Cerita tentang Adi dan Ibunya

1 Jan

#Turn On 94

Pergantian malam yang meriah. Perayaan pergantian tahun, yang kalau diperhatikan, tak ubahnya pergantian hari selasa ke hari rabu. Berbagai acara digelar, berbagai hidangan disuguhkan, berbagai janji baru diucapkan, berbagai evaluasi kegiatan dilakukan, berbagai resolusi ditancapkan.

Pergantian hari yang diwarnai dengan berbagai kembang api yang memenuhi langit, apalagi di pusat-pusat kota yang tumpah ruah masyarakat dari berbagai golongan, bersorak ramai, bersuka cita, tak peduli rintik hujan bahkan deras hujan melanda. Bagi sebagian besar mereka, hal ini sayang untuk dilewatkan, hal ini jarang terjadi setiap hari, hal ini merupakan sebuah perayaan atas berbagai hal yang mereka alami.

Mereka, yang sedang melakukan liburan sekolah, beramai-ramai datang dengan teman serta para sahabat, mereka, yang penat dengan berbagai pekerjaan harian, letih dengan berbagai masalah dan problema yang terjadi setiap hari, penat dengan hal sepele yang terkadang memicu perkara yang berlarut-larut, mereka, yang lelah dengan posisi pimpinan, kepemimpinan yang digunakan sebagaimana mestinya maupun yang disalahgunakan, kepemimpinan yang digunakan untuk memberikan kebaikan bagi sekitar maupun yang digunakan untuk dalih sebagai perampasan hak sekitar, mereka, yang sedang menjalani masa menunggu panggilan pekerjaan, segala daya upaya telah dikerahkan, berbagai tes dan interview telah dilakukan, bersujud dan berdoa juga tak dilewatkan, mereka semua, tumpah ruah dalam tempat-tempat ramai, mata mereka berbinar-binar melepaskan beban walau untuk sesaat bersamaan dengan kembang api yang kian benderang mewarnai langit, bersama ribuan bibir yang tersenyum, “Inilah kemerdekaan kami!”, begitu barangkali apa yang mereka pikirkan.

Dalam momen seperti ini, yang terjadi setiap tahun, semenjak tahun yang berdasar dari siklus berputarnya bumi mengelilingi matahari ini dinamakan, semenjak 2013 tahun silam, hal ini tak ubahnya sebuah masa penantian yang panjang, sebuah masa menunggu, menunggu akan pergantian tahun, dimana semua hal ditumpahkan, suka, duka, yang hampir setahun dipendam, dikeluarkan bersamaan perayaan kembang api yang hampir dilaksanakan oleh sebagian besar penduduk di seluruh belahan bumi ini. Masa penantian akan kehidupan yang lebih baik, oleh banyak orang. Ya, kehidupan yang lebih baik.

Masa penantian, hampir semua orang merasakannya. Bagi mereka yang sedang libur sekolah, hari ini adalah masa-masa penantian datangnya hari masuk sekolah mereka kembali. Bagi mereka yang sedang libur bekerja, hari ini merupakan salah satu hari penatian mereka masuk kerja kembali. Bagi mereka yang sudah mendapat panggilan kerja, hari ini merupakan masa penantian untuk datang melakukan tes beserta wawancara. Bagi mereka yang sudah melakukan tes serta wawancara, hari ini merupakan masa penantian (serta berharap) untuk dipanggil kembali, untuk bergabung dengan pihak yang mengadakan seleksi. Bagi mereka yang sedang berdagang, hari ini adalah hari-hari penantian datangnya janji dari Ilahi Rabbi atas rizki mereka. Bagi mereka yang akan mengikrarkan janji suci, hari ini adalah masa penantian bagi kedua mempelai akan datangnya hari yang telah diharapkan sebelumnya. Bagi mereka yang sedang dirundung kesedihan, hari ini adalah bagian dari masa pengobatan oleh sang waktu, penantian hari esok dan berharap kesedihan itu akan terhapuskan oleh sang waktu yang terus bergerak. Bagi mereka yang sedang galau berkepanjangan, hari ini adalah masa untuk memikirkan apakah galaunya itu akan membangun dirinya kearah lebih baik atau justeru sebaliknya, merusak sejadi-jadinya. Ah, semuanya ini tentang masa penantian tentu saja kawan.

Bicara tentang “penantian” ini, ada sebuah cerita menarik tentang Adi yang sedang menunggu ibunya yang sedang berbelanja di pasar.

Suatu hari di kota antah berantah, Adi, yang saat itu masih berusia sepuluh tahun, masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, diajak ibunya pergi ke pasar. Ibunya akan berbelanja untuk keperluan mingguan keluarga tersebut.

Sesampainya di pasar, Adi diminta ibunya untuk menunggu di luar. Tidak diajak masuk. Ibunya hanya berpesan bahwa ia akan ke dalam pasar untuk kira-kira satu jam. Pesan ibunya hanya itu. Adi diminta untuk menunggu.

Nah, kira-kira apa yang akan dilakukan Adi?

Ada beberapa hal yang menjadi pilihan Adi ketika ia dimita ibunya untuk menunggu. Semua pilihan itu akan saya tuliskan, dan pembaca sekalian silahkan memilih sendiri apa hal yang terbaik untuk Adi lakukan.

Pertama, ketika ia diminta ibunya untuk menunggu di luar pasar. Selama satu jam, bisa saja ia bengong. Tidak melakukan apa-apa. Hanya diam. Mematung. Hanya melihat lalu lalang orang yang lewat. Meski ia tidak melakukan apa-apa, toh dia tetap menjalani apa yang dinasehatkan ibunya. Ia tetap menjadi anak baik dan penurut.

Kedua, ketika ia diminta ibunya untuk menunggu di luar pasar. Selama satu jam, bisa saja ia mengajak bicara para penjual yang ada disekitarnya. Ada berbagai penjual makanan yang ada di dekat tempat Adi untuk menunggu ibunya sampai keluar. Ada penjual es cendol, es dawet ayu, keripik tempe, keripik pisang, dan berbagai macam penjual yang lain. Dengan mengajak bicara, boleh jadi ada kemungkinan Adi untuk mendapatkan ilmu baru, tentang pembuatan berbagai macam jajajan pasar tadi, sekaligus mendapatkan kenalan baru, yaitu para penjual itu, disamping itu, ia tetap menjalankan perintah ibunya untuk tetap menunggu ibunya sampai keluar dari pasar.

Ketiga, ketika ia diminta ibunya untuk menunggu di luar pasar. Selama satu jam, bisa saja ia melihat ada kakek-kakek, atau nenek-nenek, atau berbagai orang yang lalu lalang itu kepayahan membawa barang yang mereka beli. Bisa saja ia membantu orang-orang yang kepayahan tersebut untuk membawanya ke tepai jalan raya, untuk kemudian dinaikkan ke angkutan atau bus kecil untuk membawa para pembeli itu kembali ke rumah mereka. Dengan demikian, tetap ia patuh dengan nasehat ibunya, untuk menunggu, dan ia pun bisa menjadi bermanfaat bagi sekitar. Dengan membawakan barang orang-orang yang kepayahan tersebut.

Dan Anda bisa menmbahkan sendiri jika ada pilihan-pilihan lain yang memungkinkan dilakukan Adi selama ia melakukan “penantian” ibunya yang sedang berbelanja.

Cerita Adi, tak ubahnya apa yang sebagian besar kita jalani. Kita juga sedang melakukan “penantian” untuk berbagai hal yang kita nanti. Yang jelas, jikalau kita sudah memasuki masa remaja, maka penantian untuk menjadi semakin menua adalah hal yang jelas akan datang dalam fase kehidupan kita. Akan menjadi hal yang amat disayangkan jika usia kita semakin beranjak namun kedewasaan belum juga kita raih. Seperti salah satu nasehat seorang guru, “menjadi tua itu adalah kepastian, namun menjadi dewasa adalah sebuah pilihan”. Untuk menjadi tua, boleh jadi kita tak perlu melakukan apa-apa, membiarkan saja sang waktu terus berputar, terus bergerak, jika memang usia kita terus berlanjut, maka akan menjadi tua-lah kita. Namun, jika masa-masa dari remaja-muda ini tidak diisi dengan pembelajaran, maka tubuh ini hanya akan menjadi tua tanpa menyentuh kedewasaan.

Apapun yang terjadi, selalu ada kabar baik buat kita Kawan. Kita bisa memilih, kita bisa menjadi Adi dengan pilhan pertama, kedua, atapun ketiga.

Sebagai penutup catatan kali ini, tak lupa doa saya ucapkan untuk kebaikan kita semua. Semoga selalu ada pembelajaran dalam kehidupan yang kita jalani. Dimanapun kita berada. Karena, dinihari rabu tadi, pasti banyak doa yang terucap, untuk diri sendiri maupun orang banyak. Doa di rabu di waktu dini hari yang meriah. Karena jarang-jarang hari rabu dirayakan semeriah ini bukan?

Batam, 1 januari 2014, 12.48 PM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: