Ia Dan Membandingkan

19 Agu

Malam itu, tatkala cahaya rembulan merekah di angkasa, menerangi tiap sudut kota tempat ia berada. Cahaya yang terang menelusup halus ke dalam kamar tempat Ia sendiri. Merenung, memikirkan setiap kejadian yang telah terjadi, berfikir tentang berbagai hal yang ada di sekitarnya, sehingga sampailah ia pada suatu perdebatan dalam dirinya sendiri.

Ia telah bekerja di suatu tempat yang bisa dibilang cukup terkenal. Terkenal di mata perusahaan pesaingnya maupun di kalangan masyarakat tempat ia berasal. Namun, malam itu, kembali ia bergumul dengan hatinya. Hatinya meronta, meminta penjelasan, meminta kejelasan, mengapa ia menjadi gundah gulana. Padahal kan seharusnya ia selalu bisa bahagia dengan apa yang telah dikerjakannya, apa yang telah diperolehnya. Entah mengapa, hatinya seakan berteriak keras. Ia merasa ada yang tidak adil, ada yang salah dengan dirinya, ada yang mengganjal di relung hatinya, ada yang mengganggu pikirannya, dan malam itu, ia memejamkan matanya, sadar, menyadari, bahwa ia sedang kesulitan untuk berterima kasih, kesulitan untuk bersyukur terhadap segala yang telah terjadi.

Kebahagiaan, ya, sebaris kata yang sedang ia pikirkan. Apa sebenarnya akan arti kebahagiaan itu? Dimana letaknya? Apakah kebahagiaan itu segaris dengan kekayaan materi? Apakah kebahagiaan itu hanya dimiliki oleh mereka yang punya banyak uang? Oleh mereka yang kendaraannya bagus? Mewah? Berharga ratusan bahkan miliaran? Apakah hanya dimiliki oleh mereka yang punya rumah besar? Berlantai banyak? Tinggi? Apakah hanya dimiliki oleh mereka yang bisa menyekolahkan anak-anaknya di perguruan tinggi elit? Yang biasa masuknya ratusan juta? Apakah hanya dimilki oleh mereka yang ini? Yang itu? Begitu banyak pertanyaan serta tanda tanya yang muncul dalam pikirannya. Hatinya resah, pikirannya tidak tenang, raut mukanya kusam oleh kekalutan yang melanda. Apa yang menyebabkan semua ini.

Sebenarnya, ia sudah terbilang cukup dengan hasil dari pekerjaannya. Pendapatan yang diperolehnya bahkan melebihi pendapatan keluarganya. Pendapatan ayahnya maksudnya, karena ibunya mengabdi penuh menjadi ibu rumah tangga.  Namun, malam itu, sebelum ia sampai di rumah, sempat ia berbincang dengan kawannya. Seorang kawan yang bercerita tentang pendapatan. Sebuah cerita biasa namun entah mengapa saat itu ia sedang sensitif dengan hal itu. Seorang kawan yang bercerita tentang pendapatan teman-teman yang sama-sama bekerja, yang bekerja satu tempat maupun di lain tempat dengan tempat ia bekerja.

Seorang kawan yang bercerita bahwa di anu bisa mendapatkan sekian dalam satu bulan, selain pendapatan ini, juga bisa mendapatkan pendapatan itu, dan selain itu, sesekali bisa mendapatkan pendapatan dari hal lain. Begitu juga si anu, kemarin ia baru beli mobil, namun ya itu, entah mengapa si anu ini pengeluarannya perbulan juga banyak, gaya hidupnya men, mewah. Memang makanannya sih biasa-biasa saja, sama dengan kita, namun gadgetnya selau up to date, terbaru, canggih. Nah, kalau di anu satu lagi itu, memang saat masuk kerja, departemennya memang memberinya pendapatan tinggi, tunjangannya tinggi juga. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ia mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan kawannya tersebut. Mendengarkan sekaligus mulai tumbuh secara halus kecambah demi kecambah rasa iri. Ia merasa selama ini pendapatan yang diperolehnya biasa-biasa saja. Hal itu karena ia mulai membandingkan dirinya dengan orang-orang yang diceritakan oleh kawannya tersebut.

Semakin ia merenung, semakin dalam ia tenggelam dalam lamunannya.

Ketika pikirannya sedang kalut, semakin tercebur dalam lubang yang dalam, yang penuh dengan iri dan kecemburuan. Ia teringat sebuah sajak yang pernah ia baca, sajak tentang membandingkan.

***

Ketika jamuan makan malam di sebuah restoran mewah dan terkenal dibandingkan dengan makan mie ayam di tepi jalan, jelas bukan tandingannya.

Ketika jalan-jalan ke Eropa atau Amerika dibandingkan dengan jalan-jalan ke pasar malam dekat rumah, jelas bukan tandingannya.

Ketika naik mobil mewah yang harganya miliaran dibandingkan dengan naik angkot yang suaranya bikin telinga gerah, jelas bukan tandingannya.

Ketika gedung sekolah yang mewah, ber-AC, berkomputer lengkap, dibandingkan dengan gedung sekolah yang berada di dekat sawah dan sering banjir tatkala hujan, jelas bukan tandingannya.

Ketika seorang yang bekerja di perusahaan top, bergaji tinggi, dibandingkan dengan seorang yang bekerja sebagai karyawan honorer, jelas bukan tandingannya.

Namun, Kawan. Kebahagiaan ternyata tidak serta merta memandang hal seperti itu. Kebahagiaan ada dalam hati kita sendiri. Karena sekali lagi, jika kita masih membandingkan hal-hal itu, jelas bukan tandingannya.

Kalau masih ingin membandingkan jamuan makan di restoran berbintang dengan makan bakso di tepi jalan, jelas itu bukan tandingannya. Namun, ada yang lebih jelas, yaitu kita bisa tetap sama bahagianya.

***

Ia menjadi lebih tenang sekarang. Hatinya sudah mulai lega. Memang, kalau ingin membandingkan, ia sadar hal itu tidak akan pernah bisa memuaskan hatinya. Ia sadar, kalau ia belum bisa mensyukuri setiap hal kecil yang diperolehnya, maka pasti ia akan tambah susah untuk bersyukur kalau ia diberi banyak.

Dalam penghujung malam ia bersimpuh, luruh semua hal yang telah dipikirkannya, yang menganggunya, yang membuatnya resah, membuatnya gundah gulana. Memang, setiap orang telah ditetapkan, ada yang keran rezekinya kecil, ada yang lebar, ada yang kencang dan ada pula yang pelan, namun, dibalik itu semua, ia meminta kepadaNya, agar ia tetap diberi kesempatan untuk selalu bersyukur.

-Qi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: