Superman atau Superteam?

18 Mar

#Turn On 101

Mengawali tulisan ini dengan mengetik lalu menghapusnya, mengetik lalu menghapusnya lagi, lalu mengetik dan menghapusnya kembali. Memang demikian adanya. Maklum, sudah hampir satu bulan lebih tidak memposting tulisan, jadi kangen juga, tapi ya itu juga, karena kemampuan yang kemarin sudah hampir rutin dipupuk (emang kemampuan apaan yak?), maksudnya, kalau kemarin kan rajin memposting tuh, setiap beberapa hari sekali bisa nulis, seminggu bisa dua sampai tiga kali memposting, dan memasuki tahun 2014 ini, intensitasnya memang menurun, kalah sama binatang yang bernama malas dan memang ada sedikit tambahan pekerjaan sih, hehe.

Okelah, setelah beberapa lama tidak menulis, kali ini saya ingin mengungkapkan kegalauan saya, haha. Karena salah satu Suhu dari penulis ternama di negeri ini pernah bilang kalau keadaan yang sedang galau, gundah, gulana, dan sejenisnya itu bisa menambah produktivitas suatu tulisan.

Kalau dipikir memang iya sih, coba lihat ratusan karya, entah itu mulai puisi, lagu, cerita di buku-buku, banyak yang ditelurkan dari keadaan galau. Puisi yang sangat menyentuh, yang biasanya berkaitan dengan cinta dan patah hati, kan dibuat oleh mereka yang benar-benar lagi lagi dalam keadaan itu. Kata-katanya bisa sangat lembut, bisa juga sangat menusuk, namun pas bagi orang yang mengalaminya, dan juga, lagu-lagu yang banyak dinyanyikan orang, mulai dari di panggung-panggung pertunjukan sampai musisi jalanan. Semua bisa menyaksikan hasil karya dari keadaan galau tersebut, sampai ada yang menyanyi dengan lirik memohon menghapuskan ingatan juga. Wah, kalau habis nyanyi terus ingatannya hilang beneran kan ya gak lucu. Habis nyanyi, memang lupa sih sama mantan, tapi lupa juga nama dirinya, dimana ia sekarang, dan kenapa tiba-tiba ia bisa disitu. Nah loh!

Eits, tapi tulisan kali ini tidak akan meneruskan paragraph sebelumnya, walaupun memang asyik untuk dibahas panjang lebar, hehe. apalagi tentang hapus menghapus ingatan itu, haha. Nah, jadi lupa kan mau nulis apa ini. hmmmpt….

Alhamdulillah inget. Jadi, kali ini saya ingin membagi suatu obrolan saat dulu ikut dalam pertemuan mahasiswa saat saya masih kuliah dulu. Topiknya seputar Superman dan Superteam. Apa itu. okeh, here we go…

Saya yakin, hampir tiap orang yang hidup antara tahun 1930 an sampai hari ini pernah menyaksikan apa itu manusia super, atau lebih kita kenal dengan nama Superman. Yang paling terakhir kemarin, yang keluar di bioskop sebelum bulan ramadhan tahun lalu, yang dibintangi oleh aktor inggris, dengan nama Buminya Clark Kent saat diasuh oleh orang Bumi yang bernama Jonathan Kent dan Martha Kent, karena kan dalam ceritanya si Superman ini orang dari planet Krypton, yang namanya disana Kal-El, mungkin nama El tersebut adalah nama marganya dia, karena bapaknya nama Jor-El, haha, saya bisa diserang fans nya Superman nih kalau salah tulis. Tapi, saya juga tidak akan membahas panjang-panjang tentang Superman di film ini, karena saya yakin dengan seyakin-yakinnya, sudah ada ratusan orang yang melakukannya, coba saja tanya mbah google, pasti langsung dijawab, hehe.

Yang akan saya angkat disini adalah tentang sifat dari kata superman itu sendiri. Malah jadi bingung ya?, oke, mari kita lanjutkan. Superman secara arti bebasnya adalah manusia super. Dan dalam cerita aslinya, baik di komik, radio, film, dan macem-macemnya, dia itu sendiri. Memang asyik menyaksikan cerita sang manusia super ini dalam beraksi menumpas kejahatan, ditembak gak mempan, ditusuk kebal, dibanting seperti digelitikan saja, namun sangat kontras saat kata superman ini dimasukkan dalam suatu kerja kelompok atau organisasi.

Dalam suatu kelompok, jika ada orang yang beranggapan dirinya adalah superman, maka akan bisa dilihat yang timbul bukanlah suasana yang kondusif, tapi malah sebaliknya, kacau balau. Karena jika sudah ada yang beranggapan seperti ini, maka si superman ini akan beranggapan dirinya lah yang paling kuat, paling benar, paling berkuasa, yang lain? Nanti-nanti lah, siapa sih loh, emang loh bisa apa, gak tau apa kalau saya ini superman, hahaha.

Dan kalau ada yang orang beranggapan menjadi superman, bisa juga kita ganti dengan kata superwomen, tergantung sifat ini muncul di orang berjenis mana, memegang tampuk suatu kepemimpinan, maka yang akan timbul kemudian adalah perpecahan. Karena orang dengan jenis ini akan kekeh dengan pendapatnya sendiri, karena saking kebalnya, maka pendapat dari bawahannya pun susah memasuki pikirannya, apalagi hatinya, karena sifat super ini juga telah melindungi hati dan pikirannya. Seperti perisai yang kasat mata namun sangat kuat. Susah ditembus.

Karena saking supernya juga, bisa jadi orang yang sudah dikuasai oleh sifat ini, selain gemar menyalahkan, dia menjadi orang yang tidak mau disalahkan. Berbeda dengan Superman yang ada di film itu, kalau yang di film, dia akan melindungi orang-orang yang ada disekitarnya, namun, kalau orang biasa yang merasa mempunyai sifat superman ini, bisa menjadi kebalikannya, bisa terbalik-balik, bisa seenaknya sendiri dengan apa yang dibicarakan apalagi yang diputuskan.

Intermezzo, kok jadi tegang banget, haha, teringat saat itu kami mendiskusikan hal ini, tidak terasa waktu sudah hampir shubuh. Jadi kangen bertemu kalian lagi, Kawan.

Hal-hal yang demikian akan sangat berbeda tatkala system superteam diterapkan dalam suatu kelompok. Memang, dalam team ini tidak ada yang superman, semua dalam kapasitas rata-rata, tidak terlalu menonjol, namun mempunyai kemauan untuk maju bersama, dan yang lebih penting, tidak ada seorang pun yang memiliki sifat superman, apalagi menjadi superman beneran. Buat apa coba. Haha.

Superteam, memang tidak mudah diwujudkan, namun tidak mustahil dibentuk. Hal ini akan sangat memengaruhi hal apa saja yang ada dalam kelompok tersebut. Mulai dari kinerja yang ringan sampai jika ada permasalahan yang berat, jika diselesaikan dalam kelompok yang kompak, maka insyaallah jalan keluar akan segera didapat.

Halah, ngomong apa to saya ini, haha.

Bisa jadi saya ngomongin diri saya sendiri, karena saya dulu juga pernah mendapatkan kecelakaan untuk menjadi sebuah pimpinan di organisasi kampus, namun, bila ada yang merasa kurang enak dengan tulisan saya kali ini, saya minta maaf, minta maaf, dan minta maaf.

Dalam suatu bacaan yang saya baca, pernah ada tulisan yang menyebutkan, tulislah apa saja daripada tidak menulis apa-apa. Selamat malam, semoga hari-hari kita, yang manis, pahit, asem, asin, ini bisa menjadikan kita semakin tumbuh dewasa, semakin tidak cengeng, dan menjadikan pribadi kita ini tidak menjadi pribadi yang kagetan, karena dengan membaca apa saja, membaca bacaan serta membaca lingkungan, maka diri ini akan semakin mengerti makna dari perjalanan yang kita lakukan ini.

Hayyah, sok bijaksana ya, hehe.

Ya wes, adios……

Batam, 18 Maret 2014, 09.36 PM

Arsyad Syauqi

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: