Jalanan Yang Luas dan Kebun Teh

28 Des

#Turn On 93

Keindahan lukisan alam, terlukiskan dengan sempurna, dipadu dengan bingkai yang amat memesona, membuat siapapun akan takjub bila memandangnya. Ciptaan yang maha sempurna ini, tentu saja dicipatakan oleh Sang Maha Sempurna.

Di pagi yang indah ini, diantara berjuta-juta pagi yang telah lewat dan yang akan datang, diantara berjuta-juta pagi yang telah menunjukan indah pesonanya, segar dan semilir angin yang membelai, dan masih ada rahasia demi rahasia dari pagi-pagi yang akan datang, alangkah baiknya kita selalu mengucapkan rasa terima kasih kepada Sang Maha Sempurna, rasa syukur yang mendalam, meresap diantara hati-hati kita, dengan doa dan harapan yang setiap hari terucap dalam lisan maupun hati kita.

Mentari pagi, senantiasa menepati janji, datang dengan membawa kasih sayang penciptaNya, memberikan kehangatan dan kelembutan, membelai setiap makhluk hidup yang ada, memberikan pancaran energi yang tiada terkira. Mentari pagi, entah mengapa seakan begitu cepatnya datang dan pergi, seperti setiap rasa yang ada dalam sanubari insan di permukaan bumi ini. rasa suka, duka, cinta benci, marah, kecewa, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, rindu, dan berbagai hal yang dirasakan manusia. Begitulah, mentari datang dengan waktu yang silih berganti, dan beberapa hari lagi, tahun ini akan mengalami pergantian juga, beberapa hari lagi, mentari akan menapaki waktu yang baru lagi.

Menikmati suasana menjelang datangnya mentari di pagi hari, keindahan pelangi yang mengelilingi bulan sayang untuk dilewatkan. Moonbow atau pelangi bulan, memang tidak setiap saat terlihat, seringnya hanya saat purnama, namun tidak serta merta kehilangan pesonanya tatkala bulan sedang tidak bundar, saat separuh bankan menyabit, sesekali pelangi ini terlihat, aduhai, sungguh memesona.

Menikmati hari-hari menjelang pergantian tahun, dengan begitu banyak hal yang terlah terjadi hampir setahun ini, rasa-rasanya baik bagi masing-masing dari kita memikirkan apa yang telah terjadi, lebih tepatnya, apa yang telah terjadi pada diri ini selama hampir setahun ini, apakah banyak kemajuan dari tahun sebelumnya, atau ada hal-hal yang sekiranya menjadi penghalang atas kemajuan diri ini. Lalu, selama setahun ini, sudah jalan-jalan kemana saja kah kaki ini?

Seakan, tanpa terasa, catatan ini sudah memasuki hari-hari di penghujung tahun ini, sudah sampai tanggal dua puluh delapan bulan desember tahun ini. Dulu, saat pertama kali menulis, saya memulai dengan sajak-sajak (itupun kalau bisa disebut dengan nama sajak, wong saya hanya menulis saja), lalu ingin mencoba hal lain, dengan tulisan bebas, jadilah #Turn On ini sebagai media selanjutnya. menulis dan menulis, dengan interval antara tiga hari sampai tujuh hari ada satu tulisan yang saya posting di dunia maya, mengenai apa saja, tulisan dengan tema yang tidak terikat, menulis apasaja yang saya rasakan, tentang kegundahan, kesenangan, doa, harapan, cita-cita, dan masih banyak hal lain.

Saya ingat salah satu nasehat seorang guru yang berkata,

“Pergilah melihat dunia, kunjungi lembah-lembah luas, lereng-lereng gunung. Datangilah padang-padang rumput, padang-padang pasir. Lihatlah kota-kota gemerlap, desa-desa damai tenteram. Bukan karena dengan begitu, kita akan mengerti banyak hal. Bukan pula kita akan jadi lebih tahu banyak hal. Apalagi jadi punya koleksi foto-foto keren di tanah orang. Di atas segalanya, saat kita kembali, sungguh, kita akan menjadi ‘orang yang berbeda’. Jangan habiskan waktu di jendela rumah/kantor/kendaraan yg sama setiap hari. Apalagi jangan habiskan waktu di jendela HP, laptop gagdet saja. Perjalanan menunggu di luar sana.”

Saya pegang erat nasehat itu, boleh jadi itu adalah salah satu motivasi saya untuk melakukan perjalanan ini, yang jelas perjalanaan panjang masih ada, masih banyak jalan-jalan, tebing-tebing, area perkotaan yang ramai, tanah-tanah pedesaan asri yang boleh jadi belum pernah kita datangi.

Lalu, bagaimana kalau kepenatan, kebosanan tiba-tiba melanda?, tenang, ada juga nasehat untuk hal ini juga,

“Apakah kita merasa hidup ini membosankan? Menyebalkan? Di rumah banyak sekali larangan. Dilarang ini, dilarang itu. Di sekolah/kampus juga banyak sekali yang harus dikerjakan, ini itu. Di kantor apalagi, itu-itu saja, disuruh-suruh, masalah muncul tidak ada habisnya.

Apakah kita merasa hidup ini terlalu banyak peraturan? Mau itu nggak boleh, mau ini nggak boleh. Kenapa sih? Kenapa orang nggak boleh bebas, mau ngapain kek, mau apalah kek. Terserah masing-masing. Bukannya dikit-dikit teeett, awas loh. Dikit-dikit, hei, jangan loh.

Apakah kita merasa terkungkung dalam hidup ini? Apakah demikian?

Saya tidak mahir memberikan solusi hal ini. Karena toh, saya juga sering bosan, sebal, terbatas, terkungkung oleh banyak hal. Maka, saat perasaan itu hinggap di hati, membuat beban pikiran, mengganduli langkah kaki, saya memutuskan untuk memikirkan banyak hal menakjubkan tentang dunia ini. Salah-satunya, yg mungkin bermanfaat bagi kalian, jika lagi sebal, saya suka memperhatikan kebun teh. Pernah pergi ke kebun teh? Melihat hamparan pohon teh?

Duhai, tidakkah kita semua tahu, seumur hidupnya, pohon teh itu dibonsai. Tidak bisa tumbuh semau dia. Tidak bisa tinggi semau yg dia inginkan. Pohon teh itu terus menerus, secara sistematis, konsisten, dibonsai oleh manusia. Dipetik daun atasnya, tumbuh dikit, dipetik lagi daun atasnya, tumbuh dikit, dipetik lagi. Maka lihatlah nasibnya yg malang, pohonnya ‘kekar berotot’ karena proses pembonsaian jangka panjang. Bukan cuma bulan, melainkan bertahun-tahun lamanya hingga akhir hayatnya. Tidakkah pohon-pohon ini kepengin lebih tinggi? Agar bisa menghirup udara pegunungan lebih lega, agar bisa menatap lembah-lembah luas berkabut lebih nyaman? Sayangnya, ribuan jumlahnya, nasibnya terus dibonsai, agar menghasilkan sesuatu yang amat spesial. Terhidang di meja-meja dari meja bermain menyeduh teh anak-anak hingga meja ratu Inggris. Diminum mulai dari orang-prang pinggiran, hingga bangsawan.

Itulah pengorbanan pohon teh. Pohon yang wujudnya di benak kita semua hanya sepinggang saja. Padahal aslinya, kalian pernah melihat tinggi pohon teh asli? Yang tumbuh tanpa di bonsai? Kalian akan takjub melihatnya. Tapi sudahlah, itu tidak penting. Boleh jadi pohon teh bahagia dengan jalan hidupnya.”

Untuk sekarang ini, saya masih belajar untuk menjadi pembaca dan pendengar yang baik, kedepan, saya berharap, dan untuk itu saya mohon doa dari kawan-kawan semua, semoga kelak saya bisa membuat tulisan yang baik, tulisan yang berguna, tulisan yang layak dan perlu dibaca orang lain, bukankah saling menasehati dalam hal kebaikan merupakan salah satu anjuran dalam agama kita, Kawan?.

Selamat berakhir pekan di akhir tahun ini, Kawan. Dimanapun kalian berada, semoga Sang Maha Pencipta senantiasa memberikan pikiran yang jernih, dada yang lapang, fisik yang sehat, dan keberkahan di setiap langkah kalian semua.

Insyaallah tanggal 31 nanti saya dan teman-teman disini akan mengikuti turnamen pingpong di rumah salah satu teman sejawat kami, sekalian kumpul-kumpul syukuran akhir tahun, hayooo, siapa mau ikut?.

Batam, 28 Desember 2013, 06.54 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: