Tembok Itu Bernama Malu

18 Mar

#Turn On 100

Sore hari, menjelang senja, adalah salah satu saat yang paling menyenangkan untuk dibuat apa saja. Dalam arti, kegiatan di luar rumah, entah sekedar berada di teras, ngobrol, atau melihat mentari yang perlahan-lahan terlihat tenggelam dari bangunan yang tinggi, atau yang lebih menyenangkan lagi, melihatnya dari bibir pantai, duhhh, pasti sangat menyenangkan.

Namun, kali ini saya belum akan bicara tentang pantai dan pesonannya, mengingat saya sekarang sedang berada di daerah pulau yang dari asrama sampai ke pantai terdekat kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit. Wah, bagi yang suka ke pantai bakalan senang tuh, hehe.

Terkadang, dalam belajar, apapun yang dipelajari, rasa malu adalah salah satu penghambat paling besar. Dalam hal memulai sebuah percakapan, terutama untuk melancarkan berbicara bahasa asing, bahasa inggris misalnya, rasa malu adalah sebuah tembok yang harus didobrak.

Beberapa saat yang lalu, saya diajak oleh para jamaah masjid yang berada di dekat asrama untuk menghadiri sebuah acara tasyakuran. Sebuah keluarga yang bertempat kira-kira 20 meter dari masjid. Saya kira, ini seperti tasyakuran-tasyakuran biasanya yang ada, datang, dipimpin oleh imam masjid untuk membaca syrah yasin, lalu berdoa, ramah tamah dengan keluarga yang punya hajat sambil makan makanan yang dihidangkan, lalu pulang.

Namun, kali ini beda, yang punya rumah adalah orang Pribumi yang menikah dengan orang bule. Dua-duanya muslim semua. Yang perempuan dari Jakarta, yang laki-laki dari Inggris. Nama daerahnya saya lupa, agak susah penyebutannya.

Ketika masuk ke rumah tersebut, saya merasa senang sekali. Entah senang karena apa saya belum tahu, yang jelas senang aja, haha. Tasyakuran hari itu adalah acara ulang tahun anak kembar mereka, si Andrew dan Matthew, cowok kembar berusia setahun enam bulan. Balita yang mulai berjalan, mulai belajar bicara, dan lagi aktif-aktifnya. Jadi, saat pembacaan yasin di rumah tersebut, cowok kembar ini muter-muter di sekeliling tamu undangan. Entah mereka heran melihat yang datang kok berkulit gelap semua kali ya, haha. Karena dua anak ini sangat dominan mewarisi gen bapaknya yang asli Eropa.

Setelah acara selesai, saya menempatkan diri untuk pamitan paling akhir. Inilah yang saya rencanakan dari awal. Saya ingin meminta ijin jika beliau berkenan, saya ingin datang lagi untuk sekedar mengobrol. Saat itu, disamping saya ada bapak imam masjid. Sejenak, saya hanya memperkenalkan diri dan meminta ijin untuk datang lagi kalau ada waktu luang. Dan jawaban dari beliau adalah, “Silahkan datang kapan saja, selama saya di rumah, akan sangat senang kalau ada tamu yang berkunjung.”

Dan saya meminta ijin untuk datang besok sorenya. Beliau menyetujui. Awalnya saya ragu untuk meminta ijin tersebut. Namun, tidak mengapa mencoba. Dan akhirnya saya mendapat jawaban yang menyenangkan.

Esok sorenya, saya datang. Saya dipersilahkan masuk dan ditawari ingin minum apa. Suatu sambutan hangat yang berkesan. Air putih saja, saya katakan.

Saya dipersilahkan duduk. Kami pun mulai mengobrol. Lebih tepatnya, saya bertanya sedikit da beliau bercerita lebih banyak. Masih agak pata-patah dalam mengobrol. Maklum. Baru pertama bertemu, haha. Namun, diselingi si kembar yang bertingkah iseng membawa sandal saya masuk. Suasana pun berangsur menjadi cair. Obrolan pun menjadi semakin enak. Dan saya banyak belajar dari beliau. Logatnya masih bisa saya mengerti, namun entah beliau, mungkin penggunaaan bahasa saya masih kacau, namun masih bisa dimengerti juga. inilah salah satu cara saya untuk belajar bahasa inggris disini. cari bule, minta ijin untuk ngobrol, dan langsung ngobrol saja, haha.

Namanya bahasa, kalau hanya dibaca saja namun tidak dipraktikkan ya lama mudengnya.

Beliau bercerita bahwa dulunya adalah mantan militer selama sebelas tahun dan polisi selama tujuh tahun. Dan saat ini, beliau bekerja di sebuah oil company yang sekarang sedang melakukan proyek pengeboran di lepas pantai di sebuah wilayah di Malaysia. Beliau adalah seorang Engineer atau yang kita kenal dengan insinyur permesinan. Tugansya adalah melakukan penyiapan lahan dengan menggunakan robot untuk menilai tempat yang akan dibor itu layak atau tidak. Jadi, dia mengntrol robot untuk melakukan hal itu. setelah dinyatakan tempat itu bisa dibor, maka tim pengebor akan datang dan dia bersama timnya akan pindah tempat lagi.

Setelah melakukan pekerjaan selama delapan minggu, makan biasanya dia akan mendapat jatah libur selama tiga minggu. Hal inilah yang disukai oleh keluarganya. Jadi saat liburan, full buat keluarga. Bermain sepuasnya dengan si kembar. Haha. kalau ingat si kembar jadi ingin kesana lagi.

Lalu, tetangga asrama kami. Sebelumnya saya belum tahu mereka berasal darimana. Yang jelas, mereka bule dan tinggal berdua bersama istrinya. Mereka mengontrak rumah yang berada persis disamping asrama kami sekitar dua bulan lalu. Dan selama itu saya ingin sekedar berbicara dengan mereka. Ketika mereka sedang bersantai di beranda lantai dua, mereka sering melakukannya saat senja dan pagi hari. Ketika matahari sudah tidak terlalu menyengat. Saat itu pula terkadang saya agak malu untuk memulai menyapa. Padahal mereka, beberapa kali, menyapa orang-orang yang lewat, menyapa sekedar mengucapkan selamat pagi, good morning, atau ucapan selamat sore.

Dan, beberapa hari lalu, saat sore hari, ketika melihat mereka sedang bersantai, saya mencoba menyapa mereka. Salah seorang diantara mereka menyampaikan bahwa mereka kurang bisa berbahasa Indonesia. It’s ok. Saya bilang saya bisa bahasa inggris.

Lalu, dari beranda lantai dua. Sang suami turun. Menyapa saya. Saya mengutarakan maksud saya untuk sekedar mengobrol jika tidak mengganggu pekerjaan mereka. Mister Niel, namanya. Dengan ramah mempersilahkan saya duduk di bangku di teras rumahnya.

30 menit menjelang matahari tenggelam. Kami mengobrol. Mereka dari Australia, datang kesini karena ada misi kemanusiaan. Mereka adalah relawan. Mungkin, kalau bahasa orang sini, kami berbicara ngalor ngidul, karena memang baru pertama kali itu juga bertemu.

Salah satu cerita yang membuat saya terkesan adalah perbandingan jumlah penduduk Australia dengan Jakarta, bukan Indonesia. Jakarta yang luasnya kalah jauh dengan Australia yang gede nya gak karuan itu, mempunyai jumlah penduduk sekitar 25 juta, sedangkan Australia sendiri, yang sudah bisa disebut sebagai benua, jumlah penduduknya sekitar 23 juta. Lah, kok beda jauh ya.

Salah satu sebabnya adalah, Australia yang walaupun luasnya jauh melebihi Jakarta itu, hanya ditinggali di bagian pinggiran saja, terutama di kota-kota besarnya saja. semisal Melbourne, Adelaide, dan beberapa lagi. sementara bagian tengah dan utaranya, yang dekat dengan negara kita itu, kosong melompong, gak ada penduduknya. Lah kok bisa?. Hal ini disebabkan sebagian besar bagian itu adalah tandus, berbatu, dan tidak mendapatkan curah hujan. Jadi, menurut cerita beliau, kalau kita naik pesawat yang melintasi Australia dan melewati bagian itu, maka yang terlihat hanyalah daerah yang kosong.

Dan obrolan pun kami lanjutkan sampai adzan maghrib berkumandang. Saya menyampaikan terima kasih atas waktunya sekalgus pamit karena sudah waktunya shalat maghrib.

Memang, saya menyadari penggunaan bahasa inggris saya masih kacau, tapi setidaknya, minimal oleh dua bule itu, saya bisa berkomunikasi. Berarti masih bisa dimengerti, haha. Oke, semoga lain waktu bisa mengobrol dengan mereka lagi. Karena, jika mereka punya waktu luang, saya bisa belajar “ngomong” lagi, haha.

Yang jelas, tembok yang bernama “malu” itu sesegera mungkin harus segera dirobohkan.

Batam, 23 February 2014, 00.01 AM

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: