Negeri Dongeng : Ayam Jantan, Kucing, dan Sabit

26 Jan

#Turn On 97

Hai, hai, selamat siang semua, bagaimana kabar Kawan semua hari ini?, semoga senantiasa sehat dan energik selalu. Sudah hampir dua minggu saya tidak menggerakkan jari-jari ini untuk memencet tuts-tuts keyboard lagi, haha, jadi kangen rasanya. Okelah, mari menulis. Ada sebuah cerita dari beberapa cerita yang menurut saya bagus untuk dibaca.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah cerita rakyat yang ditulis oleh James Reeves, siapakah dia? Kalau yang satu ini, Kawan bisa bertanya langsung sama Mbah Google, insyaallah akan banyak informasinya. Saya akan mencoba menulis ceritanya dengan bahasa saya sendiri, semoga bisa dipahami, hehe.

Cerita itu berjudul Ayam Jantan, Kucing, dan Sabit. Mungkin beberapa dari Anda sudah pernah membacanya. Oke, here we go..

Suatu masa di negeri antah berantah, tinggallah seorang petani dan tiga orang anaknya. Pak Sugeng namanya (Kalau di cerita asli, nama petani itu adalah Mattew, tapi ini kan saya yang nulis, jadi saya rubah namanya jadi nama Jawa saja, hehe), dan ketiga anaknya yang bernama Juni, Juli, dan Agus. Mengapa nama anaknya bisa urut seperti nama bulan begitu, ah, tidak perlu panjang lebar penjelasannya, sekali lagi, suka-suka saja. Boleh jadi, ketiga anak itu memang lahir di bulan seperti nama mereka, Juni lahir di bulan Juni, Juli lahir di bulan Juli, dan Agus lahir di bulan Agustus (kalau nama asli di cerita adalah Peter, John, dan Colin).

Pak Sugeng adalah petani yang sudah tua. Tubuhnya sudah lemah, bahkan untuk kemana-mana saja ia perlu bantuan anak-anaknya. Istrinya sudah beberapa tahun yang lalu meninggal. Pak Sugeng memiliki kehidupan yang cukup baik, walaupun memang ia jarang menabung. Dengan kondisinya yang mendekati ajal, ia berharap bisa mewariskan sesuatu untuk ketiga anaknya.

Ketika kematiannya semakin dekat, dia memanggil ketiga anaknya. Ia berkata dengan lirih, “Tidak akan lama lagi Aku akan meninggal. Tidak banyak yang bisa kuwariskan kepada kalian bertiga, tapi, milikku adalah milik kalian juga. Juni, peliharalah ayam jantan yang berjengger merah dan berbulu hijau keemasan.”

“Kau, Juli,” lanjut Pak Sugeng, “Ambillah kucingku. Meski tidak terlalu tampan, tapi ia merupakan pemburu tikus yang ulung. Di mana ia tinggal, tempat itu pasti aman dari tikus.”

“Lalu Kau, Agus, Aku hanya bisa memberimu sebuah sabit. Dengan ini aku dulu sering memetik jagung dan menyiangi rumput selama bertahun-tahun. Ini merupakan sabit yang baik. Ambillah, semoga kau beruntung.”

“Kalian bertiga, dengarkan Bapak baik-baik, boleh jadi, warisan ini bukanlah barang yang mahal, tapi, pergilah kalian ke tempat yang belum mengenal hewan dan alat tersebut. Suatu saat, kalian pasti akan menyadari betapa berharganya benda-benda tersebut.”

Lalu Pak Sugeng menutup mata untuk selama-lamanya.

Anak pertama, Juni, membawa ayam jantan itu pergi. Ia menuruti saran Bapaknya. Namun, kemanapun ia pergi, sudah banyak orang yang memelihara ayam, sehingga banyak dari mereka tidak tertarik dengan ayam jantan yang dibawa oleh Juni. Lihatlah, sebagai penunjuk arah mata angin saja berbentuk ayam jantan, lalu juga ada di sebuah kota, terdapat patung ayam yang begitu besarnya, terbuat dari emas pula. Dan di sebuah desa yang ia baru mengerti namanya, malahan terdapat ayam hampir di setiap rumah. Ayam-ayam itu dipelihara oleh sebagian besar penduduk. Duh, bagaimanalah urusan ini.

Apakah Juni menyerah. Oh, tidak, Kawan. Kalau menyerah begitu saja, cerita ini pasti juga akan selesai. Hari demi hari berlanjut, begitu pula dengan perjalanan Juni. Sampailah ia di suatu tempat yang belum pernah melihat ayam. Para penduduknya terkesima setelah melihat ayam jantan berjengger merah serta berbulu hijau keemasan.

“Binatang ini memang tampan,” kata penduduk itu, “Tapi, apa kegunaannya, Kawan?”

“Ia akan membangunkan kalian tiap pagi pada waktu yang bersamaan, sehingga kalian bisa tahu kapan waktu untuk bisa memulai bekerja, dan kapan waktu untuk kembali beristirahat,” Jawab Juni. “Percayalah, tidak ada unggas lain yang lebih berguna dibandingkan ayam ini.”

“Kau benar,” kata penduduk itu, “Tapi, apakah ia dijual? Kalau ya, berapa harganya?”

“Aku ingin emas sebanyak yang bisa diangkut oleh seekor anak kuda?”

“Setuju!” kata mereka, Kau pantas menerima banyak emas. “Harga yang pantas untuk unggas sebagus ini.”

Lalu mereka memberikan emas sebanyak yang dimintanya. Lalu Juni pulang seraya menuntun anak kuda yang mengangkut dua buah keranjang. Kanan dan kiri. Yang berisi emas yang berkilauan. Ketika sampai di rumah, saudara-saudaranya merasa kagum.

“Aku juga ingin perg dan mencari untung seperti dirimu, Kak,” ujar Juli. Lalu Juli pergi membawa kucingnya.

Perjalanan dimulai. Di beberapa tempat yang disingghi Juli, terdapat bermacam-macam kucing yang dipelihara penduduk setempat. Bahkan, dari perjalanannya, Juli bisa belajar bermacam-macam kucing yang ada. Beberapa penduduk ada yang menertawakan Juli, menyuruhnya pulang saja. Sudah banyak kucing disini. Namun, tujuannya adalah mencari untung dengan adanya kucing yang dibawanya. Kucing yang akan membasmi tikus-tikus yang ada.

Sampailah Juli di sebuah pulau yang tidak terdapat seekor kucing pun. Duh, bisa dibayangkan betapa merajalelanya tikus di pulau tersebut. Ladang-ladang sering gagal panen. Makanan yang ada di rumah sering dicuri. Dan kerusakan-kerusakan yang lain akibat adanya tikus itu. Penduduk setempat sudah berusaha mengusir tikus-tikus tersebut. Sekeras apapun cara mereka mengusir, tikus-tikus itupun juga bersikeras kembali. Wah, kacaulah segala urusan yang ada.

Saat Juli datang. Ia melepaskan kucingnya, dan dalam waktu singkat. Kucing itu pun mengejar tikus-tikus yang ada. Dengan gagah berani menumpas tikus yang ada (malah kayak ksatria bertopeng ya, hihi). Dengan aksi sang kucing, penduduk setempat terkesima dibuatnya. Mereka telah melihat, betapa bergharganya kucing itu.

“Kucing ini memang tidak tampan, tapi sungguh sangat bermanfaat,” kata mereka. “Berapa harganya?”

“Kalian bisa membayarnya dengan memberikan emas yang bisa diangkut oleh seekor kuda dewasa,” Kata Juli. Mereka menyetujuinya dan dengan senang hati memberikan emas sebanyak yang dimintanya. Lalu Juli pulang membawa emas-emas itu. sampai di rumah, saudara-saudaranya menyambut gembira. Sekarang giliran Agus untuk mengadu nasib. Dengan membawa sabit yang diberikan bapaknya, ia akan mencari untung juga.

Lalu di suatu pagi yang cerah, pergilah Agus untuk mencari untung dengan membawa sabit tersebut. Namun, kemanapun ia pergi, disitu juga banyak dijumpai orang-orang yang membawa sabit. Setiap pagi mereka membawa sabit untuk mencari jerami dan memetik jagung.

“Maukah Anda membeli sabit ini?”, kata agus sambil menawarkan sabitnya. “Ini sabit yang bagus peninggalan ayahku.”

“Kami tahu modelnya yang kuno,” kata orang-orang yang Agus temui. “Sabit kai lebih bagus. Pergilah dan cari orang yang belum pernah mengenal sabit.”

Agus melanjutkan perjalanannya. Sampailah ia di suatu tempat yang menurutnya aneh. Sebuah pulau dengan ladang-ladang jagung yang luas dan banyak meriam yang ada disitu juga.

“Meriam ini digunakan untuk apa ya?” pikir Agus.

Terjawablah pertanyaan Agus ketika ia mendengar dentuman-dentuman peluru meriam saat ditembakkan. Ternyata meriam itu digunakan penduduk setempat untuk memanen jagung. Lihatlah, jagung-jagung berhamburan, beterbangan, juga banyak yang hancur. Bagaimana tidak, lihatlah cara mereka memanen jagung. Setelag jagung siap dipanen, meriam-meriam itu digunakan untuk menembak ladangnya. Bum, bum, bum. Suara-suara itu terdengar.

“Oh, jadi begini cara mereka memanen ladang,” gumam Agus dalam hati.

Ia melihat jagung-jagung di ladang itu menjadi serpihan, tak jarang juga ada bagian ladang yang terbakar karena terkena bole meriam yang panas.

Sekaranglah kesempatan Agus. Tak banyak cakap, ia menebang semu jagung di bagian ladang yang belum dipanen. Ia melakukan hal itu sebelum para penduduk menggunakan meriam untuk memanen hasil ladang itu. dengan mengetahui hal itu, para penduduk menjadi senang dan menanyakan harga sabit itu.

“Sabit itu jauh lebih berharga dibandingkan meriam,” ujar mereka. “Suatu penemuan yang bermanfaat, sungguh bermanfaat.”

Agus mengatakan sabit itu bisa mereka miliki, bila ditukar dengan emas satu gerobak penuh. Bagaimana dengan penduduk itu?. Tentu saja mereka bersedia. Akhirnya Agus pulang dengan membawa emas yang lebih banyak daripada kedua kakaknya. Emas satu gerobak.

Setibanya di rumah, Agus disambut oleh kedua kakaknya dengan sukacita. Dengan emas yang mereka miliki, akhirnya mereka tanah yang digunakan untuk bercocok tanam. Tanah untuk bertani dengan ukuran yang luas yang bisa mereka gunakan bekerja dengan tenang. Hidup mereka rukun. Dibalik keberhasilan mereka, tak lupa mereka membeli tiga hal. Ayam jantan untuk membangunkan mereka pada waktu pagi hari. Lalu memelihara seekor kucing untuk menjaga gudang-gudang mereka dari gangguan tikus. Pada waktu panen, mereka dan para pekerja menggunakan sabit untuk memanen jagung  yang mereka tanam, tak pernah sekalipun terpikirkan oleh mereka untuk menggunakan meriam untuk memanen. Hehe.

***

Masih ada beberapa cerita lagi, insyaallah lain kali saya akan share lagi. selamat siang semua buat semua saja. Semoga keberkahan senantiasa menaungi kita semua.

Batam, 26 Januari 2014, 11.45 AM

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: