KRL Disini Dan MRT Disono

2 Jun

#Turn On 103

Sebuah perjalanan memang menyenangkan untuk dinikmati, entah yang itu cukup dengan jalan-jalan di dekat rumah, di sebelah desa, melihat-lihat hijaunya hamparan tumbuhan padi yang asalnya hijau yang kemudian lamat-lamat menguning, berisi bulir-bulir yang amat sangat kita kenal, atau bisa jalan-jalan ke tempat yang jauh, yang belum pernah terbayangkan.

Sebuah perjalanan, insyaallah selain menyenagkan, juga dapat memberikan sebuah pemahaman baru bagi yang menjalaninya.

Saat saya masih balita, pernah orang tua saya mengajak saya ke Madura, naik bus, melintasi selat dengan kapal feri, namun, karena masih kecil, saya pun agak susah mengingatnya, walaupun orang tua saya sering menceritakannya,

Saat saya duduk di bangku sekolah dasar, saya mulai menyukai kegiatan outdoor, mulai dari mancing (tentu saja mancing ikan, bukan mancing perkara, apalagi keributan, hehe) di blumbang (sebutan di desa untuk rawa), mencari cacing, ceremende, serta kadang umpan buatan, kalau yang satu ini sih jarang berhasil, entah, ikan di blumbang kami masih demen sama yang asli mungkin, hehe, ogah sama yang imitasi.

Lalu setelah pulang sekolah sore (karena dulu, setelah pulang SD, kira-kira jam 12 an, makan siang, langsung siap-siap sekolah agama yang waktunya mulai jam 2 siang dan pulang jam 4 sore), bersama teman-teman, saya ikut keluyuran, mulai yang bermain kelereng, bermain umpet-umpetan, dan mandi di kali, haha, lalu malamnya, kami sekali lagi bermain petak umpet, dan kalau lagi musimnya, kami bisa berburu jangkrik yang bisa sampai di perbatasan desa, dekat dengan sungai, dan yang satu ini beresiko kena omel orang tua, terutama ibu, haha. Karena, jangkrik yang diburu belum tentu dapat, walaupun suaranya nyaring dan kami pikir gampang saja menemukannya, namun ternyata lumayan susah, dan ketika pulang, bisa saja dari kami ada yang gatal-gatal karena kena ulat bulu. Ah, masa itu.

Kalau sekarang, perjalanan yang saya lakukan cukup berkembang, untuk tidak dibilang stagnan sama sekali.

Saya selalu berkeyakinan, saat saya masih sekolah di desa, saya harus bisa menjelajah kota. Saat saya bersekolah di kota, saya harus menjelajah provinsi, walaupun hanya beberapa kota yang saya datangi. Dan sekarang, saat saya berada di luar pulau, saya harus bisa keliling Indonesia, dan juga sebisa mungkin ke luar negeri.

Dan alhamdulillah, satu persatu keinginan saya terpenuhi. Ada sebuah tulisan lucu di kota tempat saya bekerja, “Kepleset pun sampe Singapura”, haha. entah siapa yang mempunyai ide tulisan semacam ini. Namun, hal ini boleh jadi benar adanya, tentu saja pukan kepleset seperti kepleset di lantai terus sampe Singapura. Kalau itu terjadi mah nanti bisa menjadi sebuah transportasi wisata yang murah meriah, dengan cara kepleset, haha. Ah, ngaco ah..

Jarak Batam ke Singapura memang terbilang dekat, sekitar 40 menit dengan kapal feri, kalau dengan pesawat saya belum tahu, karena belum pernah mencobanya, tapi saya yakin gak sampe 20 menit. Malah ada teman yang bercanda, bilang saat pesawatnya baru take off bisa saja langsung landing, haha. Masa iya, baru lepas landas, belum lepas sabuk pengaman, eh, sudah mau turun lagi, entahlah, semoga kapan-kapan bisa mencobanya agar bisa menceritakannya.

Untuk transportasi massal disana, MRT (Mass Rapit Transportation), memang menjadi salah satu sarana transportasi yang cepat serta nyaman. Wusssss, baru naik, sebentar kemudian kereta yang berada di bawah tanah itu melaju dengan kecepatan tinggi. Saat saya berkesempatan kesana, itupun karena ada sponsor yang membiayai, haha, saya melihat begitu jarang kendaraan pribadi yang berada di permukaan tanah, semisal motor dan mobil, memang ada, tapi tidak sepadat yang ada di Batam, apalagi di jalanan Ibu Kota, jalan tol saja bisa macet, haha.

Layaknya film-film yang mempertontonkan begitu banyak orang yang berlalu-lalang di sepanjang trotoar, semisal di USA atau Jepang, hal ini saya lihat langsung di Singapura. Banyak orang berjalan, entah yang berjas, berdasi, atau sekedar yang pergi arisan. Tiga lantai ke bawah tanah. Kalau semisal gedung, ada lantai basemen 1, basemen 2, serta basemen 3. Jadi kalau masuk ke stasiun MRT nya itu, baru masuk ke bawah tanah, sudah terlihat semacam bangunan besar, namun terletak di bawah tanah.

Harga tiketnya kala itu, satu dollar singapura untuk perjalanan sehari semalam, 24 jam bebas keluar masuk stasiun mana saja.

Lain ladang lain belalang, lain kota lain juga transportasinya. Saya sebenarnya ingin menulis sama, namun bagaimana lagi, memang ada perbedaan yang perlu ditulis.

KRL, atau dalam bahasa aslinya Commuter Line, yang menghubungkan Jabodetabek. Sebenarnya juga hampir sama dengan MRT nya Singapura. Hampir sama dalam sistem masuk dan keluarnya, namun ada perbedaan dalam beberapa hal.

Saya kurang tau, semisal nanti Bapak Jokowi sukses membangun MRT buat Jakarta, mungkin saja bisa sama persis, jadi kalau jalan-jalan di Jakarta kan bisa wusssssss, sampe, hehe.

Oke, perbedaan yang pertama, kalau naik MRT, biaya beli kartunya seharga 12 dollar Singapura (kalau dirupiahkan sekitar 100 ribu rupiah sekarang, mengingat harga dollar semakin naik), itu untuk kartu yang bisa dipergunakan selama satu tahun, kalau yang harian saya belum tahu karena waktu itu memang belum tahu, dan untuk biaya perjalanan sehari, seharga satu dollar singapura, sekitar 8 ribuan, namun, satu dollar ini bisa dipergunakan untuk keluar masuk stasiun sebanyak yang anda mau, tidak ada batasannya.

Semisal di Orchard, mau keluar, masuk, keluar lagi, masuk lagi, juga gak ada masalah, paling-paling dianggap orang yang gak ada kerjaan saja oleh petugas penjaga palang pintu, haha.

Kalau KRL, kartu jaminan seharga 5 ribu rupiah, untuk  perjalanan harian, batas penggunaan kartu tujuh hari, kalau lewat tujuh hari, kartu tidak bisa ditukar dengan uang lagi. Dan ada beberapa persyaratan lainnya, salah satunya, yang saya alami kemarin. Ketika saya masuk ke stasiun KRL di daerah UP (Universitas Pancasila) tujuan Depok, saya tidak langsung naik KRL, karena keasyikan membaca novel karya Tere Liye, hingga 1 jam lebih, lalu teman yang akan saya datangi tiba-tiba ada perlu, sehingga saya tidak jadi naik KRL, ketika keluar di stasiun yang sama, kartu jaminan yang seharga 5 ribu itu tadi tidak bisa diuangkan kembali, haha. Itu karena saya tidak membaca dengan seksama peraturan-peraturan yang tertera di belakang kartu tersebut. Kan saya pikir sama seperti di Singapura, eh, ternyata beda.

Untuk kartu yang tidak harian juga ada, namanya kartu Multitrip, bisa juga memakai beberapa jenis kartu yang dikeluarkan oleh Bank, semisal BCA ataupun BRI, namun saya belum memahaminya, daripada saya tulis namun salah kan mending tidak, hehe, insyaallah lain kali kalau udah mudeng deh saya tulis.

Lalu untuk biaya perjalanannya, tiap 5 stasiun kita harus membayar 2 ribu, jika tambah per 3 stasiun, tambah 500 rupiah lagi. Semisal kita, dalam sekali perjalanan, dari stasiun UP (Universitas Pancasila) mau ke Jakarta Kota, kita akan melewati 16 stasiun, yaitu stasiun Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Duren Kalibata, Cawang, Tebet, Manggarai, Cikini, Gondangdia, Gambir, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, Jayakarta, baru sampe Jakarta Kota. Jadi dengan perhitungan tersebut, maka kita harus membayar 5 ribu untuk kartu jaminan ditambah 4 ribu, jadi totalnya adalah 9 ribu rupiah.

Setelah sampai di stasiun Jakarta Kota, kartu tersebut bisa diuangkan kembali, atau bagi yang tidak ingin menukarnya juga tidak apa-apa, berarti uang 5000 nya tidak kembali, hehe.

Itu tentang kartu dan biaya yang harus dikeluarkan, yang kedua adalah suasana di stasiun tempat kita menanti datangnya kereta. Karena seluruh stasiun MRT berada di bawah tanah, maka otomatis full AC, kalau gak ada AC nya, gak tau deh jadinya. jadi saat-saat menunggu kereta datang itu nyaman, walaupun di siang hari sekalipun.

Berbeda dengan KRL, yang stasiunnya berada diatas permukaan tanah, yang jika siang hari, kita akan menunggu dengan banyak orang, saling berhimpit-himpitan jika sedang ramai-ramainya, maka keringat akan meluncur deras kayak habis makan soto yang panas dengan sambel ekstra, haha.

Namun, semua itu akan terbayar saat masuk KRL, adem, lumayan buat ngilangin keringat. Walaupun demikian, kendala teknis juga kadang ada, beberapa waktu lalu, sore hari yang ramai, mungkin orang-orang sudah ingin pulang, gerbong KRL yang AC nya mati pun penuh sesak dengan penumpang. Wah, udah kayak berada di kaleng sarden beneran. Himpit-himpitan, keringat bercucuran, sebesar jagung bakar, halah, haha.

Lalu selanjutnya dengan suara-suara yang ada stasiun, jika stasiun MRT, akan jarang terdengar pengumuman dari pihak stasiun. Semisal pengumuman posisi kereta ada dimana, berapa lama lagi datangnya, kecuali beberapa pengumuman penting yang memang harus diumumkan. Jadi, saat kita menanti datangnya kereta, sudah tertera layar monitor yang menunjukkan berapa menit lagi kereta akan datang, biasanya 3 sampai 5 menit. Penumpang pun merasa nyaman dengan proses menunggu itu, karena jelas dan ada kepastian.

Kalau di stasiun KRL, sebelumnya, memang terus terang kita lebih nyaman naik KRL daripada naik angkot atau metromini yang harus berjuang melawan kemacetan, namun, keadaan di stasiun terkadang membuat gerah dengan keberisikan yang ada. Hampir tiap 3 sampai 5 menit ada saja pengumuman. Sebenarnya yang diumumkan itu sedikit, namun sering diulang-ulang. Mulai dari peringatan agar penumpang waspada karena ada kereta yang akan melintas, padahal sudah ada petugas keamanan yang berjaga di sepanjang stasiun, dan pengumuman yang paling sering adalah, pengumuman keberadaan kereta, semisal kita menunggu di stasiun UP, maka kereta yang baru sampai di Manggarai sudah diumumkan, ketika kereta sudah berjalan dan baru sampai Tebet, diumumkan kembali, padahal kereta yang akan melintas jumlahnya tidak hanya satu, dan juga tidak satu arah, karena kereta yang menuju arah berlawanan juga diumumkan, aduh, betapa berisiknya hal ini. Kalau saya boleh usul sih hal ini diganti saja dengan papan monitor yang menunjukkan letak serta perkiraan waktu kedatangan saja, kan lebih nyaman, baik tentang kepastian bagi calon penumpang dan turut serta menjaga kesehatan telinga dari suara-suara yang tidak pelan itu.

Pernah suatu ketika saya bergurau, bertanya kepada teman saya, itu mbaknya yang ngomong terus lewat pengeras suara apa gak capek ya, haha, hampir tiap saat ngomong, jadi kalau mbaknya itu kerja 7 jam sehari, maka hampir selama 7 jam itu kerjaannya paling banyak ya ngomong itu tadi, memang bukan ngomong ngrumpi yang gak jelas, ya memang pekerjaannya ya itu, ngomong, memberitahukan, memeringatkan, dan lain sebagainya.

Yah, kalau mbaknya itu ceriwis ngomong terus, mungkin sama juga dengan saya yang menulis sepanjang ini, kan kalau saya ngomong, bisa saja saya lebih ceriwis, iya kan mbak?

Kota Kembang, 2 Juni 2014, 11.09 AM

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: