Ia Dan Guru

23 Agu

Malam kesekian di bulan Syawal. Malam ini memesona, hanya terlihat langit yang bertabur bintang. Malam ini juga cerah, awan-awan entah kemana, mungkinkah sedang istirahat dalam perjalanannya, atau mungkin sedang ada acara di kota lain, di pulau lain? Entahlah. Yang jelas, malam ini sungguh memesona.

Bulan terlihat sabit, dan sebentar lagi akan berganti menjadi bulan baru. Siklus yang terus menerus terjadi. Bulan baru, bulan sabit, dan bulan purnama. Ah, ia selalu suka bulan purnama. Jika bulan purnama telah menampakkan dirinya. Ia selalu suka memandangnya. Berlama-lama. Di lantai paling atas rumahnya, kadang-kadang iseng berada di atas genteng. Lama ia memandang bulan tersebut. Sampai kadang lupa waktu sudah melewati tengah malam.

Memang seperti itu. Kegemarannya yang satu itu, dan juga kegemarannya yang lain berasal dari sebuah pengetahuan tentang alam. Tentang keindahan alam sekitar. Tentang keindahan bintang gemintang, bulan, planet, galaksi, dan masih banyak yang lainnya. Dan yang tak kalah pentingnya. Semua itu banyak ia dapatkan dari gurunya.

Dan cerita kali ini adalah tentang guru.

Hari raya Idul Fitri, yang jatuh pada tanggal 1 syawal tahun, telah terlewati oleh 25 hari. Masih, masih terasa atmosfer lebaran yang walaupun tidak sekental awal bulan ini. Namun, ia masih, dan tidak akan lupa, tentang segala hal yang telah terjadi, hingga hari ini, adalah tentang gurunya.

Ia mengenal tentang alam, tentang pengetahuan, tentang kejujuran, tenggang rasa, dan masih banyak hal-hal lainnya, dari proses membaca, mendengarkan, memahami, mulai saat duduk di bangku sekolah dasar, adalah dari guru-gurunya.

Guru, adalah salah satu pekerjaan paling mulia di muka bumi ini.

Betapa tidak, guru mendidik murid-muridnya hingga menjadi pintar, hingga esok lusa mereka ada yang menjadi doktor hingga profesor, namun mereka tetap “tertinggal” di belakang. Mereka tidak sedih, tapi bahagia, bahkan tersenyum bangga. Mereka mendidik murid-muridnya, hingga kelak salah satu diantara mereka ada yang menjadi kepala daerah, menjadi gubernur, bahkan presiden, sementara guru itu tetap tertinggal di sekolah (dalam artian yang sebenarnya), namun, mereka gembira, dan tersenyum lapang. Ini persis seperti lilin, terbakar habis untuk terangnya sekitar.

Dan, hei, bukankah saat ini kita masih menyaksikan sendiri, mereka masih di gedung sekolah yang sama, di SD, SMP, SMA. Mereka masih disana, hanya penampilan dan waktu yang telah membuat mereka semakin menua, namun senyum mereka tetap sama. Mereka masih disana, sementara kita terus melesat jauh untuk menggapai apa yang kita mimpikan, apa yang kita cita-citakan. Mereka “menghentikan” mimpi mereka agar mimpi murid-muridnya tercapai. Mereka “menghentikan” karir mereka, sementara karir kita terus menanjak. Soal harta benda, mereka dari dulu ya masih seperti itu, sementara kita ada yang lebih beruntung soal materi.

Sungguh, guru adalah salah satu pekerjaan yang paling mulia di muka bumi ini.

Kita, bisa membaca, menulis, menghitung, bisa tahu letak Pegunungan Gimalaya itu India, bisa tahu ada tembok besar di Cina, bisa mengerti ada berbagai jenis ikan di lautan, bisa mengetahui kalau planet itu tidak hanya Bumi, bisa mengerti ini, bisa memahami itu, adalah dari mereka. Kita diajari untuk jujur, diajari untuk bisa saling menghormati, karena didikan mereka. Karena mereka jugalah, kita didorong untuk berani mengemukakan pendapat, diajari untuk menerima perbedaan pendapat. Jika saat ini, dengan pencapaian yang berbeda oleh masing-masing dari kita, tak luput peran mereka.Bangunan pengetahun yang kita miliki sekarang, ada batu bata yang tersusun dari tangan guru-guru terbaik. Setiap menara pemikiran kita yang kita miliki saat ini, ada pondasi yang terbentuk dari mereka juga. Tak pernah luput, tak pernah. Hal ini tak bisa dipungkiri, bahkan oleh yang dulu suka membantah sekalipun.

Mereka mengenang murid-muridnya, mengenang penampilan kita, kebiasaan kita, meski mungkin ada salah satu dari sekian muridnya yang sudah lupa. Mereka tidak pernah berhenti mendoakan kita, meski mungkin ada juga yang sudah lupa kepada mereka. Mereka masih mengingat kita. Tak perlulah mereka mengatakan betapa hebatnya muridnya yang sudah jauh disana, menjadi orang besar disana. Mereka juga tak perlu mengatakan betapa besarnya jasa-jasa mereka. Mereka cukup tersenyum tulus. Boleh jadi, mereka masih mengingat kita, saat pertama kali kita masuk sekolah, betapa culunnya kita dulu, yang dari rumah sudah berpakaian rapi lalu sampai sekolah itu baju kenapa kok selalu keluar terus, dimasukin, keluar lagi, dirapikan oleh mereka, eh, keluar lagi. Eh, malah si culun yang itu sudah jadi orang besar sekarang, sudah jadi orang yang berpengaruh sekarang, sudah jadi orang yang bisa membantu banyak orang sekarang, dan yang sudah jadi yang lain juga. Namun, sejauh apapun yang kita peroleh saat ini, tidak ada istilah bekas guru, apalagi bekas murid.

Guru adalah suri tauladan bagi murid-muridnya. Mereka mengajarkan arti pengorbanan yang sebenar-benarnya. Tiada rintangan yang pantas dilihat murid-muridnya. Ketika guru hendak mengajar, dengan berbagai beban hidup yang mereka emban, mereka rasakan, namun, ketika masuk kelas, seketika raut wajah itu berubah menjadi menyenangkan. Seketika raut muka itu berubah ceria, menjadikan kelas selalu menyenangkan untuk belajar, untuk berdiskusi. Mereka mengajarkan arti kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, serta ribuan pemahaman-pemahaman baik lainnya. Sungguh, mereka adalah benteng akhlak bagi murid-muridnya.

Ia tak bisa membendung hatinya lagi, biarlah, biarlah perasaan ini mengalir. Doa ini untuk kalian, wahai guru-guru. Doa yang semoga naik ke langit, doa terbaik untuk para pendidik di negeri ini.

Terpujilah engkau wahai Ibu Bapak guru, juga termasuk yang sekarang menempuh pendidikan untuk berproses menjadi guru. Kalianlah masa depan negeri ini.

-Qi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: