaimana jadinya? Apakah iya kita akan bicara dengan anak kita demikian. Urusi urusanmu sana sana, ini urusan bapak, ini urusan ibu. Boleh jadi tidak demikian.

Karena, kebebasan menulis kita saat ini, secara tidak langsung akan menjadi sebuah warisan bagi anak-anak kita kelak.

Saya meyakini, setiap ada bayi yang lahir ke muka bumi ini, sang orang tua pasti akan mendoakan anaknya untuk bisa menjadi generasi yang baik, membanggakan orang tua, bahkan nusa dan bangsa. Namun, bagaimana generasi penerus kita akan bisa menjadi demikian kalau kita saja, yang saat ini sudah menjadi orang tua serta calon orang tua, yang seharusnya menjadi perpustakaan utama bagi generasi penerus, malah memberikan contoh yang kurang sesuai dengan apa yang menjadi harapan kita.

Seorang guru pernah menuturkan bahwa tulislah apa yang sekiranya menjadi kebutuhan orang lain. Setelah mendapatkan pelajaran tersebut, saya terus mencobanya sampai saat ini. Entah, yang saya tulis semenjak hampir satu setengah tahun yang lalu hingga sekarang apakah sudah memenuhi kriteria tersebut atau belum. Yang jelas, setiap saya menulis, saya berniat agar tulisan saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Syukur-syukur bisa.

Sebuah tulisan bisa memberikan berbagai pengaruh terhadap siapa saja yang membacanya. Bila tulisan itu berisi tentang hujatan, makian, kekecewaan, keputus asaan, dengki, marah, maka yang membaca pun akan terkena dampaknya. Sebuah tulisan yang berisi hasutan untuk melukai orang, provokasi untuk membuat orang lain babak belur, bisa sangat mungkin terjadi.

Sebuah tulisan yang berisi tentang ke-alay-an seseorang, manja serta genit yang tidak sesuai dengan usianya, boleh jadi akan membuat yang membaca menjadi kurang nyaman, ilfil, apalagi jika itu tulisan yang ditulis oleh orang tua yang memilki anak yang sudah bisa memahami arti tulisan, atau setidaknya, bagi anak-anak yang baru belajar membaca dengan tingkat keingintahuan yang tinggi, pasti akan menanyakan hal-hal tersebut kepada orang tua mereka. Apa arti tulisan tersebut. Mengapa ditulis demikian. Besar, kecil, kecil, besar, ada nomor-nomornya. Lantas, sebagai yang menulis, apa yang akan kita jelaskan?

Sebuah tulisan yang berisi tentang kegalauan yang terus menerus, akan membuat orang lain memberikan label kepada yang menulis bahwa orang tersebut seperti tidak konsisten. Di dunia nyata sepertinya biasa-biasa saja, namun di dunia maya, kok malah demikian. Keluhan demi keluhan tumpah ruah, berceceran dimana-mana. Apa yang akan kita jelaskan kepada anak-anak kita kelak tentang tulisan yang demikian?

Sebuah tulisan, dari kebebasan yang kita buat, akan menjadi warisan, akan menjadi sejarah. Dan itu pasti adanya.

Sebuah tulisan yang baik, yang bisa memberikan pengetahuan serta pemahaman baik bagi yang membaca, tentu akan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi diri sendiri, selain mendapat kepuasan dalam hati, tentu akan menjadi warisan yang baik bagi si kecil yang seiring waktu terus beranjak dewasa.

Selamat menikmati malam dengan tulisan yang baik, mari belajar bersama untuk bisa memberikan warisan yang baik. Agar sejarah di zaman ini tidak dicap sebagai zaman yang lebih banyak orang menuliskan hal-hal yang bisa memberikan arti, memberikan inspirasi, memberikan motivasi, memberikan pengetahuan, daripada sebaliknya.

Batam, 10 Oktober 2014, 18.55 PM

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: