Sebuah Telepon Dari Seberang

18 Mar

#Turn On 99

Baru beberapa saat yang lalu, Ibu saya telpon. Lebih tepatnya telpon tapi pas ada saudara yang lagi telpon juga, jadi tulisan “menunggu” pun menghiasi layar hape ibu saya di seberang sana. Pas mau saya angkat, mati, waktu panggilnya selesai. Wah, harus segera telpon balik, apalagi kalau telpon malam-malam begini, karena biasanya saya ataupun orang tua kalau telpon, waktunya kalau gak pagi ya siang, lah ini, malam. Jadi, ada apa?

Segera saya hubungi balik, nada tut, tut pun terdengar, seketika, waktu penghitung di layar hape mulai bergerak, telpon diangkat. Suara agak gaduh terdengar di seberang sana, ternyata ada beberapa saudara yang berkunjung, namun sudah mau pulang, kok saya tahu? Lah Ibu yang kemudian bercerita, bercerita panjang setelahnya, hehe.

Memang ada beberapa agenda yang cukup padat beberapa hari ini, sehingga saya belum bisa menghubungi orang tua. Yang biasanya, minimal tiga hari sekali saya menghubungi, cerita kesana kemari, bercanda, dan ini, hampir empat hari saya belum bisa menghubungi. Bisanya yang kirim SMS kalau mau berangkat bekerja saja. Pamitan.

Salah satu kesenangan saya adalah mendengarkan panjang lebarnya cerita dari Ibu, kalau Bapak, ceritanya seperlunya saja, pendek-pendek, tapi berisi semua, banyak nasehatnya, hehe. Kalau Ibu, bisa apa saja diceritakan. Mulai dari kegiatan sehari-hari, mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur, mulai dari cerita adik saya yang lagi berlajar di Pondok Madani sampai mbak saya yang anaknya lagi imut-imutnya, lagi gemes-gemesnya, juga lagi bandel-bandelnya, haha.

kalau sudah seperti ini, saya jadi merasa bersalah dulu pernah merasa jauh dari orang tua padahal fisik saya lagi dekat, dalam arti masih sekolah di dekat rumah. Entah, apa yang saya pikirkan kala itu, sangat jarang sekali waktu untuk orang tua. Yang ada, kegiatan, kegiatan, dan kegiatan.

Terkadang, urusan untuk orang tua menjadi nomor kesekian setelah kegiatan yang ada di sekolahan. Entah apa ada salah satu kawan yang pernah mengalami hal yang sedemikian, bagaimana rasanya juga?, Duhhhh…

Haha, malah jadi curhat seperti ini. Oke, poin apa yang hendak menjadi topik kali ini?, saya kira sebagian sudah ada yang bisa menangkapnya. Menangkap ide yang masih samar-samar, karena saya pun masih meraba-rabanya, hehe.

Saya kira, sebagai orang tua, mereka selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Entah orang tua itu dari latar belakang apapun. Semisal, ada orang tua yang (maaf) mempunyai pekerjaan mencopet, yang hal itu sangat bisa dipastikan merupakan hal yang tidak disukai orang lain, pasti menginginkan anaknya untuk tidak menjadi seperti dirinya, yakni mencopet. Semisal lagi, ada orang tua yang (sekali lagi maaf) mempunyai pekerjaan sebagai “kupu-kupu malam”, apa ya dia ingin anaknya menjadi seperti dirinya. Saya kira, semua orang tua yang mempunyai anak, pasti ingin anak-anaknya mempunyai kehidupan yang lebih baik dari mereka. Kalau kehidupan mereka sudah baik, mungkin, mereka menginginkan kehidupan anak-anak mereka menjadi lebih baik lagi.

Nah, demi mewujudkan hal ini, tidak jarang, atau saya katakan saja, hampir bisa dipastikan, sebagian besar orang tua akan bekerja keras untuk menjadikan anak-anaknya untuk bisa mengenyam pendidikan yang baik. Karena, hal yang bernama “pendidikan” ini, bagi mereka, para orang tua, merupakan salah satu hal yang dipercayai bisa merubah nasib anak-anak ini. Bisa memberikan jaminan masa depan yang cerah.

Coba perhatikan sudah berapa usia kita saat ini. yang sudah masuk sekolah dasar, yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah menengah pertama, yang sedang mengerjakan karya tulisa ilimah di sekolah menengah atas, yang sedang sibuk dengan ujian praktik diploma tiga nya, yang sedang menyusun proposal skripsi untuk gelar sarjananya, dan masih banyak lagi.

Memang, tidak bisa kita sama-ratakan, kita buat pukul rata, namun, kita bisa melihat tidak semua dari kita membiayai hidup kita sendiri, apalagi membiayai pendidikan kita sendiri, banyak juga yang biaya hidup, biasa pendidikan, biaya kesehatan, dan biaya-biaya yang lain masih ditanggung orang tua kita.

Sedikit-sedikit bilang, Bu, ada perlu ini. lalu, Bu, bayar biaya ini. lalu, Bu, Bu, dan Bu yang lain. Saya sadari, ada beberapa dari orang tua kita yang masih bergaya 70 sampai 80 an, yang sebagian besar menulis SMS pun ogah, kata penghalus dari mereka yang tidak bisa, sehingga, hape-hape zaman sekarang yang sudah sampai bergelar “Smartphone” pun menambah keogahan mereka untuk membuka-buka. Karena mereka percaya pada anak-anaknya. Percaya anak-anaknya bisa diberi amanat. Percaya anak-anaknya bisa dipercaya. Percaya anak-anak mereka bisa, setidaknya tidak merepotkan mereka.

Duhh, kok malah nulis seperti ini. BIarlah. Mumpung tulisan ini mengalir apa adanya.

Apa saya terlihat seperti orang yang baik setelah menulis seperti ini?. Duh, mohon jangan diartikan seperti itu. Justeru saya menulis seperti ini, dan bisa dibaca banyak orang, karena ini menjadi salah satu instropeksi bagi saya khususnya, kalau ada yang merasa dengan tulisan ini, saya pun tidak tahu, karena masing-masing dari kita pasti mempunyai masalah masing-masing yang mungkin berbeda.

Yang jelas, untuk saat sekarang, saya senang menjadi lebih dekat dengan orang tua walaupun fisik ini lagi jauh. Walaupun mereka di seberang pulau sana, dan saya di pulau orang ini, semoga hal-hal baik yang menjadi doa selalu tersampaikan.

Kalau dulu masih zamannya surat dan perangko, saya kira orang tua kita akan sangat senang dengan tulisan kita yang berlembar-berlembar yang bercerita tentang apa yang kiranya kita lakukan tiap hari selama di perantauan. Yah, kalau sekarang, saya kira hal itu bisa dipersingkat dengan menekan nomor 081 sekian sekian, hehe.

Batam, 12 Februari 2014, 11.00 PM

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: