Yang Khas Disini

24 Sep

#Turn On 105

“Mas, ‘teh obeng’ nya tambah satu ya, huh, huh, huh,” seru seorang pembeli di sebelah saya, beberapa waktu yang lalu yang terlihat kepedesan dengan makanan yang disantapnya. Wajah yang nampak kemerahan bercampur keringat yang terlihat menetes itu, meminta tambahan minuman kepada salah seorang pramusaji di warung tepi jalan yang selalu ramai itu. Tepatnya di sebuah warung lombok ijo yang terlihat tak pernah sepi dari pengunjung, termasuk saya juga sering membelinya.

Ya, teh obeng, saya dulu pernah menulis tentang hal ini. Namun saat itu, terus terang saya masih cukup asing dengan nama minuman ini. Biasanya, kalau di Jawa, dari ujung barat sampai ujung timur, paling-paling kita lebih sering mendengar kata “es teh” atau “teh hangat, atau teng anget”, namun disini, di sebuah kota yang dekat dengan Malaysia serta Singapura, dekat secara geografis maupun budayanya, mau tidak mau pasti akan terpengaruh juga.

Orang-orang pendatang, seperti saya dan teman-teman saya, yang datang ke pulau ini sekitar dua tahun yang lalu, awalnya juga merasa asing dengan hal ini. Masak nama teh yang notabene nama minuman kok bersanding dengan “obeng” yang dekat sekali dengan pertukangan. Haha. Saya pikir, awalnya itu sebuah lelucon, atau lucu-lucuan saja. Namun, rasa ingin tahu saya mendorong untuk bertanya kepada mbah google. Dan yups, banyak sekali bertebaran informasi tentang hal ini.

Dari sebuah media internet, saya membaca bahwa teh obeng, meski memang belum bisa diakui seratus persen, berasal dari kata teh apeng. ‘Peng’, yang dalam bahasa Tionghoa di Xi cia Po berarti es, dan ‘o’ untuk ‘teh o maupun kopi o’ berarti kosong. Nah, dalam perkembangannya, karena lidah orang indonesia yang lumayan susah mengucapkan nama teh apeng, maka berubahlah namanya menjadi teh openg. Lagi-lagi, karena masih agak susah menyebutkan openg, maka jadilah obeng. Dan tersebutlah nama teh obeng tersebut. Kira-kira begitulah saya memahami seorang narasumber keturunan Tiongoa di sebuah laman berita internet. Jadi lunturlah perkiraan saya yang berfikir teh obeng adalah teh yang diaduk menggunakan obeng, hehe. Boleh jadi gelasnya besar dong. Apalagi jika teh linggis, haha, malah ngaco ini tulisannya.

Lalu ada ‘teh o’ serta ‘kopi o’, Anda juga akan sering mendengarnya ketika berkesempatan berkunjung kesini. O tersebut menggantikan kata hangat yang biasanya kita dengar di Jawa. Memang agak lucu kalau belum terbiasa mengucapkan kata-kata ini. Saat pesan makan lalu bilang pesan teh o mas, atau mbak. Kalau saya, daripada susah-susah, bilang saja pesan es teh atau teh hangat, toh, kebanyakan yang jualan juga orang jawa. Nama warungnya saja ‘Warung Makan Lamongan’,ya saya pesannya es teh, eh, itupun, simbok-simbok yang jualan, yang bahasa jawanya medhok banget, saat memastikan pesanan saya, bilangnya, “pesen teh obenge siji, le?” (teh obengnya satu, Nak?), haha. Wajar saja, simbok yang jualan sudah 20 tahun lebih disini ternyata.

Lalu tentang perubahan arti kata, setidaknya, ada dua kata yang sering terdengar di keseharian saya yang artinya beda dengan arti yang selama ini saya pahami. So, here we go.

Suatu hari saat di tempat kerja saja, di kamar operasi, seorang kawan di bagian depo farmasi yang berdarah minang asli bertanya sama saya, “Syad, operasinya udah siap?”. Spontan saya jawab saja, “loh, bukannya operasinya udah mulai dari tadi ya Mbak?”. Dengan wajah yang lumayan bingung dia bertanya lagi, “iya, memang sudah mulai, tapi sudah siap belum? Soalnya saya mau nyiapin obat buat operasi selanjutnya,”.  Sudah mulai? Sudah siap? Kok saya malah jadi bingung sendiri ya. Haha. Selidik punya selidik, ternyata disini kata ‘siap’ berbeda arti dengan yang selama ini saya pahami di Jawa. Disini, kata ‘siap’ malah berarti ‘selesai’. Jadi kalau ada yang bertanya “Apakah acaranya sudah siap?”, itu berarti “Apakah acaranya sudah selesai?”, haha. Butuh waktu memang untuk menyesuaikan hal ini. Soalnya kalau belum paham bisa sering salah paham jadinya. Hehe.

Lalu kata ‘semalem’, ini juga berbeda artinya. Pernah juga suatu ketika saya ditanya oleh kawan saya, “Syad, semalem ada acara apa di asrama? Kok ramai”. Saya kan jadi bingung, padahal tadi malam di asrama kan sepi, orang-orang pada jaga di RS. Memang sih, ada acara, tapi kan sore harinya, ada kawan yang syukuran. Ya saya jawab saya, “tadi malem asrama sepi kok Mas, gak ada acara apa-apa”. Nah loh, kawan saya yang bertanya juga jadi bingung malahan. Ia meyakinkan kembali, ia melihat ada acara yang ramai di asrama ‘semalem’. Ya saya juga kekeh menjawab kalau tadi malam asrama sepi, kebanyakan pada dinas. Lalu datanglah seorang kawan yang menjelaskan kalau kata ‘semalem’ disini itu berarti ‘kemarin’. Haha. Inilah, kalau belum paham malah jadi bisa gak ngerti satu sama lain. Saat sudah tahu, ringan saja saya jawab, “oh, semalem ada acara syukuran Mas, hehe”, sambil cengar-cengir sendiri.

Selanjutnya, tentang nama tempat. Unik juga membahas tentang hal ini. Walaupun di daerah Indonesia, namun ada sebuah tempat yang bernuansa Jepang, catet, namanya saja loh, kalau tempatnya ya tetep, Indonesia banget. Namanya adalah Nagoya. Di Nagoya ini ada sebuah Mall besar yang bernama Nagoya Hill, yang sering didatangi oleh wisatawan asing, jadi kalau Anda kesini, akan sangat lumrah kalau bertemu bule-bule. Sama seperti sebuah desa di Kudus, asal saya, ada juga yang bernama Jepang, lengkapnya Jepang Pakis. Haha, kalau ini cuma namanya saja, gak ada jepang-jepangnya sama sekali malahan.

Lalu ada ‘Pasar Jodoh’. Jangan mengira tempat ini menyediakan layanan untuk mencari jodoh bagi pria maupun wanita. Orang-orang disini dengan singkat menyebut daerah tersebut ‘Jodoh’, dan ada sebuah pasar tradisional yang cukup besar yang bernama ‘Pasar Jodoh’. Sebenarnya ini adalah sebuah nama desa, nama desanya juga tak kalah lucu kalau tahu, ‘Sungai Jodoh’. Di pasar ini, sama halnya dengan pasar-pasar tradisional pada umumnya. Orang-orang berlalu lalang berjualan. Ada yang menjual, dan ada yang membeli. Ada yang jualan baju, jam tangan, sayur mayur, buah-buahan, serta masih banyak lagi. bedanya, dan ini yang unik menurut saya, yang biasanya menggelar barang dagangannya di atas selembar kantong sak di tepi-tepi jalan kan orang yang jualan sayur, entah itu kangkung, bayam, atau kadang juga lauk pauk. Ini kalau di pasar dekat rumah saya. Yang biasanya mereka ini belum mampu menyewa lapak di dalam pasar, alhasil, mereka berjualan di tepi jalan di pasar tersebut. Namun, di pasar ini, tidak hanya kangkung yang dijual yang ditempatkan di atas kantong sak, ada juga yang berjualan hape maupun laptop. Tentu saja hape yang dijual kebanyakan hape jadul ataupun laptop keluaran tahun lama. Namun, tetap saja ini merupakan pemandangan baru bagi saja. Ternyata, disini hape bisa dijual di tepi jalan, haha, dijual layaknya kangkung atapun bayam, ups, hehe.

Tentu masih banyak yang lain yang unik disini, masih banyak juga yang masih belum saya ketahui, inilah salah satu dari banyaknya ragam pesona dan budaya dari sebuah kota yang hanya berjarak 40 menit perjalanan feri ke Singapura.

Apakah ada yang tertarik berkunjung kesini?

Batam, 24 September 2014, 22.17 PM

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: