Siang-Siang Berisik

28 Apr

#Turn On 102

18 Maret , bulan kemarin, adalah tanggal terakhir saya mengunggah tulisan di dunia maya. Setelah itu, saya memang lanjut menulis, namun menulis resume dan jawaban dari berbagai pertanyaan yang ada disebuah buku yang dipinjamkan oleh rekan kerja saya disini.

Sebuah buku yang lumayan tebal, walaupun sampai saat ini saya baru menyelesaikan 8 dari 24 bab yang ada, yang berjudul “The Human Body In Health And Disesase”, edisi ketujuh, terbitan tahun 1992 oleh J.B. Lippincott Company, Philadelphia.

Wah, 8 bab itupun memakan waktu lebih dari dua bulan, lama juga ternyata ya. Haha. Namun, satu hal yang pasti, walaupun keseluruhan isi dari buku ini menggunakan bahasa inggris, namun bagi saya pribadi, yang kemampuan bahasa inggris saya masih sedang-sedang  saja, alhamdulillah saya masih bisa mengikuti. Hal itu karena saya membekali diri dengan tiga alat, pertama, kamus inggris ke Indonesia, kedua, kamus inggris ke inggris, ketiga kamus kedokteran.

Ketiga hal ini bukanlah berupa buku yang tebal-tebal, melainkan tiga aplikasi yang saya download di Google Playstore. Jadi selalu bersama saya asalkan handphone saya bawa, hehe.

Sungguh nyaman membaca sebuah buku yang memberikan penjelasan yang lengkap, hal ini memang saya bandingkan dengan beberapa buku terbitan lokal yang pernah saya baca saat masih kuliah dulu. Entah, semakin membaca malah semakin bingung, entah karena bukunya yang agak sulit dipahami, atau karena saya yang agak sulit memahami bukunya ya, haha. Entahlah.

Membaca sebuah buku, terkadang dianggap sepele bagi sebagian orang, itu juga yang saya lakukan saat masih kecil dulu. Kalau ada PR membaca sering saya kesampingkan, ah, kan hanya membaca, besok pun kalau disuruh maju pun saya juga pasti bisa. Kan hanya membaca, rangkaian huruf yang berjejer-jejer itu pun tidak perlu saya baca dulu saat di rumah. Begitu pikir saya saat masih kelas dua atau tiga sekolah dasar dulu.

Namun, anggapan saya tersebut ternyata keliru. Salah besar. Memang membaca adalah sebuah proses yang bagi lingkungan kita, yang sekolah ada dimana-mana, pendidikan bertebaran di sekitar kita, orang  yang mengajari ada di sekeliling kita, malah kita anggap remeh. Coba bandingkan dengan daerah yang belum tersentuh pendidikan, yang kebutuhan untuk bisa membaca saja masih belum terpenuhi, sekali saja mereka bisa membaca, maka mereka akan berusaha sampai ke tahap memahami, bukan sekedar membaca.

Ada sebuah tulisan yang mungkin ada kaitannya dengan hal ini, tulisan dari sebuah penulis ternama yang menulis tentang mata, otak dan hati. Begini ceritanya,

Semisal di suatu tempat, sebut saja rumah sakit, di dalam ruangan gedung yang ber AC, dan beberapa tempat umum lainnya, dan disitu ada tulisan yang berbunyi “Dilarang Merokok”, maka akan ada tiga hal yang terjadi.

Pertama, mata, organ satu ini berfungsi sebagai salah satu indra yang bertugas untuk melihat. ketika ada orang yang bisa menggunakan matanya untuk membaca tulisan itu kemudian dia masih merokok di tempat itu, maka jelas-jelas orang ini seperti tidak punya mata. Jelas-jelas tulisan itu terpampang jelas dan besar, bisa dibaca dari kejauhan, eh, dia masih saja kebal-kebul disitu. Ini adalah sebuah pemahaman dasar dari proses membaca. Tolong digaris bawahi, baru membaca.

Kedua, otak, organ yang satu ini akan sangat panjang dibahas ketika menyentuh area keilmuan anatomy dan fisiology, apalagi patofisiology. Namun, secara sederhana, kita semua mengerti jika organ yang ada di dalam tengkorak kita ini berfungsi untuk berfikir. Kita semua, yang sudah bisa membaca saya kira pasti sudah bisa memikirkan juga, kalau rokok itu berbahaya. Bukan hanya untuk perokoknya saja yang disebut perokok aktif, namun, orang-orang yang ada di sekeliling perokok aktif lah yang menanggung resiko lebih berbahaya, apalagi jika ada balita atau anak kecil yang daya tahan tubuhnya masih rentan, yang kesemuanya itu menjadi bagian dari perokok pasif. Jika ada orang yang sudah punya mata sekaligus punya otak, membaca tulisan “Dilarang Merokok” itu masih saja ngebut ngisep rokoknya, berarti sudah terlihat jelas, orang tersebut seakan tidak punya mata sekaligus tidak punya otak.

Ketiga, hati, organ yang satu ini memang secara fungsi bertugas antara lain sebagai toksifikasi, menetralkan racun yang ada di dalam tubuh saat proses pencernaan. Namun, jika dalam hal ini, hati kita bahas sebagai sebuah organ yang berfungsi sebagai perasa, kaitannya dengan perasaan, bukan lantas sebagai organ tubuh saja. karena kita sering melihat orang yang tidak peduli dengan orang lain dicap sebagai orang yang tidak berperasaan, tidak punya hati.

Nah, jika orang yang menggunakan hatinya, membaca dan berfikir tentang bahanya merokok, orang itu pasti setelah membaca lantas berfikir bahwa rokok itu, selain berbahaya bagi kesehatan, juga merugikan secara materi. Coba bayangkan berapa rupiah yang dikeluarkan untuk dibarter dengan sebungkus rokok?, itu baru dari sisi materi yang jika rupiah yang digunakan untuk rokok itu masih bisa dipergunakan untuk hal lain. Yang lebih bermanfaat. Dari sisi kesehatan, asap rokok yang bertebaran dimana-mana akibat seorang saja yang merokok, misal terkena anak balita, yang usia hidupnya masih lama, lalu anak itu terkena penyakit, dan orang tua anak itu dalam kondisi tidak berpunya, apakah sang perokok itu mau menanggung biaya kesehatan anak itu jika sakit dalam jangka waktu lama. Entah pernah terpikirkan atau tidak. Atau lebih jauh lagi, jika anak sendiri yang terkena dampaknya, apakah sang perokok ini masih bisa bilang, “Dasar orang yang merokok tidak berperasaan!!!”, entahlah.

Yang jelas, jika ada orang yang utuh memiliki mata, otak, dan hati masih bisa seenaknya berkebal-kebul tidak peduli di area yang sudah tertulis jelas larangan itu. Maka anda bisa simpulkan sendiri. Orang tersebut sudah jelas kehilangan ketiganya. Seakan sudah tidak punya mata, otak, dan hati.

Maaf kalau tulisan kali ini agak sarkas. Padahal pengennya tadi nulis yang lucu-lucu aja, haha.

Ya, beginilah kalau sudah menulis, ide awal bisa kemana-mana, malahan yang ingin dituliskan saat sebelum nulis bisa hilang entah kemana. Haha.

Ya wes, yang jelas, membaca itu ya tidak hanya membaca. Mungkin sebagian besar orang bisa melakukan hal yang namanya membaca, namun, ada hal lain yang perlu kita lakukan saat proses membaca itu sendiri. Ya, memahami. Karena tanpa memahami, akan terjadi hal lucu seperti salah satu adegan Silencer di film 3 Idiots, masih ingatkah Anda saat ia menghafal tanpa memahami, saat dia membawakan pidato yang isinya telah diubah Rancho menjadi pidato yang menjelek-jelekkan Rektor bahkan menteri yang hadir disitu. Haha. kalau ingat film itu jadi pengen nonton lagi.

Sudah siang, saatnya siap-siap berangkat jaga. Karena saya hari ini jaga siang, ada operasi apa nanti ya?

Salam buat semua, semoga kenikmatan membaca dan memahami selalu terlimpah kepada kita semua.

Adios, Kawan.

Batam, 28 April 2014, 12.00 WIB

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: