Ia Dan Warisan Waktu

29 Agu

Hari-hari terlewati, bulan demi bulan terlampaui, tahun demi tahun perlahan berganti, eh, perlahan? Ia belum menemukan kosakata yang tepat untuk hal ini. Pagi bertemu siang, siang bergerak menuju sore, sore sebentar lagi menjumpai malam, dan setiap hari hal ini terulang lagi, malam tak bosan untuk bertemu pagi kembali.

Benar, waktu ini terus bergerak, seolah tak pernah memperdulikan kita. Kalau saja waktu ini bisa bertanya kepada umat manusia, apa ya kira-kira pertanyaan yang akan ditanyakannya? Entahlah. Suatu kali hal ini terlintas di benaknya, memenuhi setiap ruang yang ada di pikirannya, namun, lagi-lagi, ia belum menemukan jawabannya.

Karena penasaran dengan hal ini, pergilah ia dari rumahnya. Membawa bekal seadanya dan mulai membuka pintu rumah. Pintu terbuka, kaki kanan mulai melangkah keluar, mengucapkan doa, semoga akan ada jawaban dari hal ini.

Manusia, atau katakanlah kehidupan, banyak orang berpendapat serta teori mengemukakan, telah dimulai dari ratusan juta tahun silam. Namun, entahlah, apa yang telah diwariskan sampai saat ini, atau bisa diganti dengan pertanyaan lain, apa yang akan generasi ini wariskan kepada generasi selanjutnya?

Ia menapakkan kakinya, melintasi jalan setapak, melintasi jalan yang ramai, bertemu dengan rupa-rupa manusia, rupa-rupa peradaban, beda pulau, beda bahasa, beda budaya. Perjalanan semakin ia lanjutkan, semakin banyak hal yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan, berbeda dengan sebelumnya, saat ia banyak menghabiskan waktu di kamar sempitnya.

Pernah ia membaca sebuah kalimat di buku yang menuliskan, “waktu akan membawanya pergi….,” hei, bukankah tapak kaki, berputarnya roda, atau apalah yang bisa membawa manusia atau benda-benda lainnya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya? Tapi, waktu? Waktu bisa membawa apa?

Tepekur ia memikirkan hal ini. Sejenak ia berhenti dari perjalanannya, berteduh di bawah pohon rindang yang berbaik hati memberikan udara yang segar kepadanya. Berjalan lagi, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, berpindah, waktu juga berpindah, hanya saja dengan definisi yang berbeda. Sejak dahulu kala waktu juga berpindah, berpindah dari satu masa ke masa  lainnya. Bukankan saat duduk di bangku sekolah dulu ia pernah diceritakan sebutan masa yang berbeda-beda. Ada zaman es, ada zaman batu, ada zaman perunggu, ada zaman kerajaan apa, zaman dinasti apa, zaman kejayaan siapa, berarti kan waktu juga berpindah bukan? Namun, pertanyaan itu keluar lagi. Andaikata bisa bertanya, apa pertanyaan yang akan diajukan waktu kepada umat manusia?

Waktu bergerak mendampingi setiap manusia di setiap masanya. Ia tak pernah telat, tak pernah berbohong, apa pernah setelah malam hari langsung menuju siang hari? Dalam catatan sejarah, hal itu belum pernah terjadi.

Waktu juga telah menyaksikan, betapa banyak orang-orang hebat dalam setiap masanya. Semua telah direkamnya, ibarat garis yang sangat panjang, maka di setiap garis waktu tadi akan ada cerita yang terekam dalam setiap masanya.

Hei, iya, ia menemukan sesuatu. Garis waktu, sejarah, pengetahuan. Iya, hal itulah yang mungkin akan ditanyakan olehnya. Bukankah hidup kita dipengaruhi oleh masa sebelum kita? Bukankah yang dipelajari di bangku-bangku sekolah, bacaan di berbagai perpustakaan, tentang segala pengetahuan yang ada, dari segi hitung-hitungan, seni rupa, pengetahuan medis, dan masih banyak lagi, itu berasal dari orang-orang sebelum kita? Bukankah manusia berjumlah sangat banyak, berapa hitung-hitungan yang menyebutkan hal itu, berapa triliun yang tercatat? Namun, berapa juga yang telah mengubah masanya dan masa setelahnya, tidak banyak, hal ini dibandingkan dengan siapa-siapa yang telah mengguratkan namanya di dalam tinta emas sejarah.

Karena “orang-orang” yang tidak banyak inilah, peradaban setiap masa dipengaruhi. Karena “orang-orang” yang tidak banyak inilah, pengetahuan setiap masa dipengaruhi.

Warisan pengetahuan, ah, kata-kata itu. Pernah ia mendengarnya dari salah seorang yang berilmu di masa ia sekolah. Ada banyak pilihan yang dapat dipilih, salah satunya dalam memberikan warisan kepada generasi selanjutnya. Orang berilimu tersebut menuturkan bahwa, warisan berupa harta benda, mungkin adalah salah satu pilihan nyata yang dipilih oleh mereka yang terbuai oleh harta. Namun, sejarah menyaksikan, waktu telah merekam kejadian itu, orang-orang yang diberikan warisan berupa harta benda, dengan nilai yang sangat menggiurkan, namun tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup, malah menjadi senjata makan tuan. Menjadi pedang bermata terbalik. Menyerang sang empunya tanpa ampun.

Pertama melihat, seakan mudah saja untuk dikuasai, namun, hal itu malah menjadi seperti obat terlarang yang memabukkan, membuat candu, membuat “rasa puas” itu hilang dari kamus besar. Terlena, terbuai, dan yang paling membahayakan, menjadikan mereka tak pernah pernah puas, tidak pernah merasa cukup. Selalu saja kurang. Harta bertambah, namun selalu merasa kurang. Sungguh menjadi pedang bermata terbalik, ibarat digunakan dalam pertarungan, digunakan menyerang tidak mempan, namun bisa melukai yang memegang.

Lalu pilihan selanjutya, ada warisan kekuasaan. Ah, ini juga kadang banyak terjadi, atau bisa jadi lumrah di beberapa tempat. Lumrah terjadi, biasa dibicarakan, dan menjadi hal yang jauh dari tabu lagi untuk dilakukan. Entahlah.

Seorang guru pernah bercerita bahwa di sebuah negara demokrasi pernah ada suatu kejadian. Kejadian tentang orang-orang yang tamak akan kekuasaan. Kejadian tersebut terjadi ketika ada suami yang habis berkuasa, lalu giliran istrinya yang mencalonkan diri. Habis istrinya, lalu giliran anaknya yang mencalonkan diri. Dan selalu saja alasannya, “kalau mampu, kenapa tidak?”, “kalau masih dipilih, kenapa tidak?”, sistem demokrasi seperti ini kadang menjadi alat pembenaran yang mulus sekali. Hingga terkadang orang-orang lupa, dalam sistem ini, koruptor pun masih bisa terpilih, karena satu suara preman setara dengan satu suara professor.

jika memang kekuasaan diwariskan dengan model seperti ini, entah apa yang akan terjadi pada generasi selanjutnya. Apakah ini pertanyaan yang akan ditanyakan oleh waktu? Tentang warisan kekuasaan? Entahlah.

Warisan harta dan kekuasaan, boleh jadi akan menjadi sedemikian carut marut jika tidak dibarengi dengan pengetahuan. Ya, sekali lagi, pengetahuan.

Ada yang pernah bilang kepadanya, hal yang paling cepat merusakkan dunia ini bukanlah senjata-senjata mematikan yang dimiliki oleh golongan tertentu, tapi lebih sederhana dari itu, namun sangat mematikan. Hal itu adalah “kebodohan”.

Mengapa demikian. Karena hal apapun yang ada, jika diserahkan kepada mereka yang belum mengetahui, atau lebih sarkas lagi, bodoh, maka pasrah sajalah apa yang akan terjadi selanjutnya. Rusak, hancur, tidak bersisa.

Kitab-kitab suci mengajarkan bahwa, serahkanlah segala sesuatu itu pada ahlinya. Dan para ahli yang menekuni bidangnya masing-masing itu perlu waktu serta pengorbanan yang tidak murah untuk memahami apa yang mereka pelajari, yang pada kemudian hari akan diwariskan pada generasi selanjutnya. Itulah, warisan pengetahuan yang akan menjadi warisan waktu. Iya, warisan waktu.

Boleh saja, atau memang kita dianjurkan untuk berdoa, memohon untuk berbagai hal yang menjadi keperluan kita. Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan mereka yang telah belajar dengan ketekunan tinggi, dengan penuh dedikasi agar mereka bisa menjadi ahli di bidangnya.

Semisal, ada orang yang mengalami gangguan fungsi hati sehingga diputuskan agar organ tersebut diganti melalui operasi, dilakukan transplantasi. Di satu sisi, kita dianjurkan untuk berdoa agar si pasien bisa sembuh, bisa kembali seperti sedia kala. Namun, di satu sisi juga, kita tidak boleh melupakan mereka yang telah berjuang keras mempelajari cara mengganti hati tersebut agar si pasien bisa menikmati kebebasan. Bebas dari penyakitnya, bebas dari rasa sakit yang dialaminya, bebas dari rasa cemas yang melandanya.

Waktu, telah melakukan perjalanan yang sangat panjang, telah menyaksikan banyak hal, telah merekam berbagai kejadian di berbagai tempat.

Sedangkan manusia, yang telah ada semenjak ratusan tahun lalu, bahkan mungkin ribuan tahuan lalu, akan berjumlah sangat banyak jika dijumlahkan semuanya. Begitu pula dengan nama-nama yang melekat di setiap manusia yang pernah ada. Begitu banyak, sangat banyak, atau harus pakai kata apa untuk bisa menggambarkannya.

Proses demi proses dilewati, tahapan demi tahapan dilalui, lahir, tumbuh dan berkembang, mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, berpasangan dengan lawan jenis, kemudian melahirkan generasi baru lagi. hal itu selalu akan dibarengi dengan warisan pengetahuan dari orang tua ke anak-anak mereka. Para orang tua akan memberikan “apa” yang mereka punya kepada anak mereka. Hal pertama yang mereka berikan adalah pengetahuan itu sendiri. Akan sangat lucu jika bayi baru lahir langsung diberikan selembar uang, mau dibuat apa? Dalam beberapa kasus, terutama di negara yang menganut sistem kerajaan, memang akan ada bayi yang baru lahir yang langsung mendapatkan gelar pewaris tahta, namun, untuk menuju jenjang itu, perlu sebuah proses panjang untuk memasukkan pengetahuan kepada sang pewaris tahta sampai dia siap untuk melaksanakan gelar tersebut.

Warisan pengetahuan boleh jadi akan menjadi warisan waktu yang sangat berharga. Pengetahuan, serta berbagai ilmu yang ada, akankah itu yang akan ditanyakan oleh waktu andaikata ia bisa bertanya?

Ia masih melanjutkan perjalanannya.

-Qi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: